<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294</id><updated>2011-07-07T18:45:54.338-07:00</updated><title type='text'>Bencana</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-7686897327117389858</id><published>2011-03-03T10:50:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:34:54.028-07:00</updated><title type='text'>Situasion Report Dentuman dan Pergerakan Tanah di Lereng Gunung Wilis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;A. Pengantar&lt;/strong&gt;Negara : Indonesia&lt;br /&gt;Lokasi : Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur&lt;br /&gt;No. Laporan Situasi : 2&lt;br /&gt;Tanggal Pelaporan : 3 Maret 2011&lt;br /&gt;Sumber Data: Tim Karina Posko Madiun, Rm. Made Hadiprasetyo, Pr dan &lt;a href="http://www.detik.com/"&gt;http://www.detik.com/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pembuat Laporan : Rm. A. Luluk Widyawan, Pr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Gambaran Umum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Latar Belakang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara dentuman dan pergerakan tanah di lereng Gunung Wilis disertai retakan tanah terjadi di Trenggalek, Ponorogo, dan Nganjuk. Data yang masuk di Dinas Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) Jawa Timur, fenomena alam juga terjadi di 3 kabupaten lain, yaitu Madiun, Tulungagung dan Bojonegoro. Fenomena alam yang diduga terjadi karena faktor kegempaan tersebut, mulai muncul sejak awal Januari 2011 di Kabupaten Ponorogo dan Madiun. Disusul pada awal Februari di Trenggalek, Nganjuk, Tulungagung dan Bojonegoro yang sama-sama di berada lereng Gunung Wilis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab kejadian berantai ini sesuai hasil penelitian Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) karena adanya sumber gempa berkekuatan 0,5-3 mmi pada kedalaman 3-5 kilometer di Nganjuk. Sedangkan berdasarkan penelitian oleh Balai Besar wilayah III Stasiun Geofisika Kelas II BMKG Tretes, Pasuruan, fenomena tersebut dianggap sebagai gempa tektonik di kedalaman kurang dari 33 Km. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung menyebut kejadian tersebut sebagai dampak pergerakan tanah lambat. Hasilnya, suara dentuman tersebut berasal dari gempa tektonik dengan kedalaman kurang dari 33 kilometer, yang merambat dari Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek ke arah barat daya. Suara dentuman itu muncul karena gesekan pergeseran lempeng bumi Eurasia, Australia, dan Pasifik. Suaranya bisa muncul ke permukaan karena di sana wilayah pegunungan. Dari rangkaian kejadian aneh tersebut, ESDM Jatim belum bisa memberikan rekomendasi saran tindakan kepada daerah yang merasakan getaran dan dentuman. Sejauh ini hanya ada imbauan permintaan agar masyarakat tidak resah dan ditambah masukan untuk menutup retakan dengan tanah liat apabila memang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berdasarkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan, suara dentuman dalam dua hari terakhir maksimal hanya terjadi 2 kali dalam sehari. Kondisi ini merupakan penurunan drastis dibandingkan awal kemunculannya, di mana intensitasnya mencapai 25-30 kali, Selasa (1/3/2011). Mulai hilangnya suara dentuman dan getaran tersebut secara tak langsung juga menjadikan warga tak lagi merasakan was-was, untuk lebih meyakinkan masyarakat jika kejadian tersebut tak berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Populasi Terdampak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari kejadian dentuman dan getaran tersebut, di Nganjuk terjadi retakan tanah di Desa Margopatut, Kecamatan Ngetos. Di Trenggalek, lokasi terparah dentuman dan getaran yang ditandai dengan terjadinya tanah retak terjadi di Kecamatan Kampak. Selain itu ada 7 kecamatan di Trenggalek yang mengalami dentuman dan getaran, namun yang paling rawan dan di kawasan perbukitan adalah 4 kecamatan, yaitu: Kecamatan Dongko, Kampak, Watulimo dan Munjungan. Intensitas dentuman juga dilaporkan meningkat, yaitu lebih dari 25 kali dalam sehari. Di Ponorogo, kejadian yang sama juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Ngebel dan Pudak yang lokasinya paling dekat dengan Gunung Wilis. Getaran tersebut mampu menggetarkan kaca-kaca rumah penduduk dan warga Desa Bandarejo sehingga terkadang harus tidur di dekat pintu keluar atau teras untuk berjaga-jaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 2 minggu, kejadian tersebut terjadi, warga merasa resah. Namun belum ada laporan kerugian materiil atau korban jiwa dalam kejadian tersebut. Di Nganjuk retakan tanah di lereng Gunung Wilis, sebagian di antaranya sudah menjadi longsoran. Bencana yang lebih besar dimungkinkan bisa terjadi setiap saat, dan sekitar 6.022 jiwa warga yang bermukim di sekitarnya terancam menjadi korban. Data di lokasi munculnya retakan permukaan tanah, yaitu di Desa Margopatut, Kecamatan Ngetos, Nganjuk terdapat sekitar 500 jiwa yang tergabung dalam 103 KK. Sementara di Desa Kepel, Kecamatan Sawahan terdapat 5.522 jiwa. Kedua desa tersebut diperkirakan akan merasakan dampak paling parah jika lereng Gunung Wilis ini longsor. Termasuk 3 desa lain dengan jumlah penduduk yang tak kalah padat, di antaranya Desa Kebonagung, Siwalan dan Kuncir. Sedangkan di Trenggalek, saat ini juga dilaporkan sudah terjadi kerusakan, salah satunya tanah retak di sekitar rumah warga Desa Timahan, Kecamatan Kampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Kebutuhan&lt;/strong&gt;a. Pendataan dan pemetaan wilayah rawan bencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Respon Pemerintah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Melakukan penelitian fenomena dentuman dan getaran&lt;br /&gt;b. Menghimbau masyarakat tidak resah dan meyakinkan masyarakat bahwa kejadian tersebut tak berbahaya&lt;br /&gt;c. Menghimbau agar masyarakat menutup retakan dengan tanah liat apabila memang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Respon Karina Keuskupan Surabaya&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;26 Feb – 1 Mar 2011 &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tim ER melakukan koordinasi dengan Pastor Vikep Madiun sekaligus Pastor Paroki St. Paulus, Nganjuk untuk membentuk kontak person di Nganjuk dan mendorong masyarakat sekitar daerah rawan bencana untuk membentuk komunitas siaga bencana. Hasilnya tim menemukan 3 titik longsor dan retakan tanah di 3 Kecamatan, serta menunjuk Bp. Paulus sebagai koordinator Posko Nganjuk dan menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat di Loceret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1 Maret 2011&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Rm. Made, melaporkan bahwa di Desa Gamping, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek terjadi retakan tanah seluas 4 ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3 Maret 2011&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tim ER dikoordinir Sdr. Yoseph Hanny Hendra, melaporkan telah berkoordinasi dengan Polsek di Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo dan tidak menemukan retakan tanah di wilayah tersebut. Sedangkan di Kecamatan Pulung, berkoordinasi dengan Camat Pulung dan petugas BMKG Trawas menemukan retakan tanah di Desa Munggung, Dusun Bukur. Tanah seluas 7 ha tanah retak dan amblas sedalam 50 cm. Sebanyak 10 kk mengungsi karena rumah hancur. Demikian pula di Dusun Banaran, rekahan mengancam rumah warga. Pantauan seismograf BMKG rekaman dan getaran tanah berpusat di sekitar Dusun Pulung, Sooko, Singgahan dan Wagir Kidul. Gemuruh masih terdengar sampai siang pukul 12.35, namun demikian Camat setempat berusaha meredam gejolak masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info dari petugas BMKG di Trawas telah terpasang alat pendeteksi gempa di Kecamatan Pulung, Jetis dan 3 alat lainnya di Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek yang disertai pendeteksi cuaca. Namun, belum ada kepastian penyebab suara gemuruh yang berkepanjangan. Rencananya pada 8 Maret 2011 akan diadakan pemaparan hasil penelitian BMKG, PVMBG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini Tim ER sebatas berkoordinasi dan mencari info dari lembaga seperti BMKG, PVMBG dan ESDM. Termasuk melakukan koordinasi dengan local point di lokasi dan berkoordinasi dengan pemerinta setempat tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Secara umum dampak tanah longsor dapat diatasi oleh masyarakat sebagaimana terjadi di Kec. Pulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4 Maret 2011&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FA Yunianta, dari Posko Pare menerima info dari Rm. Made, tentang kondisi di Desa Gamping, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek terjadi retakan tanah seluas 4 ha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;6. Kontak Person&lt;/em&gt;a. Rm. Andreas Andri Nurcahyo, Pr (pastor paroki St. Paulus, Nganjuk)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-7686897327117389858?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/7686897327117389858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/7686897327117389858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2011/03/blog-post.html' title='Situasion Report Dentuman dan Pergerakan Tanah di Lereng Gunung Wilis'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-6173946866975864548</id><published>2011-01-16T11:21:00.001-08:00</published><updated>2011-06-13T15:35:25.210-07:00</updated><title type='text'>Situation Report Penanganan Banjir Trenggalek</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;A. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Negara: Indonesia&lt;br /&gt;Lokasi: Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur&lt;br /&gt;No. Laporan Situasi: 2&lt;br /&gt;Tanggal Pelaporan: 13 Januari 2011&lt;br /&gt;Sumber Data: Tim Karina Posko Pare, Rm. Made Hadiprasetyo, Antaranews.com&lt;br /&gt;Pembuat Laporan: A. Luluk Widyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Gambaran Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Latar Belakang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banjir bandang menerjang sejumlah kawasan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Minggu 2 Januari 2011 malam. Banjir itu sendiri dilaporkan mulai terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Penyebabnya kemungkinan besar hujan yang turun sangat lebat sejak siang sekitar pukul 14.00 WIB. Tingginya curah hujan menyebabkan air yang mengalir dari arah lereng perbukitan berubah menjadi luapan banjir bandang dan menerjang desa-desa di bawahnya. Akibatnya, ratusan rumah terendam. Sebagian bahkan porak-poranda karena tak kuasa menahan terjangan air bah setinggi dada orang dewasa hingga atap rumah. Sebelum ketinggian air mencapai puncaknya pada pukul 17.00 WIB, sebagian warga berhasil menyelamatkan diri dengan berlindung di lokasi yang aman ataupun dengan cara mencari tempat-tempat ketinggian. Namun, mereka kebanyakan tidak sempat mengevakuasi harta benda di dalam ataupun luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada data pasti mengenai korban jiwa ataupun luka-luka dalam kejadian ini, namun berdasar informasi resmi dari humas pemerintah daerah setempat, seorang warga dipastikan tewas karena tak bisa menyelamatkan diri saat banjir bandang menghantam pemukiman mereka. Keterangan secara terperinci dampak banjir belum dapat diberikan oleh tim yang masih berada di lapangan yang masih melakukan evakuasi sekaligus pendataan. Namun jika mengacu informasi sementara, ada tiga kecamatan yang dipastikan terdampak banjir. Air dengan ketinggian mencapai satu meter lebih masih terus mengalir dan menggenangi ratusan pemukiman yang ada di sejumlah desa di Kecamatan Tugu, Karangan, serta Suruh. Desa Jati merupakan yang paling parah terdampak banjir. Selain hampir seluruh kampung terendam banjir, ketinggian air di titik banjir ini dilaporkan mencapai atap rumah penduduk. Desa-desa lain yang juga terimbas banjir di Kecamatan Karangan antara lain adalah Desa Karangan, Kerjo, Sukowetan, Kedung Sigit, serta Desa Sumberingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum diketahui berapa kerugian materiil akibat banjir bandang yang melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Trenggalek tersebut. Namun jika mengacu banyaknya rumah yang terendam, porak-poranda, serta sejumlah jembatan putus, diperkirakan kerugian yang ditimbulkan mencapai miliaran rupiah. Pihak pemerintah daerah dibantu aparat dan warga sampai larut-malam masih terus bahu-membahu melakukan evakuasi dan pertolongan kepada ratusan atau bahkan ribuan KK yang menjadi korban. Sejumlah tenda besar untuk posko penampungan pengungsi mulai didirikan, demikian juga dengan dapur umum dan layanan kesehatan darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Populasi Terdampak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Populasi terdampak banjir terutama ada di sebagian wilayah Kabupaten Trenggalek, yaitu Kecamatan Kampak, Gandusari dan Kecamatan Panggul. Menurut warga Desa Bendoagung Kecamatan Kampak, air mulai masuk rumah sekitar pukul 21.00 WIB. Bencana banjir tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun beberapa infrastruktur rusak. Di Kecamatan Kampak, tepatnya di Desa Bendoagung 2 Jembatan putus, yaitu Jembatan Kedungdowo dan Jembatan Kemiri. Selain itu, Dam Semarangan yang berada di Desa Bendoagung hancur. Sedangkan di Kecamatan Gandusari, Jembatan kabupaten yang menghubungkan Desa Jajar dan Desa Wonorejo, bentangan di ujung timur ambles, sehingga tidak bisa dilewati. Masyarakat setempat dan Pemerintah Desa Jajar, segera membuat jembatan darurat sehingga kendaraan roda 2 bisa melintas. Di Kecamatan Panggul, 2 jembatan dilaporkan putus, yaitu jembatan di desa Barang dan Jembatan Madat di Desa Panggul. Selain itu, talud Jembatan Aren di Desa Panggul ambrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa pagi masyarakat yang terkena banjir, kerja bakti membersihkan lingkungan masing-masing. Bupati setempat memerintahkan Kepala Diinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek, untuk segera membantu masyarakat Desa Jajar membuat jembatan darurat yang lebih kokoh dengan kerangka baja, sehingga lebih aman dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. Kebutuhan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;a. Bahan makanan, sembako&lt;br /&gt;b. Pakaian pantas pakai&lt;br /&gt;c. Alat tulis untuk anak sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IV. Respon Pemerintah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;a. Melakukan evakuasi warga&lt;br /&gt;b. Membuat tenda besar pengungsian, dapur umum dan layanan kesehatan darurat&lt;br /&gt;c. Membantu perbaikan jembatan darurat di Desa Jajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;V. Respon Karina Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;3-4 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Karina Surabaya Posko Pare meneruskan informasi banjir dari informan umat di Stasi Trenggalek kepada Karina Keuskupan Surabaya, Senin, 3 Januari 2011, pukul 21.00. Selasa pagi ketika tim akan meluncur ke lokasi bersama Rm. Made Hadiprasetyo (moderator PSE kevikepan Blitar) dan Rm. Herman (pastor rekan Paroki St. Maria Tak Bernoda Asal Tulungagung) terhalang oleh cuaca buruk. Rabu, 5 Januari 2011 tim bersama dari kevikepan Blitar tersebut membagikan sumbangan kepada 90 kk korban banjir khususnya di RW 1, RT 4 dan RT 5 Desa Jati yang terdampak cukup parah, berupa:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;a. Paket sembako (beras 3 kg, mie 10 bungkus)&lt;br /&gt;b. Alat-alat tulis&lt;br /&gt;c. Pakaian pantas pakai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan tersebut didapatkan dari swadaya antar paroki di kevikepan Blitar yang dikoordinir oleh Rm. Made Hadiprasetyo. Selanjutnya tim dari Karina Posko Pare bersama umat Stasi Trenggalek akan melakukan kajian di lokasi terdampak banjir selama 2 hari yang mengharapkan dukungan transport dari Karina Surabaya. Bantuan akan diberikan dan diusahakan dari swadaya antar paroki di kevikepan Blitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;5-6 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Karina Surabaya Posko Pare bersama relawan Kevikepan Blitar yang dikoordinir oleh Rm. Made Hadiprasetyo menginformasikan bahwa selama 2 hari, tanggal 6-7 Januari 2011 akan kembali ke lokasi bencana di Trenggalek. Kegiatan yang akan dilakukan yaitu mengadakan kajian dampak bencana, penemanan terhadap anak-anak serta kemungkinan untuk membantu perbaikan jalan yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;7 Januari 2011&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Relawan Posko Pare, melakukan kajian di lokasi bencana, tepatnya di di RW 1, RT 4 dan RT 5, Desa Jati. Lokasi tersebut cukup parah terdampak banjir karena dikelilingi oleh 3 aliran sungai. Ketika mencoba mencari data dari pengurus dusun setempat, data tersebut dikatakan hanyut terbawa banjir. Sore harinya, relawan melakukan kegiatan pendampingan bagi sekitar 60 anak di kedua RT. Kondisi anak-anak sangat membutuhkan peralatan sekolah (buku tulis, alat tulis dan seragam) karena semua perlengkapan tersebut terbawa banjir. Masyarakat setempat sempat menyampaikan kebutuhan untuk mendapatkan pendampingan dalam menghadapi bencana, terlebih mengingat daerah tersebut dalam 1 tahun terakhir mengalami 3 kali banjir. Permohonan masyarakat untuk sementara ditampung sebagai masukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;8 Januari 2011&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Sabtu 8 Januari, relawan Karina Surabaya Posko Pare berkoordinasi dengan Bp. Topo, umat Stasi Trenggalek. Mereka diajak menuju ke Desa Jati untuk kerja bakti dan melakukan kajian di daerah Gunung Linggo, di mana terdapat tempat penambangan batu. Lokasi tersebut berada 15 km dari Desa Jati. Dalam perjalanan pulang pada pukul 15.00 terjadi banjir lagi dan masyarakat melakukan evakuasi karena mereka trauma dengan banjir sebelumnya. Hasil kajian akan dibawa pada hari Senin ke Surabaya karena akses internet tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;11 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Setelah melakukan kajian, Karina Surabaya Posko Pare memutuskan untuk membantu pengadaan sak berisi pasir. Sak berisi pasir merupakan sarana yang dikehendaki warga untuk menjadi penopang tepi sungai yang rawan meluap jika hujan deras sewaktu-waktu akan turun. Karina Surabaya akan mendukung pengadaan sak pasir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VI. Kontak Person&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Rm. Herman (pastor rekan di Paroki St. Maria, Tulungagung)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-6173946866975864548?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/6173946866975864548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/6173946866975864548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2011/01/situation-report-penanganan-banjir.html' title='Situation Report Penanganan Banjir Trenggalek'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-5668819124331758942</id><published>2010-10-07T04:51:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T15:35:45.554-07:00</updated><title type='text'>Situation Report Flash Flood On Wandoma Bay District, West Papua Province</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TK22NLfqnbI/AAAAAAAABdk/93u6olcVL38/s1600/wasior-papua-barat.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525272655393627570" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TK22NLfqnbI/AAAAAAAABdk/93u6olcVL38/s200/wasior-papua-barat.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 140px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;I. Introduction&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Country: Indonesia&lt;br /&gt;Place of Incident: Wondama Bay District, West Papua Province&lt;br /&gt;Disaster Type: Flood&lt;br /&gt;Reporting Date: October 6, 2010&lt;br /&gt;Compiled by: Dian Lestariningsih&lt;br /&gt;Source: BNPB, Diocese of Jayapura and Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Background&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Flash floods occur on Monday, around 08:30 CEST on October 4, 2010 Wondama Bay District, West Papua Province. Flash flood is a result of heavy rain continuously for 6 hours since Sunday (3 / 10) night that resulted in Dusner River and River overflowed and flooded Wondama almost all Wondama Bay District.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relentless rain from Sunday through early Monday, causing rivers that disgorge Wondiwoy Mountains are overflowing. In addition to water and mud, bring flash floods and rocks and logs the following roots. As a result, the houses of residents in the left edge of the river destroyed the water washed away.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Area Affected&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Flood hit eight villages, namely Kampung Wasior I and II, Kampung Rado, Mom Kampung, Kampung Maniwak, Manggurai Kampung, Kampung Kampung Wondamawi and Wondiboy.Wasior destroyed the capital district, and to this day of community activities totally paralyzed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasior situation throughout Tuesday night was dark because electricity installations were badly damaged and power outages.Lighting in the post just rely on kerosene lamps. The roads are also impassable at some point the vehicle because there are heaps of rock, and adult waist-high mud. Communication network is also disconnected.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasior airfield does not work, it was reported until Tuesday night (5 / 10) runway flooded waist-high adults.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Affected Population&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The National Disaster Management Agency (BNPB) informed until Tuesday (4 / 10) recorded 56 people dead, 60 people were injured, 52 of them have been evacuated to Nabire, 7 people were evacuated to Manokwari and 1 other person was evacuated out of Papua. Meanwhile, seven people were reported missing.In addition to casualties, the disaster also caused material losses.Data collected by the damage that has recorded 31 houses washed away, 2 schools were severely damaged, 1 heavily damaged the hospital, a mosque was heavily damaged, 1 heavily damaged hotels and 4 bridge silted.Most people displaced in the Gulf of Regents Office Wondama and three other locations in the Village Manggurai. Most of the displaced people while the nearby districts.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;III. Needs&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Drugs&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Clothing&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. Food for infants and children&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Food and Beverage&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;5. Blankets&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;6. Tent&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;7. Soup kitchen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IV. Emergency Response&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Goverment Response&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no road from Manokwari, West Papua's provincial capital, to the Bay County Wondama. To reach isolated areas in the "head bird" Papua, the seas have to travel about 10 hours from Manokwari to ride fleet or naval patrol ships carrying logs fro Wondama-Manokwari Bay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BNPB been handed over ready-made fund of Rp. 200 million to the Governor of West Papua, and this morning, Wednesday (6 / 10) was dispatched at 6:03 logistical assistance weighing 10.5 tons, with details in the form of tents platoon 3 units, 80 units of family tents, tents, rolls of 200 pieces, velbed 60 units , clothing 500 package, kidsware 150 package, 150 package family kits, blankets 100 sheets, 100 sheets and mats ready meals package 2250.Value of logistic assistance is estimated at Rp. 900 million. In addition to logistical support, also delivered medical aid weighing 2.5 tons and a medical team of 7 people from the Ministry of Health. The assistance was transported by plane boeing 737.BPBD province with the element of public works, military and police have been to the location of the disaster using the Navy ship KRI Kalakay and carry equipment and cleaning mud evacuation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Karina (Caritas Indonesia) Response&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. 7 October 2010&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karina still coordinating with the network Karina Diocese of Manokwari-Sorong in with Fr. M. Puji Harsono. From the testimony of Fr. Harsono, transportation to reach the current location can only use the ship or air lines about 5 hours to reach to nearest location, St. Augustine, Manokwari. However, the travel time of the ship could reach the 90-10 hour trip not to mention currently hampered by bad weather. While Fr. Lian from the Diocese of Jayapura periodically provide the latest developments in the situation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. 9 October 2010&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karina KWI Team (Caritas Indonesia), Vivin and Dian arrived in Manokwari on October 8, 2010 at 14.30 pm. They coordinate with Rm. M. Puji Harsono Pr, Parish Council of St. Augustine, Manokwari, young people and all people at night. Rm. M. Puji Harsono and Parish Team has made a good working mechanism, in collaboration with the RRI broadcast to collect aid and specific Mass intentions through a collection of the 2nd during the emergency response.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On October 9, Vivin move into Wasior arrived at 08.00 pm with Parish Team coordinate with BPBD Province, Main Post at the Governor's Office plan to aid delivery of Karina and its network. Coordination is necessary because the situation has not yet recovered Wasior (lack of clean water, food and electricity).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesterday, in coordination with Indonesian Humanitarian Forum and Disaster Community Care of West Papua in the Parish of St. Augustine, the data obtained from BPBD Manokwari Province: 95 people died, 87 people were seriously injured, 1095 people were lightly injured, 76 in the search. At Friday night, refugees in the field Korem Manokwari about 2,000 people, following the arrival of two ships from Wasior (previously only 859 refugees). They consist of about 1,000 people who live in makeshift tents in the field. Among them were 69 children (0-12 months), 150 children (1-10 years), pregnant women and elderly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Based on data Wasior Disaster Management Unit yesterday, there were 124 deaths were found, 123 people missing, 181 people were seriously injured and 2,000 slightly injured. Patients were seriously injured and can not be handled in Wasior referred to Manokwari. The refugees in Manokwari about 1.859 people, Nabire about 223 people and Wondama about 2.283 people. (&lt;em&gt;source: Karina KWI and Kompas.com&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;V. Contact Person&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Fr. M. Puji Harsono (Parish Priest of St. Agustinus, Manokwari): 081344720779&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-5668819124331758942?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5668819124331758942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5668819124331758942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2010/10/situation-report-flash-flood-on-wandoma.html' title='Situation Report Flash Flood On Wandoma Bay District, West Papua Province'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TK22NLfqnbI/AAAAAAAABdk/93u6olcVL38/s72-c/wasior-papua-barat.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-4962504204152894883</id><published>2010-09-01T03:52:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T15:36:05.204-07:00</updated><title type='text'>Relokasi Rumah Bencana Tanah Longsor, Dusun Bukul, Desa Wates, Kec. Slahung, Kab. Ponorogo</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TI4EiS_YweI/AAAAAAAABc8/laPGtsg-jWg/s1600/pendataan+warga+terancam+longsor.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5516351580835201506" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TI4EiS_YweI/AAAAAAAABc8/laPGtsg-jWg/s200/pendataan+warga+terancam+longsor.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TI4EiBKOt3I/AAAAAAAABc0/hJsqfBQVdtA/s1600/IMG_4457.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5516351576048842610" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TI4EiBKOt3I/AAAAAAAABc0/hJsqfBQVdtA/s200/IMG_4457.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TI4Ehnn5O8I/AAAAAAAABcs/WOIJitq7u6M/s1600/IMG_4446.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5516351569193941954" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TI4Ehnn5O8I/AAAAAAAABcs/WOIJitq7u6M/s200/IMG_4446.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;I. Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dusun Bukul terletak di Desa Wates, Kec. Slahung, Kab. Ponorogo. Tempat ini terletak di sebelah Selatan Kab. Ponorogo yang tepatnya berada di jalur Ponorogo menuju Pacitan. Secara geografis Dusun Bukul berada di lereng perbukitan yang membentang di sebelah Selatan Kabupaten Ponorogo, memiliki kontur tanah gembur dan sedikit terdapat sumber air. Pada umumnya, air sangat sulit diperoleh selama musim kemarau di seluruh wilayah Kec. Slahung. Penghidupan sebagian besar masyarakat Dusun Bukul adalah bertani, sebagian besar penduduknya memiliki tanah dengan luas kurang dari kurang dari 0,5 hektar. Tanah tersebut dijadikan area persawahan dan ladang yang ditanami jahe, kunir dan ketela pohon. Sumber utama penghasilan mereka berasal dari tanah yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang turun selama 4 hari berturut-turut, pada tanggal 14 Mei 2010, telah mengakibatkan tanah longsor di RT 03 / RW 01 Dusun Bukul. Kejadian pada pukul 04.00 WIB itu telah merusak area persawahan dan rumah-rumah penduduk. Hingga saat ini kondisi tanah belum stabil, masih terjadi pergerakan tanah dan warga masih berada dalam ancaman dampak susulan dari longsoran tanah, khususnya mereka yang berada di bawah area tanah longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pemetaan daerah terdampak yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat Karina Keuskupan Surabaya, tanggal 16 Mei 2010 terdapat rekahan tanah di bagian atas bukit hingga ke bawah, berbentuk huruf U. Rekahan atau retakan tanah tersebut menimbulkan longsornya tanah. Saat ini rekahan telah merambat ke arah perbukitan Plethes sejauh 200 meter. Longsoran tanah telah bergerak turun sejauh 200 meter dari tempat awal. Hal ini ditandai dengan bergesernya bekas bangunan rumah yang telah roboh, area persawahan dan pohon-pohon milik warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini warga yang rumahnya roboh masih berada di pengungsian, mereka ditampung di rumah tetangga yang berada di ring 2 lokasi bencana. Mereka mendapatkan bantuan makanan dari sumbangan warga sekitar, pemerintah daerah dan gereja setempat selama 3 bulan pasca kejadian tanah longsor. Warga RT 03 / RW 01 Dusun Bukul yang tergabung dalam Posko Warga telah berusaha untuk merelokasi 4 rumah roboh. Mereka menggunakan sebagian material bangunan bekas rumah yang masih bisa digunakan, seperti kayu untuk atap bangunan, kusen pintu dan jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah yang terdampak bencana RT 03 / RW 03 Dusun Bukul, Desa Wates, Kec. Slahung, Kab. Ponorogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Jumlah Kepala Keluarga: 48 kk&lt;br /&gt;b. Jumlah Jiwa: 144 jiwa&lt;br /&gt;c. Rumah: 37 rumah&lt;br /&gt;d. Mata pencaharian: buruh tani dan petani lahan kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Rumah Rusak berat: 4 unit&lt;br /&gt;b. Rumah rusak sedang: 3 unit&lt;br /&gt;c. Rumah rusak ringan: 2 unit&lt;br /&gt;d. Sawah / Ladang: 7 hektar&lt;br /&gt;e. Sumber air: 4 sumber air rusak tertimbun tanah longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran penerima manfaat dari kegiatan ini adalah empat rumah rusak berat milik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Boyadi&lt;br /&gt;b. Miskam&lt;br /&gt;c. Jadi&lt;br /&gt;d. Hantoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Tujuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tujuan umum:&lt;br /&gt;a. Menyatukan kembali keutuhan keluarga yang terdampak dalam satu rumah.&lt;br /&gt;b. Mendorong tumbuhnya kerja sama dan keguyuban dalam komunitas terdampak&lt;br /&gt;c. Mendorong tumbuhnya kepedulian warga yang tidak terdampak&lt;br /&gt;d. Membentuk kelompok relawan kemanusiaan dari warga dan umat setempat.&lt;br /&gt;e. Melakukan pembelajaran dan praktek lapangan bagi relawan Karina Keuskupan Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan khusus:&lt;br /&gt;a. Terbangunnya 4 unit rumah untuk ditempati oleh 4 keluarga yang rumahnya roboh.&lt;br /&gt;b. Media pembelajaran penanganan bencana bagi relawan dari Paroki Santa Maria Ponorogo, umat Stasi Slahung dan Bukul serta relawan Karina Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. Bantuan Dan Upaya Merelokasi Rumah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Karina Keuskupan Surabaya Posko Madiun&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karina posko Madiun telah berada di lokasi bencana sejak tanggal 16 Mei 2010, mereka melakukan kajian cepat dampak bencana, melakukan upaya pengurangan resiko bencana, mendorong warga untuk berperan aktif dalam mengatasi dampak bencana, mendorong umat paroki Santa Maria Ponorogo, Stasi Slahung dan Paguyuban umat di lingkungan Bukul untuk mengambil peranan dalam penanganan bencana ini. Hasilnya terbentuk Posko Bencana yang beranggotakan warga setempat dan umat Bukul. Hingga saat ini kegiatan Posko Bencana masih berlangsung. Adapun kegiatan yang dilakukan ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memelihara warga terdampak yang mengungsi.&lt;br /&gt;b. Mengupayakan bantuan dengan mengumpulkan dana sumbangan sukarela di lokasi bencana.&lt;br /&gt;c. Melakukan kerjasama, gotong royong bersama elemen masyarakat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Instansi Pemerintah dan TNI / Polri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Koramil Slahung, Polsek Slahung, Pemerintah Desa Wates, Kec. Slahung, para guru dan siswa-siswi SMP Negeri 2 Slahung telah melakukan kerja bakti memindahkan harta benda milik warga terdampak yang masih bisa diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Kelompok / Organisasi lain&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Banser NU Slahung, warga dusun sekitar daerah bencana dan santri Pondok Pesantren&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4. Tindakan persiapan relokasi 4 rumah terdampak&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengumpulkan material bangunan yang masih bisa digunakan untuk membangun rumah yang roboh.&lt;br /&gt;b. Menyiapkan lahan tanah untuk relokasi rumah&lt;br /&gt;c. Melakukan koordinasi dengan Posko Bencana warga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mendatangi lokasi, menindaklanjuti hasil kajian yang dilakukan Tim Karina Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;b. Mengupayakan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan warga terdampak&lt;br /&gt;c. Melakukan koordinasi dengan PSE Keuskupan Surabaya, Vikep Madiun, DPP Paroki St. Maria, Ponorogo, Dewan Stasi St. Maria Ratu Damai, Slahung.&lt;br /&gt;d. Mendorong terbentuknya Posko Bencana Warga Bukul&lt;br /&gt;e. Melakukan pendampingan pada Posko Bencana warga Bukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posko Karina:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Melakukan &lt;em&gt;assessment&lt;/em&gt; cepat&lt;br /&gt;b. Melakukan kajian dampak bencana bersama warga&lt;br /&gt;c. Berkoordinasi dengan Pastor Paroki St. Maria Ponorogo, Dewan Stasi St. Maria Ratu Damai, Slahung dan Ketua lingkungan Bukul, pemerintah setempat: Pemda, Camat dan Lurah dan dengan TNI/Polri&lt;br /&gt;d. Melakukan kajian dan sosialisasi rencan relokasi rumah, menyampaikan hasil kajian yang telah dilakukan bersama warga kepada kepala paroki dan warga&lt;br /&gt;e. Mendampingi warga terdampak dalam proses penanganan bencana&lt;br /&gt;f. Mendampingi proses relokasi rumah.&lt;br /&gt;g. Melakukan kerja bakti penyediaan lahan tanah untuk rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IV. Kontak Person&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pastor Paroki: Rm Yuventius Fusi Nusantara, Pr&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-4962504204152894883?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/4962504204152894883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/4962504204152894883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2010/09/relokasi-rumah-bencana-tanah-longsor.html' title='Relokasi Rumah Bencana Tanah Longsor, Dusun Bukul, Desa Wates, Kec. Slahung, Kab. Ponorogo'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TI4EiS_YweI/AAAAAAAABc8/laPGtsg-jWg/s72-c/pendataan+warga+terancam+longsor.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-8014781409622459200</id><published>2010-08-31T09:44:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T15:36:46.846-07:00</updated><title type='text'>Situation Report: Sinabung's Volcanic Eruption</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TH00uRshvJI/AAAAAAAABa8/h3K35W7WK2w/s1600/sin1.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511619488600145042" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TH00uRshvJI/AAAAAAAABa8/h3K35W7WK2w/s200/sin1.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 138px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TH00t7jfPyI/AAAAAAAABa0/ke82sAph3mM/s1600/sin2.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511619482656653090" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TH00t7jfPyI/AAAAAAAABa0/ke82sAph3mM/s200/sin2.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 139px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;1. Introduction&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a.Country: Indonesia&lt;br /&gt;b.Sitrep #: Sitrep #1&lt;br /&gt;c.Report Period: 30th August 2010&lt;br /&gt;d.Data Source: Field Team Reports, Government Main Post and Media.&lt;br /&gt;e.Reported by: Cordia Caritas Medan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Overview&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Background &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mount Sinabung located in the District of Karo, North Sumatera erupted early in the morning at 00,15 on Sunday 29th August 2010 (source: PVMBG). Previously, Mount Sinabung, 2.460 above sea level, has shown some activities by producing black smoke and thin ash on Friday night 27th August 2010. And since then, the villagers who lived in the villages nearby have started to evacuate themselves to Berastagi and Kabanjahe, in the fear of the mount eruption.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, the information released by Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) stated that the smoke and the ash produced by the volcano was not the signs of volcanic activities and that the situation was secure. This information caused the officials of the District of Karo suggested the refugees to return to their homes. Many of the refugees were going back home in the morning of 28 August 2010, although the mount continued to spew ash clouds. Somehow, in the late night of 28 August 2010, Mount Sinabung showed more activities, and soon after the midnight, the mount erupted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Fr. Cesarius Pr. (the priest of Kabanjahe Parish) that Cordia assessment team met in the evening of 29th August 2010, before the eruption, there was a 5 minutes small scale of earthquake followed by thunder and rumbling sounds. The eruption produced lava and its flow can be seen clearly from Kabanjahe that located around 20 km from the mountain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hearing the rumbling, the villagers who had returned to their homes, got panic and decided to evacuate themselves back in rush. They left the village in unprepared condition. They escaped to Berastagi and Kabanjahe, and stayed in Jambur-Jambur (meeting hall of Karonesse). These Jambur are open building with limited facilities such as public kitchen (fireplace and equipments) and few toilets.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From the rapid assessment conducted by Cordia team who directly observed the location (Lau Kawar area, in the foothills of Mount Sinabung) almost all of the villagers from 14 villages in two sub-districts (Namanteran and Simpang Empat) affected by the eruption have been evacuated. The situation was found very quiet, only few men (villagers) stayed supported by some police officers to keep their villages secured from thieves. Ash from the volcanic eruption was everywhere, covering the streets and plants, even the water sources in radius of 12 km around the volcano. The government has declared that the following 12 villages located within the radius of 6 km around the volcano as Alert 1 (Stand by for eruption): Sigarang-garang, Sukanalu Teran, Bekerah, Simacem, Gamber, Suka Meriah, Kuta Rakyat, Kuta Gugung, Naman, Kutambelin, Kebayaken and Guru Kinayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Affected Population&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Latest data from the government main post:&lt;br /&gt;Died: 1 person&lt;br /&gt;Refugees: 18.987 persons&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refugees’ Composition Place:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posts Total Coordinator&lt;br /&gt;1. Jambur Lige : 4737 persons Kadis Pertanian-081361584951&lt;br /&gt;2. Jambur Adil Makmur : 2105 persons Matius - 081362000848&lt;br /&gt;3. Jambur Tuah Lopati : 1000 persons Sekwan - 08196025024&lt;br /&gt;4. Jambur Sempakata : 505 persons Kaban BPMPD - 08156207515&lt;br /&gt;5. Jambur Dalihan Natolu : 1000 persons Kakan Perizinan -081361491248&lt;br /&gt;6. Jambur Ta Ras Berastagi : 1367 persons Camat Berastagi-081376281259&lt;br /&gt;7. Klasis Kabanjahe (GBKP) : 400 persons Kadis PU&lt;br /&gt;8. DepAg : 200 persons Kadis PU&lt;br /&gt;9. Jambur Pulungen : 750 persons Dispora - 081534992909&lt;br /&gt;10. Losd Pekan Buah Tiga Binanga : 1813 persons Camat Tiga Binanga-081370577664&lt;br /&gt;11. Gedung KNPI : 460 persons Osaka Ginting - 081370108666&lt;br /&gt;12. Losd Singgamanik : 2000 persons Camat Munte - 081973494339&lt;br /&gt;13. Losd Perbesi : 500 persons Camat Tiga Binanga – 081370577664&lt;br /&gt;14. Losd Tanjung Pulo : 650 persons Camat Tiga Nderket – 08126586692&lt;br /&gt;15. Losd Siabang Abang : 500 persons Camat Kutabuluh – 081375240052&lt;br /&gt;16. Losd Kutabuluh : 1000 persons Camat Kutabuluh – 081375240052&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total 18.987 persons&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Governments Response&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The government of North Sumatera Province coordinated with local district government of Karo and local people have prepared evacuation areas and posts for the refugees, in Jambur-Jambur as mentioned above.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So far, the government has provided limited food, maskers, blankets and medical service for the refugees. From the observation of Cordia team, there are some governments institutions such as National Agency for Disaster Management (BNPB), Provincial Agency for Disaster Management (BPBD), Social Department (Dinas Sosial), Health Department (Dinas Kesehatan), National Agency for Search and Rescue (BASARNAS), Indonesian Red Cross (PMI), Indonesian National Army (TNI) and Indonesian National Police (POLRI) get involved in the response under the coordination of the Regent of Karo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;d. Urgent Needs&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From the team observation identified some urgent needs such:&lt;br /&gt;1. Food&lt;br /&gt;2. Food for the babies&lt;br /&gt;3. Mineral water&lt;br /&gt;4. Maskers&lt;br /&gt;5. Blankets&lt;br /&gt;6. Sarongs&lt;br /&gt;7. Mats&lt;br /&gt;8. Medical Service.&lt;br /&gt;9. Sanitations and garbage bins&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;e. Cordia Caritas Medan’s Response&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On 29th August 2010, Cordia team has conducted rapid assessment to collect primary and secondary data for the next action.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;f. Coordination&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the rapid assessment in evacuation area, Cordia Team has coordinated in data collection of affected population and urgent needs with the government main post, Parish Priests of Kabanjahe, PSE KAM and Caritas Network.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;g. Contact Persons:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Caritas Organization of the Archdiocese of Medan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-8014781409622459200?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/8014781409622459200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/8014781409622459200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2010/08/situation-report-sinabungs-volcanic.html' title='Situation Report: Sinabung&apos;s Volcanic Eruption'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TH00uRshvJI/AAAAAAAABa8/h3K35W7WK2w/s72-c/sin1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-1496325855132277833</id><published>2009-11-12T00:19:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:37:18.565-07:00</updated><title type='text'>Situation Report XV, Padang Earthquake</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvvG2n1XIiI/AAAAAAAABPc/k7tLYzSGrHw/s1600-h/p5.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvvG2BGS3zI/AAAAAAAABPM/0U2Sivf95X8/s1600-h/p4.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403130809271115570" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvvG2BGS3zI/AAAAAAAABPM/0U2Sivf95X8/s200/p4.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 148px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvvG1mKD19I/AAAAAAAABPE/XbV7t-5Koc0/s1600-h/p6.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403130802039150546" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvvG1mKD19I/AAAAAAAABPE/XbV7t-5Koc0/s200/p6.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 149px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvvG1vs2zjI/AAAAAAAABO8/fVj5EO-ZEnM/s1600-h/p.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403130804601015858" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvvG1vs2zjI/AAAAAAAABO8/fVj5EO-ZEnM/s200/p.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 148px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Distribusi &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan tanggal 8 November, &lt;em&gt;Caritas Joint Response&lt;/em&gt; sudah berhasil mendistribusikan barang bantuan kepada 5,697 KK di 5 distrik. Secara umum, para penerima manfaat ini mendapatkan 1 tenda atau 2 terpal, perangkat hunian sementara, perlengkapan kebersihan dan alat-alat pertukangan. Selain itu, ada beberapa keluarga yang hanya menerima perlengkapan kebersihan atau alat pertukangan saja karena disesuaikan dengan kebutuhan riil mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu, sekitar 49 paket sudah didistribusikan melalui &lt;em&gt;INGO Shelterbox&lt;/em&gt; yang membangun hunian-hunian sementara untuk anggota komunitas yang terdampak tanah longsor di Padang Alai (desa Balah Air, kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman). Untuk menghindari konflik, tim CJR juga sudah melakukan assessment di satu Korong (&lt;em&gt;sub village&lt;/em&gt;) dan megadakan distribusi tambahan untuk para penduduk yang memang sesuai dengan kriteria CJR, yaitu: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;• 1.602 KK di Desa Lurah Ampalu (kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman)&lt;br /&gt;• 1.766 KK di desa Balah Air (kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman)&lt;br /&gt;• 612 KK di desa Lubuk Alung (Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman)&lt;br /&gt;• 147 KK di desa Gunung Padang Alai (kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman)&lt;br /&gt;• 105 KK di Kecamatan Tanjung Raya (Kabupaten Agam) – dibantu melalui IOM&lt;br /&gt;• 704 KK di berbagai desa di Kabupaten Agam – dibantu oleh CRS&lt;br /&gt;• 130 KK di desa Lumpo (Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan)&lt;br /&gt;• 83 KK di desa Siguntur (kecamatan Siguntur, Kabupaten Pesisir Selatan)&lt;br /&gt;• 119 KK di desa Kalampayan (kecamatan Bungus Teluk Kabung, kabupaten Padang)&lt;br /&gt;• 429 KK di desa Alamanda, Koto Gadang Jaya dan Langgam (Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemantauan / Monitoring&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Minggu lalu, semua relawan memfokuskan diri pada kegiatan &lt;em&gt;assessment&lt;/em&gt; dan distribusi, sehingga kegiatan monitoring belum dilakukan. Dalam beberapa hari di minggu depan ini, akan dilakukan &lt;em&gt;monitoring&lt;/em&gt; di desa-desa yang sudah mendapat bantuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Relawan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Koordinasi dan informasi tentang kebutuhan relawan bisa menghubungi Ari (081804053184).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Koordinasi&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Emilie della Corte dari &lt;em&gt;Caritas Internationalis&lt;/em&gt; tiba di Padang pada tanggal 3 November 2009 untuk mendukung dan memfasilitasi finalisasi revisi EA dan untuk mempersiapkan langkah selanjutnya (&lt;em&gt;Recovery&lt;/em&gt; dan Rekonstruksi). Emilie akan berada di Padang sampai dengan tanggal 24 November 2009 dan bisa dihubungi di nomor 0878-9507-8940.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 5 November telah dilaksanakan pertemuan tentang revisi EA di Padang yang dihadiri oleh ERT Padang, Keuskupan Padang, &lt;em&gt;Caritas Joint Response, C. Switzerland, CRS, C. Czech Republic, C. Australia, Cordaid &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; CI&lt;/em&gt;. Notulensi pertemuan ini ada di Karina. Pertemuan untuk membahas fase &lt;em&gt;Recovery&lt;/em&gt; dan Rekonstruksi akan diadakan di Padang pada tanggal 16 November 2009. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Alamat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Caritas Joint Response&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jl. WR Monginsidi 4d, Padang&lt;br /&gt;(Kantor PSE, GOR Prayoga &lt;em&gt;Sportscentre&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kontak Personal&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Silvia Holzer – &lt;em&gt;Communications Officer&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Email: &lt;a href="mailto:hsilvia@gmx.net"&gt;hsilvia@gmx.net&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-1496325855132277833?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1496325855132277833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1496325855132277833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/11/situation-report-xv-padang-earthquake.html' title='Situation Report XV, Padang Earthquake'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvvG2BGS3zI/AAAAAAAABPM/0U2Sivf95X8/s72-c/p4.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-1339672023144537191</id><published>2009-10-08T15:13:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T15:38:21.855-07:00</updated><title type='text'>Situasion Report Gempa Padang Posko Bersama Keuskupan Surabaya - Joint Response Caritas</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Ss5mj5PEM9I/AAAAAAAABJs/aqxGwYV1FBE/s1600-h/lubuk+alung1.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390358570854527954" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Ss5mj5PEM9I/AAAAAAAABJs/aqxGwYV1FBE/s200/lubuk+alung1.JPG" style="display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Ss5mYd269kI/AAAAAAAABJk/v8Z5MtIRa1c/s1600-h/padang3.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390358374526940738" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Ss5mYd269kI/AAAAAAAABJk/v8Z5MtIRa1c/s200/padang3.JPG" style="display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Ss5mCTqRFDI/AAAAAAAABJc/8sFtueP3qLo/s1600-h/kayugadang4.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390357993832387634" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Ss5mCTqRFDI/AAAAAAAABJc/8sFtueP3qLo/s200/kayugadang4.JPG" style="display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;A. Informasi Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa kuat kembali mengguncang Kota Padang di Sumatera Barat pada Rabu, 30 September 2009 pk. 17.16 WIB. Gempa dengan kekuatan 7,6 SR juga dirasakan hingga Aceh dan Liwa di Propinsi Lampung. Sumber dari BMKG menyebutkan bahwa gempa dengan intensitas 6–7 MMI dialami di Padang, 4 MMI di Sibolga dan Gunung Sitoli, 3-4 MMI di Bengkulu, Bukit Tinggi, Tapanuli Selatan, Muko-Muko dan Liwa. 2–3 MMI di Duri-Riau dan Pekan Baru. Di Jakarta, akibat gempa tersebut dirasakan 2-3 MMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Populasi Terdampak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Selasa (6/10) pukul 10.00 WIB, Pusdalops BNPB melaporkan sebanyak 704 orang meninggal dunia dan 295 orang hilang adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Kota Padang 327 orang meninggal dan 4 orang hilang&lt;br /&gt;-Kota Pariaman 37 orang meninggal dunia.&lt;br /&gt;-Kota Solok 3 orang meninggal dunia.&lt;br /&gt;-Kab. Padang Pariaman 292 orang meninggal dan 237 orang hilang&lt;br /&gt;-Kab. Pesisir Selatan 10 orang meninggal dunia.&lt;br /&gt;-Kab. Agam 32 orang meninggal dunia dan 54 orang hilang.&lt;br /&gt;-Kab. Pasaman Barat 3 orang meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan data kerusakan hingga 5 Oktober 2009 pukul 20.00 WIB yang tercatat oleh BNPB adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Rumah rusak berat 101.653 unit&lt;br /&gt;-Rumah rusak sedang 48.967 unit&lt;br /&gt;-Rumah rusak ringan 49.026 unit&lt;br /&gt;-Fasilitas pendidikan yang rusak berat 887 unit, rusak sedang 575 unit, rusak ringan 457 unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah 21 tim SAR yang berasal dari 19 negara telah mengkaji 31 titik reruntuhan bangunan di Kota Padang dan menyatakan sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Untuk itu, kegiatan rescue dialihkan ke sebelah Timur, Utara, Selatan Kota Padang, seperti Kab. Padang Pariaman dan Kab. Agam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Respon Pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa (6/10), pemerintah memajukan waktu penanganan tanggap darurat menjadi hanya satu bulan sejak 1 Oktober 2009, setelah sebelumnya diputuslam dua bulan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif, menyatakan kalau masyarakat sudah mulai menjalankan aktivitas normal sehingga penanganan tanggap darurat dapat dipercepat, agar rehabilitasi dan rekonstruksi segera dimulai. Target rehabilitasi dan rekonstruksi dimulai awal November.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan tersebut dihasilkan dalam rapat koordinasi penanganan bencana Sumbar di kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jakarta, Selasa sore. Beberapa peserta diantaranya Menteri Sosial, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah melakukan percepatan distribusi logistik dengan mengirimkan sembilan helikopter dan tujuh kendaraan kecil untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit dimasuki moda transportasi biasa. Selain itu, tambahan relawan dikirimkan, yaitu 600 personil Tagana (di sana sudah ada 624 personil Tagana). Air bersih sebanyak 20 unit tangki sudah dikirimkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kebutuhan Mendesak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kajian yang dilakukan tim respon &lt;em&gt;Joint Response Caritas (JRC)&lt;/em&gt;, kebutuhan mendesak saat ini adalah tempat penampungan sementara, kebersihan / sanitasi dan kesehatan. Makanan bukan menjadi kebutuhan mendesak karena persediaan makanan dinilai cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kajian tim tersebut sejalan dengan data kajian yang dimiliki UN-OCHA. UN-OCHA memastikan makanan belum menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Tambahan lain adalah kebutuhan mendesak untuk diadakannya aktivitas sekolah, air bersih, distribusi bantuan, perlindungan anak dan klinik kesehatan keliling (mobil klinik). Jaringan komunikasi sudah tersambung kembali, termasuk layanan internet. Untuk telepon selular, jaringan yang bisa dipakai adalah XL dan Fren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, media melaporkan hal yang berbeda dari kajian tim JRC maupun UN-OCHA. Kantor berita Antara menyampaikan bahwa sebagian korban gempa di empat kecamatan di Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, hingga kini belum mendapatkan bantuan logistik memadai. Menurut Antara, empat keacamatan ini merupakan kecamatan terparah di Kabupaten Pesisir Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Nasir, bantuan bahan pokok yang diterima hingga saat ini berupa 10,3 ton beras, 41.140 dus mi instan, 420 dus air mineral, 100 kilogram gula, 20 kaleng ikan sarden dan tenda 407 buah. Jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang ingin memberikan bantuan logistik, harap tidak memberikan susu dan mie instan. Susu tidak dianjurkan karena sulitnya air bersih, kemungkinan susu tidak cocok dengan perut bayi, dapat menimbulkan ketergantungan pemakaian susu botol pada bayi. Penyaluran susu harus didampingi oleh ahli gizi / kesehatan untuk memastikan tidak adanya dampak lanjutan. Larangan tersebut sudah menjadi kesepakatan internasional. Sedangkan untuk mie instan, sudah banyak sekali organisasi yang memberikan mie instan. Lebih baik memberikan jenis makanan, misalnya sarden, ikan asin, kacang hijau, telur asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Respon &lt;em&gt;Karina Network&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim JRC berada di lokasi sejak Kamis (1/10) untuk berkoordinasi dengan tim ER Keuskupan / Paroki setempat serta tim gabungan JRC yang ada di Indonesia. Serta melakukan kajian cepat di lokasi bencana untuk melihat kerusakan yang terjadi dan kebutuhan yang diperlukan, terutama untuk daerah-daerah yang belum tersentuh bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim JRC menjadi bagian dalam aksi gabungan &lt;em&gt;Caritas Family&lt;/em&gt;. Karina KWI berperan sebagai koordinator dalam aksi gabungan tersebut. Dalam aksi gabungan, telah tersusun struktur kerja tim dan pembagian tugas dalam 4 kelompok, yaitu: struktur-organisasi, pemetaan-logistik, kebutuhan-penerima manfaat, kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim JRC dan Caritas Family telah memutuskan wilayah yang akan dilayani, yaitu Nagari Lurah Ampalu dan Nagari Sungai Sariak (keduanya di Kabupaten Padang Pariaman), serta kota Padang. Pada Senin (5/10), tim gabungan melakukan kajian lanjutan ke Nagari Lurah Ampalu. Juga, mengurus pembukaan jalur pengiriman barang dengan BNPB, serta mulai melakukan pencarian harga (&lt;em&gt;pre-procurement&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada Selasa (6/10), tim JRC mendistribusikan 1358 unit terpal ke Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan Tujuh Koto, Kabupaten Padang Pariaman. Pendistribusian dilakukan berdasarkan data yang telah diverifikasi kelompok kerja kajian. Terpal berasal dari CRS dan dikirim dari Medan. Caritas Jerman mengurus jalur pengiriman barang dengan BNPB. Kelompok kerja kajian juga melakukan verifikasi data yang didapat dari HFI (Humanitarian Forum Indonesia – Karina salah satu anggotanya) dan melakukan kajian di wilayah target layanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Koordinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinasi dilakukan dengan pihak Keuskupan Padang, paroki, dan anggota &lt;em&gt;Caritas Internasionalis&lt;/em&gt;. Perwakilan &lt;em&gt;Caritas Internasionalis&lt;/em&gt;, Allistair Dutton hadir untuk memantau respon tanggap darurat anggota CI. Pertemuan dengan anggota dilakukan pada Senin (5/10). Kesepakatan yang dihasilkan adalah akan ada &lt;em&gt;joint appeal&lt;/em&gt;. JRC tidak akan bergerak sendiri-sendiri, melainkan terpadu dan terkoordinasi. Mgr. Martinus D. Situmorang, Uskup Padang menyatakan bahwa respon tanggap darurat berbasis Paroki ataupun &lt;em&gt;Caritas Family&lt;/em&gt; tidak lagi berbeda. Semua disatukan dalam koordinasi JRC dan ERT-Padang, dalam supervisi Uskup dan manajemen Karina. Metode yang dipakai untuk melayani komunitas adalah sama, yaitu standar &lt;em&gt;Damage and Need Assessment&lt;/em&gt;. Metode tersebut dipakai UNOCHA, dikembangkan oleh &lt;em&gt;Emergency Capacity Building Project&lt;/em&gt;. Selain itu, koordinasi terus dilakukan dengan Karina Keuskupan Palembang atau Pansos Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Bantuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan kepada korban yang sebagian besar kehilangan rumah atau rumah rusak diwujudkan dalam bentuk &lt;em&gt;shelter&lt;/em&gt; sementara (tenda, terpal) hingga permanen (&lt;em&gt;housing&lt;/em&gt;). Namun tetap akan mengupayakan bantuan emergency. Upaya ini bisa berlangsung hingga tahun 2010 atau bahkan 2011. Karena itu, pengiriman bantuan dana dari &lt;em&gt;Caritas Family&lt;/em&gt; kepada Karina KWI perlu segera dilakukan. Perlu dihindari benturan dengan berbagai organisasi lain di lapangan, walaupun kebutuhan korban tetap menjadi prioritas. Tahap &lt;em&gt;emergency&lt;/em&gt; disepakati berlangsung selama tiga bulan. Untuk memperkuat assessment, seluruh lembaga Caritas dan personil dibagi dalam lima &lt;em&gt;task forces: field, purchasing and logistic, finance and admintration, liaison to donors&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;communications&lt;/em&gt;. Setiap kelompok beranggotakan Caritas lokal maupun internasional. Bentuk bantuan yang dibutuhkan tenda, selimut, sarung, tikar, alat-alat pertukangan (gergaji, palu,paku, seng). Sampai Rabu (7/10), telah dibagikan 1591 terpal di keluarahan Ampalo kecamatan Tuju Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Posko&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Posko Di Keuskupan Surabaya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menerima bantuan bahan kebutuhan pokok: mie instan, gula, kopi, minyak goreng, biscuit dll, selimut, pakaian dalam terbaru, terpal plastik dan tikar plastik (pakaian layak pakai belum diterima)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;2. Periode Pengiriman ke Sumatera Barat&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;- 15 Oktober 2009&lt;br /&gt;- 15 November 2009&lt;br /&gt;- 15 Desember 2009&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-1339672023144537191?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1339672023144537191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1339672023144537191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/10/situasion-report-gempa-padang-posko.html' title='Situasion Report Gempa Padang Posko Bersama Keuskupan Surabaya - Joint Response Caritas'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Ss5mj5PEM9I/AAAAAAAABJs/aqxGwYV1FBE/s72-c/lubuk+alung1.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-2093261728218863141</id><published>2009-08-04T10:54:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T15:39:06.430-07:00</updated><title type='text'>Save Mojoasem From Annual Flood</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Snh5-TRxp8I/AAAAAAAABHM/8umE5JKxTeE/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366173067245627330" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Snh5-TRxp8I/AAAAAAAABHM/8umE5JKxTeE/s200/1.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Snh5qPP9uNI/AAAAAAAABG0/n-96-DOftT0/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366172722566904018" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Snh5qPP9uNI/AAAAAAAABG0/n-96-DOftT0/s200/3.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Since December 2007 flood, Karina Diocese of Surabaya with implementing partner, Sekertariat Bersama Kelompok Sosial, moved to assist people of Mojoasem whom incured by floods. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mojoasem in Laren subdistrict, Lamongan regency, residing in west side of Bengawan Solo river. Village of Mojoasem precise the side curve of river which very rapid current. According to task force on disaster response of East Java Province, the west side is true sacrificed area compared with east side which is stronger.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;But, so many times people life there. People are farming, getting income till the floods slam their life during two years successively, December 2007 and Februari 2009. Floods become bitter experience which damaged house, farmland and economics life.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Motivated by human compassion, Karina Diocese of Surabaya about 2 last years, with implementing partner open base camp in Mojoasem. Then at Februari 2009 floods, Karina Diocese of Surabaya getting support from some parishes, groups and also schools, contribute aid to people of Mojoasem, Siser and Pesanggrahan. Also to some around villages which worse condition, that is Misuwur, Kroyo, Jabung, Sapan, Gelap and Dateng. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;At 23th March 2009, Karina Diocese of Surabaya distributed 1050 packets. The packets are food (rice, cooking oil, green peanut, noodles and sugar), school kits (book, pencil, pulpen and ruler) and also healthy supplies (detergent, soap, mosquito drug, tooth paste and shampoo). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nowadays after floods elapsed and aid have been alloted, field farm can be planted. Along with experience many times slammed by floods, citizen union and local people awareness, grow a need to listen more carefully and ready to prepared before annual floods, together with local government to do some works. That are: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. repairing Bengawan Solo dam in Mojoasem which slammed to pieces after floods 2009 &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2. improving people capacities to make provision against annual floods through disaster risk reduction strategy&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3. powered economics through organic agriculture and goat ranch, as economic empowerment strategy. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;For another information, please contact: Sumanto (local person) - 081230857525 &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-2093261728218863141?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/2093261728218863141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/2093261728218863141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/08/save-mojoasem-from-annualy-flood.html' title='Save Mojoasem From Annual Flood'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Snh5-TRxp8I/AAAAAAAABHM/8umE5JKxTeE/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-2603426731696155976</id><published>2009-06-15T16:46:00.000-07:00</published><updated>2009-06-15T16:49:15.096-07:00</updated><title type='text'>Peta Bencana</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SjbdoPI1omI/AAAAAAAABGE/vBscJXqNPho/s1600-h/Save+Mojoasem.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347705290877149794" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 226px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SjbdoPI1omI/AAAAAAAABGE/vBscJXqNPho/s400/Save+Mojoasem.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-2603426731696155976?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/2603426731696155976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/2603426731696155976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/06/peta-bencana.html' title='Peta Bencana'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SjbdoPI1omI/AAAAAAAABGE/vBscJXqNPho/s72-c/Save+Mojoasem.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-6229016572491640889</id><published>2009-04-12T08:01:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T11:59:11.890-07:00</updated><title type='text'>Relawan Karina Akrabi Imbas Bencana Lahar Kelud</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Terjangan lahar dingin Kelud akhir Februari lalu menyisakan penderitaan warga di Kecamatan Puncu dan sekitarnya. Ribuan warga di lereng gunung itu kesulitan air bersih, karena sumber air dan dam penampung air bersih musnah diterjang lahar. Saat perayaan Paskah, para relawan di bawah Keuskupan Surabaya pun menyapa warga yang sedang kesusahan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya sehari dua hari, belasan anggota relawan dari Karina (Karitas Indonesia) yang ada di Kediri ini hampir satu bulan penuh membantu ribuan warga di empat desa yang tak bisa mengonsumsi air bersih.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah sumber air mereka musnah diterjang lahar dingin, lebih dari 1.500 warga terpaksa mengonsumsi air hujan. Sementara bantuan pemerintah berupa droping air bersih tidak bisa menjangkau ribuan warga yang tesebar di Desa Satak, Sukomoro, Sumbersuko, Dampit, dan Asmorobangun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemkab Kediri memang telah meringankan penderitaan warga dengan droping air bersih.Namun droping air bersih ini hanya sampai di wilayah-wilayah yang mudah terjangkau. Misalnya di Desa Besowo dan wilayah lain yang berada di jalan raya beraspal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Panggilan sosial kami mengatakan untuk segera melangkah membantu droping air. Senin (13/4) atau Selasa (14/4) besok, kami juga akan menggelar baksos dan pembagian sembako di Dampit,” kata F Yunanto, Karina Korwil Kediri, Sabtu (11/4).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tim relawan saat ini sedang sibuk-sibuknya. Sejak pascabanjir lahar dingin beberapa waktu lalu, 12 relawan Karina lansung diterjunkan. Dengan dukungan dana seadanya, mereka berangkat ke lokasi bencana dengan misi kemanusiaan. Langsung diputuskan menggelontorkan air bersih ke wilayah-wilayah tak terjangkau itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selama hampir sebulan, tim ini mengirim air bersih ke Puncu. Air besih ini dibeli dari PDAM “Sebenarnya droping air bersih ini tidak dilakukan dengan seketika. Kami ditemani tim survei dari Keuskupan Surabaya, seperti Romo Sabas, Romo Luluk, dan koordinator ERT, Mas Hani, yang lebih dulu datang menyurvei. Kemudian kami putuskan segera droping air bersih,” tambah Yunanto.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengambil posko di Pare, tim ini tidak henti-hentinya berkooridinasi menolong korban bencana lahar dingin. Setelah survei, mereka memutuskan fokus di wilayah Puncu yang dinilai tak terjangkau dari perhatian pemerintah. Secara fisik, memang tidak ada korban luka dan meninggal saat terjadi lahar dingin. Tapi pascabencana, rumah mereka tak bisa ditempati lagi. Ini terjadi di wilayah Gadungan, Kecamatan Puncu, dan Sumberbiru, Pare.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kondisi hampir sama terjadi di lima desa di Puncu. Meski tidak separah di Gadungan, namun dampak dari terjangan lahar dingin itu menyebabkan sumber air satu-satunya sebagai penghidupan mereka lenyap.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kami menginap di rumah warga agar bisa tahu bagaimana penderitaan mereka tanpa air bersih. Air dari DAM Jeding Miring dan Clangap yang biasanya langsung dialirkan, kini tidak bisa lagi dialirkan,” lanjut Budi Hartono, relawan yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tim relawan ini kemudian menuju sumber air. Mereka menemukan DAM Jeding Miring sebagai penampung air pegunungan telah musnah. Sementara DAM Clangap juga sebagian telah hancur. Warga tidak bisa lagi memanfaatkan air bersih karena hampir seluruh jaringan pipa dari sumber air itu juga musnah. “Sekarang sedang kita pikirkan bagaimana agar sumber air itu bisa dimanfaatkan kembali,” tambah Napi, relawan Karina lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Relawan Karina tidak sendirian. Upaya mereka juga mendapat dukungan dari banyak kalangan, termasuk LSM dan ormas-ormas Islam. “Kami kini terjun bersama-sama dengan ormas Islam dan para tokohnya. Tidak hanya droping air. Tapi kami juga memberikan pengobatan gratis kepada warga,” kata Yunanto. &lt;em&gt;(Faiq Nuraini)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.surya.co.id/2009/04/12/relawan-karina-akrabi-imbas-bencana-lahar-kelud/"&gt;http://www.surya.co.id/2009/04/12/relawan-karina-akrabi-imbas-bencana-lahar-kelud/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-6229016572491640889?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/6229016572491640889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/6229016572491640889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/04/relawan-karina-akrabi-imbas-bencana.html' title='Relawan Karina Akrabi Imbas Bencana Lahar Kelud'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-5794827884292672078</id><published>2009-04-12T07:59:00.000-07:00</published><updated>2009-04-12T08:05:55.968-07:00</updated><title type='text'>Gunung Kelud Longsor, Warga Kesulitan Air</title><content type='html'>Banjir lahar dingin terus terjadi di Gunung Kelud. Akibat derasnya aliran lahar dingin sisa-sisa letusan gunung api ini, jalan menuju puncak Kelud longsor. Paling parah terjadi di jalan menuju puncak Kelud pada Sabtu (28/2).&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Titik longsor tepatnya terjadi di 3 km sebelum puncak atau 6 km setelah rest area pintu masuk Wisata Gunung Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Badan jalan beraspal hanyut terbawa longsoran ke jurang Kelud berkedalaman 15 meter.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jalan dengan lebar enam meter sebelum longsor saat ini tinggal menyisakan satu meter. Itu pun sebagian sudah retak-retak dan siap menyusul longsor. Panjang longsoran sekitar 20 meter. Jembatan yang berada di titik longsor ini sudah menggantung.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Supari, 36, salah satu petugas keamanan di wisata Gunung Kelud saat ditemui Surya mengatakan longsor saat ini terus terjadi. “Longsor mulai Senin lalu bersamaan banjir lahar dingin. Sekarang longsor betambah besar,” kata Supari sambil menunjuk lokasi longsor.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Longsor hebat di titik ini, terang Supari, akibat selokan di atasnya tertutup longsor yang lain Akibatnya, air deras langsung menggerojok. Karena tanahnya labil, longsor di jalan setelah jembatan tak bisa dihindarkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beruntung saat kejadian longsor yang terakhir pada Jumat (27/2) sore, tak ada pengunjung atau warga yang melintas di jalan ini. Namun saat ini, jalan menuju puncak terputus. Petugas memasang tulisan, Maaf. Jalan putus, mobil tak bisa naik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Putusnya jalan ini menambah banyaknya infrastruktur wisata yang dibangun Pemkab Kediri sia-sia. Sebelumnya, bangunan tangga menuju danau kawah Kelud musnah terkubur anak Kelud.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga gardu pandang senilai Rp 1,2 miliar yang menjulang ke ketinggian Gunung Kelud. Gardu untuk melihat indahnya panorama danau kawah ini sia-sia seiring sirnanya danau kawah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengamatan Surya di sepanjang jalan menuju puncak Kelud, setidaknya ada lima titik longsor. Longsor juga terjadi di perbukitan Gunung Kelud. Namun kekuatan longsor tak sehabat di KM 6.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dampak dari longsor ini, pengunjung wisata Kelud sepi. Sabtu kemarin, warung-warung di sekitar Kelud yang biasa di serbu pengunjung menjadi sepi. Wawan, 29, penyedia jasa foto sekali jadi di Gunung Kelud mengeluh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Biasanya ada sedikitnya 80 pengunjung minta difoto, kemarin sepuluh orang saja mengaku sulit. “Kami berharap longsor segera diperbaiki agar ramai kembali,” ucap Wawan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri, Mujianto, saat dikonfirmasi menegaskan sudah menyiapkan proyek perbaikan. “Sebaiknya hati-hati kalau naik ke Kelud. Mobil tidak bisa naik. Sebaiknya naik ojek yang sudah kita sediakan,” kata Mujianto.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, akibat terjangan lahar dingin yang berlangsung hingga hari keenam ini, sumber air di Gunung Kelud tak lagi bisa dimanfaatkan. Jaringan pipa sepanjang 3 km dari Sumber Clangap musnah diterjang banjir lahar dingin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena pipa penyalur hancur, akibatnya aliran air mampet. Belasan ribu warga di lima desa yang menggantungkan air dari sumber ini tak lagi mendapat pasokan air bersih. Yakni Desa Desa Sugihwaras, Sempu, Babadan, Manggis, dan sebagian Desa Ngancar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Warga kami sudah lima hari menampung air hujan. Ya untuk masak untuk mandi dan mencuci. Warga masih menunggu bantuan ari dari Pemkab Kediri. Sampai saat ini, belum ada bantuan air bersih,” terang Kades Sugihwaras, Bejo Utami, saat ditemui Surya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karjianto, Kasubag Hubungan dan Langganan PDAM Kabupaten Kediri, menjelaskan bahwa jaringan pipa air di beberapa sumber air di Gunung Kelud hancur. Pihaknya menaksir kerugian sampai miliaran rupiah. “Perbaikan setidaknya butuh waktu dua bulan. Mohon maaf warga terganggu pengadaan air bersih,” kata Karjianto. &lt;em&gt;(Faiq Nuraini&lt;/em&gt;&lt;em&gt;)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://www.surya.co.id/2009/03/01/gunung-kelud-longsor/"&gt;http://www.surya.co.id/2009/03/01/gunung-kelud-longsor/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-5794827884292672078?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5794827884292672078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5794827884292672078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/04/gunung-kelud-longsor-warga-kesulitan.html' title='Gunung Kelud Longsor, Warga Kesulitan Air'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-1932046129495952097</id><published>2009-03-21T01:55:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T15:40:20.115-07:00</updated><title type='text'>Laporan Situasi 4: Dua Bencana Di Keuskupan Surabaya (Mojoasem, Lamongan Dan Pare)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSvYLNXszI/AAAAAAAABDM/NfMbr80ep0E/s1600-h/15.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315566290064618290" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSvYLNXszI/AAAAAAAABDM/NfMbr80ep0E/s200/15.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSvGzQWBYI/AAAAAAAABDE/u59mUssPoyQ/s1600-h/10.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315565991576864130" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSvGzQWBYI/AAAAAAAABDE/u59mUssPoyQ/s200/10.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSutR-NUhI/AAAAAAAABC8/HsOdOaxp-WU/s1600-h/data0.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315565553145696786" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSutR-NUhI/AAAAAAAABC8/HsOdOaxp-WU/s200/data0.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 200px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 121px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSumS_AouI/AAAAAAAABC0/rmr81J0Ojlk/s1600-h/data1.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315565433158410978" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSumS_AouI/AAAAAAAABC0/rmr81J0Ojlk/s200/data1.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 37px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSudB8A14I/AAAAAAAABCs/LXccTzFme8w/s1600-h/data2.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315565273963616130" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSudB8A14I/AAAAAAAABCs/LXccTzFme8w/s200/data2.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 168px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 150px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tanggal: 21 Maret 2009&lt;br /&gt;Lokasi: Mojoasem, Lamongan dan Pare&lt;br /&gt;1. Mojoasem, Lamongan&lt;br /&gt;Koordinator Posko : Rm. Markus Rudi Hermawan, CM, Rm. Sabas Kusnugroho, Pr&lt;br /&gt;Koordinator Lapangan : Opung Juprianto, Azis&lt;br /&gt;2. Pare&lt;br /&gt;Koordinator Posko : Rm. Paulus Ikwan Wibowo, Pr&lt;br /&gt;Koordinator Lapangan : Budi&lt;br /&gt;Dibuat oleh : Rm. A. Luluk Widyawan, Ketua PSE-Karina Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Situasi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;1. Mojoasem&lt;/strong&gt;Setelah hampir satu bulan Posko PSE-Karina Keuskupan Surabaya hadir di Mojoasem, Kec. Laren, Kabupaten Lamongan, maka dilaporkan situasi terutama di 3 desa (Siser, Pesanggrahan dan Mojoasem) berangsur-angsur kembali pulih. Air sungai di tepi desa tersebut telah turun drastis hingga sekitar 2,5 meter, tampak dari cekungan tanah yang terkikis air di tepian sungai Bengawan Solo. Sawah dan tambak warga masih terendam air, setinggi lutut namun warga mengatakan bahwa sebulan lagi, lahan penghidupan mereka itu bisa digarap. Berbeda dengan dusun dan desa lain di mana rumah warga masih terendam setinggi lutut, antara lain: Misuwur, Kroyo, Jabung, Sapan, Gelap dan Dateng yang belum bisa beraktivitas dengan baik, karena air dan sumber air kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berada di Posko Mojoasem, PSE-Karina yang mendapat dukungan dari beberapa paroki, kelompok kategorial, sekolah maupun pribadi baik berupa dana maupun sumbangan in natura berupa &lt;em&gt;(lihat data 1)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dukungan tersebut dikemas para relawan menjadi paket dengan rata-rata rincian sebagai berikut &lt;em&gt;(lihat data 2)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket-paket yang menjadi bagian yang disebut Periode Gotong-Royong dibagikan kepala setiap kepala-keluarga dengan prioitas 3 desa. Namun setelah tim survei relawan menemukan beberapa dusun di sekitar yang kondisinya lebih buruk, maka paket bantuan diberikan pula ke Misuwur, Kroyo, Jabung, Sapan, Gelap dan Dateng dengan perincian sebagai berikut &lt;em&gt;(lihat data 3) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 23 Maret 2009, akan dimulai Periode Karina, saat Karina akan menurunkan 1050 paket untuk prioritas warga di 3 desa, sebagaimana survei sebelumnya. Adapun paket tersebut berisi paket makanan (beras, minyak goreng, kacang hijau, mie instant dan gula pasir), paket alat sekolah (buku tulis, pensil, pulpen dan penghapus) serta paket perlengkapan kesehatan (deterjen, sabun mandi, obat nyamuk, odol dan shampo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSE-Karina Keuskupan Surabaya bersama implementing partner serta relawan lokal, dalam pertemuan koordinasi bersama di Sekertariat Bersama Kelompok Sosial di Jl. Kinibalu, Surabaya akan mempertimbangkan keberadaannya di Mojoasem tidak lama setelah pembagian paket tersebut, sejalan dengan tercukupinya beberapa kebutuhan pokok selama menunggu sawah dan tambak kembali normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal positif pembelajaran bersama ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Warga Mojoasem setelah 2 tahun ini, semakin mantap melakukan koordinasi tanggap darurat dengan kehadiran Posko, muncul koordinator dan relawan lokal yang bahu membahu bersama, sehingga di masa mendatang warga dapat melakukan koordinasi sendiri tanpa kehadiran Posko&lt;br /&gt;- Koordinasi PSE-Karina selama 2 tahun ini bersama implementing partner berjalan baik, dengan 2 posko yang dibuka di kota Surabaya (Paroki Widodaren dan Karangpilang), dengan koordinator Posko, Koordinator Lapangan yang jelas jalur koordinasinya, serta dukungan bagian keuangan, dan para relawan yang telah mendedikasikan diri tanpa pamrih&lt;br /&gt;- Kehadiran Posko yang menetap, sirkulasi relawan minimal seminggu sekali, membuat suasana kekeluargaan tercipta sehingga friksi seperti tahun lalu tidak muncul lagi&lt;br /&gt;- Tidak hanya 3 desa yang dibantu, melainkan beberapa dusun yang ada di sekitarnya dapat dijangkau dengan perahu karet oleh para relawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu ditingkatkan ialah:&lt;br /&gt;- Beberapa sarana seperti alat komunikasi modem / handie talkie, komputer / laptop dan kamera yang sangat diperlukan dalam pendataan warga, bantuan yang masuk dan keluar serta pelaporan&lt;br /&gt;- Dukungan tanggap darurat yang lebih dominan bahan makanan, penting untuk mempropagandakan dukungan dalam rupa relawan, para medis yang menetap dalam waktu tertentu, juga bantuan lain berupa minum, obat-obatan, alat kesehatan dan perlengkapan anak sekolah, serta perlengkapan sekolah yang tidak dapat diberikan (ada permohonan almari, komputer dan bangku sekolah). Kontak Koordinator Posko: Rm Wawan, CM 08164292941, Relawan: Opung 081310207750&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Foto:&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=68275&amp;amp;id=643897822&amp;amp;l=f69f3"&gt;http://www.facebook.com/album.php?aid=68275&amp;amp;id=643897822&amp;amp;l=f69f3&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Pare&lt;/strong&gt;Pare adalah lokasi yang kurang mendapatkan perhatian secara maksimal dari gerakan bersama tanggap darurat. Namun kondisi para relawan di Pare yang berinisitaif membuat dukungan harus diberikan. Pada tanggal 28 Februari, kondisi sekitar daerah Puncu terdampak lahar dingin, masih belum normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi yang berada di ketinggian 600-700 dpl meliputi desa Sukomoro, Sumbersoko, Asmorobangun, Satak dan Dampit masih kesulitan mendapatkan air bersih sampai waktu yang tidak bisa diprediksi. Penyebabnya waduk penampung sumber air di Clangap jebol terkena longsoran bebatuan dari Gunung Kelud. Akibatnya longsoran tersebut meluluhlantakkan pipa-pipa air minum / bersih yang dibutuhkan warga. PDAM telah berusaha memperbaiki kerusakan, namun kondisi cuaca dan struktur tanah masih labil sehingga menghampat perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spontan selama 3 minggu, Karina Pare melakukan supali air bersih di wilayah Puncu bersama suster Puteri Kasih yang mengadakan pengobatan gratis serta membagikan sembako. Sampai hari Kamis, 19 Maret 2009, Karina melakukan kegiatan survey, membeli tendon, menyewa truk, membeli air dari PDAM dan membagikan ke warga yang telah menghabiskan dana Rp. 15.000.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dukungan tersebut bersifat tanggap darurat, maka dipikirkan bentuk bantuan lain berupa pengadaan sumur pompa air tanah untuk mengatasi kelangkaan air dalam jangka panjang. Hal ini karena lokasi sumber air masih rawan terkena longsor dalam waktu terbatas. Saat ini didukung tim ERT Karina Keuskupan Surabaya sedang disusun sebuah anggaran untuk pembuatan sumur pompa tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;B. Posko In Natura&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Paroki St. Vincentius A Paulo&lt;br /&gt;Up. Rm. Wawan, CM&lt;br /&gt;Jl. Widodaren 15 Surabaya&lt;br /&gt;Telp. 031-5343797, 5320352&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Paroki St. Yusup&lt;br /&gt;Up. Rm. Sabas Kusnugroho, Pr&lt;br /&gt;Jl. Mastrip Kebraon 1/1, Surabaya&lt;br /&gt;Telp. 031-7661450, 7668144 &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-1932046129495952097?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1932046129495952097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1932046129495952097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/03/laporan-situasi-4-2-bencana-di.html' title='Laporan Situasi 4: Dua Bencana Di Keuskupan Surabaya (Mojoasem, Lamongan Dan Pare)'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/ScSvYLNXszI/AAAAAAAABDM/NfMbr80ep0E/s72-c/15.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-7514594543580056123</id><published>2009-03-13T08:26:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T15:40:46.066-07:00</updated><title type='text'>Laporan Situasi 3: Banjir Di Desa Mojoasem, Laren, Lamongan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Sbp-Rh3uFPI/AAAAAAAABCk/etkm8bxT9dY/s1600-h/Ruang+kelas+SD+Mojoasem.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312697550051874034" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Sbp-Rh3uFPI/AAAAAAAABCk/etkm8bxT9dY/s200/Ruang+kelas+SD+Mojoasem.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Sbp-FveuixI/AAAAAAAABCc/_MeIOK9Wfcc/s1600-h/Melewati+gedung+sekolah+dasar,+Mojoasem.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312697347546712850" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Sbp-FveuixI/AAAAAAAABCc/_MeIOK9Wfcc/s200/Melewati+gedung+sekolah+dasar,+Mojoasem.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Sbp95sNl1hI/AAAAAAAABCU/hUD8BRH8_qw/s1600-h/Kakek+yang+bertahan.+Mojoasem.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312697140511102482" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Sbp95sNl1hI/AAAAAAAABCU/hUD8BRH8_qw/s200/Kakek+yang+bertahan.+Mojoasem.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tanggal : 12 Maret 2009&lt;br /&gt;Lokasi : Mojoasem, Laren, Lamongan&lt;br /&gt;Koordinator Posko : Rm. Markus Rudi Hermawan, CM, Rm. Sabas Kusnugroho, Pr&lt;br /&gt;Koordinator Lapangan : Opung Juprianto, Azis&lt;br /&gt;Dibuat oleh : Rm. A. Luluk Widyawan, Ketua PSE-Karina Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Situasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Mojoasem, Laren, Lamongan&lt;/strong&gt;Hampir dua minggu, Karina Keuskupan Surabaya bersama beberapa implementing partner hadir memberikan bantuan kepada warga korban bencana banjir di desa Mojoasem, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk dukungan hadir silih berganti dari beberapa paroki di kota Surabaya. Bantuan datang sebagian besar berupa, bahan makanan seperti beras dan indomie. Bantuan cukup menarik ketika PT Sido Muncul, melalui Presiden Direkturnya, Bp. Irwan Hidayat hadir menyapa korban dan para relawan dengan paket bantuan dan dana. Selain itu memberi dukungan psikologis karena kehadiran Doni Kusuma artis ikon produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu 8/3/2009 lalu, bantuan mengalir secara melimpah berupa sembako yang dibawa oleh 4 truk. Bersamaan dengan itu juga ada dukungan pengobatan gratis yang kedua yang diadakan oleh Rumah Sakit St. Vincentius, Surabaya didukung para para medis, komunitas Suster SSpS dan CB serta Perdhaki Pusat. Sangat menguntungkan bahwa di antara bantuan yang datang tersebut tersedia pembalut wanita yang sangat dibutuhkan kaum perempuan, pakaian dalam dan pantas pakai. Namun permohonan bantuan komputer, bangku sekolah, almari buku serta buku dan alat tulis yang belum dapat diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karina Keuskupan Surabaya sedang merancang pengiriman paket bantuan, berupa paket makanan, paket peralatan sekolah dan paket perlengkapan kesehatan. Bantuan tersebut memang dirancang untuk 3 minggu pasca banjir. Melalui diskusi dengan relawan lokal, Ipung dan Farhan, maka bantuan akan difokuskan hanya untuk 3 desa, Mojoasem, Siser dan Pesanggrahan dengan jumlah total paket untuk 1050 kepala keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 2 minggu pasca banjir, keadaan di 3 desa sudah membaik dan geliat perekonomian mulai bergerak, namun sebagian besar tambak dan sawah warga masih terendam air dan rusak. Ketahanan pangan warga tidak bias diandalkan, kebutuhan lain berobat, pendidikan anak, urusan ternak diabaikan untuk urusan pokok sandang, pangan dan papan. Terlebih lagi di beberapa desa lain sekitar Mojoasem di mana Posko Karina berada, yaitu Kroyo, Ngelap, Misuwur, Genang dan Karangjiwo keadaanya lebih buruk, jauh dari bantuan dan masih terendam air hingga seukuran lutut dan pantat orang dewasa &lt;em&gt;(laporan Wawan relawan, dalam rapat di Sekertariat Bersama Kelompok Sosial, 12/03/09)&lt;/em&gt;. Anak-anak belum sekolah karena keadaan yang terendam air, kotoran hewan, bahkan kotoran manusia bercampur air yang mulai berwarna hijau lumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah sejak hari minggu bantuan di Posko masih tersedia 3 ton beras dan 300-an kardus mie instant yang belum dipaketi dapat diarahkan ke beberapa desa tersebut, sementara 3 desa menerima paket bantuan Karina. Pula, kesulitan relawan terjawabi dengan keterlibatan siswa SMUK St. Louis II dan kesulitan air ditanggapi oleh Vit. Saat ini bantuan yang sangat dibutuhkan ialah: beras, mie instant, makanan kering, kehadiran paramedis untuk pengobatan, obat-obatan (flu, demam, salep kulit dan pusing), minum, air bersih atau teknologi penjernih air. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-7514594543580056123?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/7514594543580056123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/7514594543580056123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/03/situation-report-penanganan-banjir.html' title='Laporan Situasi 3: Banjir Di Desa Mojoasem, Laren, Lamongan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Sbp-Rh3uFPI/AAAAAAAABCk/etkm8bxT9dY/s72-c/Ruang+kelas+SD+Mojoasem.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-1457971250540479524</id><published>2009-03-11T16:16:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T16:31:39.843-07:00</updated><title type='text'>Laporan Situasi Berjalan Penanganan Korban Banjir 2009</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhIUfKCsAI/AAAAAAAABCM/XpcCGUrZUqQ/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312075277281701890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 207px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhIUfKCsAI/AAAAAAAABCM/XpcCGUrZUqQ/s320/1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhH_ZHYj4I/AAAAAAAABCE/lWIhop3t_ZE/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312074914882686850" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhH_ZHYj4I/AAAAAAAABCE/lWIhop3t_ZE/s320/2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhH3Mr-JWI/AAAAAAAABB8/Z95sh5ggymg/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312074774107530594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 208px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhH3Mr-JWI/AAAAAAAABB8/Z95sh5ggymg/s320/3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHsgKdsJI/AAAAAAAABB0/QUfG7WnoB3c/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312074590357139602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 212px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHsgKdsJI/AAAAAAAABB0/QUfG7WnoB3c/s320/4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHj9rCnpI/AAAAAAAABBs/_8LUnOsbQRU/s1600-h/5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312074443659583122" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 210px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHj9rCnpI/AAAAAAAABBs/_8LUnOsbQRU/s320/5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHbExrroI/AAAAAAAABBk/CvJzDcPLFFs/s1600-h/6.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312074290947665538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 206px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHbExrroI/AAAAAAAABBk/CvJzDcPLFFs/s320/6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHPHaoA3I/AAAAAAAABBc/VFqTmssqQN8/s1600-h/7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312074085497832306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 210px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHPHaoA3I/AAAAAAAABBc/VFqTmssqQN8/s320/7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHFSk7U-I/AAAAAAAABBU/eafC7QL1Xe8/s1600-h/8.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312073916695139298" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 210px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhHFSk7U-I/AAAAAAAABBU/eafC7QL1Xe8/s320/8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhG5MkzjGI/AAAAAAAABBM/xwUFyONVgdE/s1600-h/9.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312073708925586530" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 230px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhG5MkzjGI/AAAAAAAABBM/xwUFyONVgdE/s320/9.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-1457971250540479524?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1457971250540479524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1457971250540479524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/03/situation-report-on-going-penanganan.html' title='Laporan Situasi Berjalan Penanganan Korban Banjir 2009'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbhIUfKCsAI/AAAAAAAABCM/XpcCGUrZUqQ/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-1908884358936647507</id><published>2009-03-09T06:31:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T15:41:12.981-07:00</updated><title type='text'>Laporan Situasi 2: Banjir Di Desa Mojoasem, Laren, Lamongan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbUbsI_9pJI/AAAAAAAABBE/9QKIFGkIFKY/s1600-h/4.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311181780697326738" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbUbsI_9pJI/AAAAAAAABBE/9QKIFGkIFKY/s200/4.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 134px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbUbaj7hTVI/AAAAAAAABA8/S4oDzNMh7J8/s1600-h/21.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311181478688804178" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbUbaj7hTVI/AAAAAAAABA8/S4oDzNMh7J8/s200/21.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 134px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbUbAOWwy_I/AAAAAAAABA0/Gd--44v7jxg/s1600-h/12.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311181026220887026" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbUbAOWwy_I/AAAAAAAABA0/Gd--44v7jxg/s200/12.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 200px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 133px;" /&gt;&lt;/a&gt;Tanggal: 5 Maret 2009&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lokasi: Mojoasem, Laren, Lamongan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Koordinator Posko : Rm. Markus Rudi Hermawan, CM, Rm. Sabas Kusnugroho, Pr&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Koordinator Lapangan : Opung Juprianto&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dibuat oleh : Rm. A. Luluk Widyawan, Ketua PSE-Karina Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Situasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejak hujan deras mengguyur beberapa daerah Jatim, maka beberapa lokasi rawan bencana banjir mengalami banjir. Mulai Rabu, 25/2/09, banjir mulai memasuki kota Bojonegoro, Lamongan dan Ngawi. Seminggu pasca banjir, wilayah Bojonegoro segera surut secara drastis pada hari Minggu (1/3/09) dan beberapa pengungsi telah kembali ke rumah, sebagaimana laporan Rm. Hersemedi, CM, pastor kepala paroki Bojonegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mojoasem, Laren, Lamongan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejak seminggu lalu, banjir mulai menggenangi wilayah desa yang berada persis di tepi sungai Bengawan Solo. PSE / Karina Keuskupan Surabaya hadir bersama beberapa relawan di lokasi yang setahun lalu juga dibantu. Pada awalnya, Opung Juprianto bahu-membahu bersama warga Mojoasem membuat tanggul dari kantong yang diisi tanah, bukan pasir. Karena itu, tanggul tak mampu menahan banjir dan jebol. Beberapa saat bantuan diupayakan dengan mengkoordinasi paroki-paroki untuk segera mengirimkan bantuan in natura yang dipusatkan di Paroki Widodaren dan Paroki Karangpilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSE / Karina Keuskupan Surabaya fokus pada wilayah Mojoasem. Dari Lamongan, perlu menyeberang sungai Bengawan Solo dengan perahu tempel yang serba terbatas. Sebuah rumah milik warga bernama, Subari disewa dan dijadikan posko untuk gudang bantuan dan istirahat para relawan. Mojoasem memiliki wilayah yang sama buruknya tenggelam oleh banjir dengan desa Siser dan Pesanggrahan. Dari 3 desa itu totsl ada sekitar 1000 kepala keluarga. Dari Posko Mojoasem, setiap hari para relawan kami dan lokal membungkus bantuan dalam rupa paket, tidak hanya untuk 3 desa tersebut, namun juga untuk beberapa lokasi lain yang tidak bisa dibiarkan tak tertolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga seminggu ini, bantuan yang diterima warga sebagian besar berupa beras, mie instant, bahan makanan saja. Bantuan tersebut berhasil dipasok dari dukungan paroki yang berbela rasa dari Keuskupan Surabaya. Termasuk pengobatan gratis yang baru dilakukan sekali dengan hanya 2 dokter yang kewalahan diserbu warga. Sampai sitrep ini dibuat hujan masih melanda di kawasan Lamongan. Hal ini memperburuk kondisi kesehatan warga dan ketahanan pangannya, karena sawah dan tambak sumber hidup mereka rusak oleh banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini bantuan yang sangat dibutuhkan ialah: beras, mie instant, makanan kering, obat-obatan (flu, demam, salep kulit dan pusing), susu bayi dan anak (karena banyak anak), minum, air bersih, sabun, odol serta obat nyamuk atau autan karena banyak nyamuk serta sabun pembersih lantai. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-1908884358936647507?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1908884358936647507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1908884358936647507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/03/laporan-situasi-2-banjir-desa-mojoasem.html' title='Laporan Situasi 2: Banjir Di Desa Mojoasem, Laren, Lamongan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SbUbsI_9pJI/AAAAAAAABBE/9QKIFGkIFKY/s72-c/4.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-4369938661786809515</id><published>2009-03-03T09:26:00.000-08:00</published><updated>2010-09-01T08:16:33.392-07:00</updated><title type='text'>Kisah Survivor Banjir Mojoasem, Laren, Lamongan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Salam hormat selalu kami haturkan. Kami yang berada di lokasi banjir bengawan solo dalam keadaan sehat. Tim kami yang terdiri lebih dari 10 orang kompak selalu dalam menjalankan kerja-kerja kerelawanan. Karena ini bukan kali pertama kita berada di lokasi banjir desa Mojoasem kita tidak buta akan peta wilayah desa dan mungkin yang lebih menarik kita dari tim relawan sudah tidak lagi dianggap sebagai tamu atau orang asing didesa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmonisasi dan kekerabatan persaudaraan ini akan kami jaga karena sesuai dengan kesepakatan awal bahwa kita adalah bagian dari masyarakat dan bersama masyarakat melakukan gerakan peduli terhadap ancaman luapan sungai Bengawan Solo ini. Harapan kita semua luapan Bengawan Solo tidak lagi terjadi dan banjir lekas reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kronologi sekilas dari banjir akibat luapan Bengawan Solo yang kami catat ketika di lapangan dengan segala keterbatas media teknologi yang ada. Minimal ini mejadi gambaran sekilas dan untuk kevalidan data selanjutnya kita sambil jalan atau proses untuk melengkapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kronologi Sekilas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir bulan Februari 2009 Bengawan Solo kembali meluap dan ini adalah kedua kalinya luapan besar setelah luapan di bulan Desember tahun 2007 yang mengakibatkan tergenangnya desa-desa di kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Di antaranya desa Mojoasem yang secara letak geografis memang berada di tepi aliran Bengawan solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian banjir untuk desa Mojoasem ini berlansung pada tanggal 28 Februari ketika warga ramai-ramai bekerja keras untuk membuat tanggul buatan dari karung plastik (&lt;em&gt;gelangsing&lt;/em&gt;) yang di isi dengan tanah atau pasir untuk menahan air yang masuk ke desa Mojoasem ini jebol, tepatnya pukul 00.35 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya gerakan untuk menahan luapan air yang masuk ke desa Mojoasem ini dilakukan karena debit air Bengawan Solo semakin bertambah tinggi. Usaha yang dilakukan masyarakat desa Mojoasem sudah bulat, dengan satu tujuan yaitu bagaimana agar desa tidak banjir. Upaya ini dilakukan sebagai penyelamatan desa. Jika debit air terus bertambah maka tanggul untuk penahan air ini akan dinaikan karena dikwatirkan lupan Bengawan tidak hanya membanjiri tapi menengelamkan desa Mojoasem. Masih tersisa bekas air di tembok sekolah sedada orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung tanggul buatan ini jebol maka air masuk desa. Dalam hitungan 2 jam desa sudah tengelam. Usaha untuk pengurangan resiko banjir sudah dilakukan oleh masyarakat dan kami berpikir gerakan yang dilakukan masyarakat sudah sebegitu maksimalnya. Tetapi air Bengawan terus naik keatas, di tengah kelelahan karena sudah 4 hari melakukan gerakan untuk menahan luapan air Bengawan, tanggul desa akhirnya jebol. Gerusan air yang masuk ke desa menengelamkan banyak rumah dan ada 4 rumah rusak berat. Sampai email ini ditulis kondisi desa masih tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dampak Langsung:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Pemutusan jalur listri dari PLN yang mengakibatkan padamnya lampu dan menghambat aktivitas warga (sampai, 3 Maret 2009 masih padam, tahun lalu sampai 3 bulan)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Pertanian dan tambak gagal panen&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. Tidak ada ketersediaan bahan pokok untuk 3-4 bulan ke depan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Pengangguran masal mendadak terjadi karena sawah dan tambak tenggelam&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;5. Terputusnya jalur transportasi penghubung antar desa&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;6. Aktivitas anak sekolah terganggu, karena sekolah tenggelam, buku, meja dan kursi kotor, ruang kelas berlumpur. Beberapa sekolah itu: PAUD, TK An-Nur, MI, MTS, MA Al- Islamiyah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;7. Tidak berfungsinya tempat ibadah (1 Masjid, 4 Mushola)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;8. Kesulitan air bersih sesuai dengan standar kesehatan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;9. Kesulitan air minum&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;10. Munculnya penyakit baru yang disebabkan oleh banyaknya nyamuk, gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;11. Kurangnya perhatian terhadap asupan gizi anak-anak. Anak-anak kurang gizi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;12. Kurangnya perhatian kesehatan ibu dan anak. Karena banyak anak telantar di tenda pengungsian.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;13. Ternak terancam mati, karena tidak mendapatkan lokasi hidup alami namun di area penyelamatan dalam kandang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;(Ipung, adalah warga muslim kelahiran Mojoasem yang sekaligus korban banjir, menjadi relawan banjir desa setempat dan sekitarnya serta berkoordinasi dengan relawan Posko Karina yang menyewa rumah di rumah Bp. Subari, Mojoasem. Untuk mengirimkan email ini ia harus menempuh jarak hampir 10 km, mencari koneksi internet. Ia dapat dihubungi di &lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:pungkzsane@yahoo.com"&gt;&lt;em&gt;pungkzsane@yahoo.com&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;) &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-4369938661786809515?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/4369938661786809515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/4369938661786809515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/03/kisah-survivor-banjir-mojoasem-laren.html' title='Kisah Survivor Banjir Mojoasem, Laren, Lamongan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-5673467592401212980</id><published>2009-02-27T10:00:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:42:12.442-07:00</updated><title type='text'>Laporan Situasi: Banjir Di Bojonegoro, Lamongan dan Sidoarjo, Keuskupan Surabaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SagsaHNXk3I/AAAAAAAABAM/XZOnIM1wHCw/s1600-h/Lamongan4.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="148" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307540987979469682" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SagsaHNXk3I/AAAAAAAABAM/XZOnIM1wHCw/s200/Lamongan4.JPG" style="display: block; height: 238px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SagsR1KJRHI/AAAAAAAABAE/SBUekdQG7No/s1600-h/Lamongan.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307540845695157362" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SagsR1KJRHI/AAAAAAAABAE/SBUekdQG7No/s320/Lamongan.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 239px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SagsBhsQTCI/AAAAAAAAA_8/8bDk1TbMtpw/s1600-h/Lamongan3.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307540565591608354" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SagsBhsQTCI/AAAAAAAAA_8/8bDk1TbMtpw/s320/Lamongan3.JPG" style="cursor: hand; display: block; height: 231px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tanggal : 27 Februari 2009&lt;br /&gt;Lokasi : Bojonegoro dan Lamongan&lt;br /&gt;Dibuat oleh : Tim ERT Karina Keuskupan Surabaya, Rm. Wawan, CM dan Indro Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Situasi&lt;/strong&gt;Sejak hujan deras mengguyur beberapa daerah Jatim, maka beberapa lokasi rawan bencana banjir mengalami banjir. Mulai Rabu, 25/2/2009, banjir mulai memasuki kota Bojonegoro. Demikian pula hari berikutnya Ngawi dan Lamongan. Di Sidoarjo, banjir menggenangi wilayah desa Kalipecabeaan yang segera ditangani langsung oleh Seksos Paroki setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bojonegoro&lt;/strong&gt;Rm Hersemedi, CM dan Daniel, tim lokal ERT Karina Surabaya, Jumat siang melaporkan bahwa umat Paroki Bojonegoro telah melakukan bela rasa dengan menyediakan 300 nasi bungkus setiap hari dan telah dilakukan sejak 2 hari yang lalu dan akan berlanjut. Nasi bungkus tersebut tidak lagi dimasak di dapur umum Paroki seperti dulu tapi dimasak di 11 lingkungan, dengan rincian setiap lingkungan 25 bungkus. Romo mengatakan bahwa bantuan berupa sembako yang dimasukkan &lt;em&gt;rappid assessment&lt;/em&gt; akan diberikan setelah mereka bisa memasak dan diharapkan bisa ditambah pelayanan kesehatan. Saat ini, Amung dan Daniel sedang melakukan pendataan yang akan dibantu dan kebutuhan warga sambil berkeliling membagikan nasi bungkus. Pukul 18.27, Amung mengirim SMS menyampaikan bahwa kebutuhan mendesak: 1 ton beras, 30 dos Aqua, 50 Dos Mie Instant. &lt;em&gt;Kontak Paroki Bojonegoro: 0353-881160&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lamongan&lt;/strong&gt;Rm. Wawan, CM dan Indro Wicaksono dari Stasi Lamongan tepatnya di Pandean, Widang melaporkan bahwa warga sedang panik melakukan perbaikan tanggul dengan karung sak serta pasir / tanah seadanya. Tindakan itu sebagai antisipasi agar daerah utara Lamongan tidak tenggelam seperti tahun lalu. Keduanya lalu menuju Mojoasem, air sungai Bengawan Solo sudah sebatas tanggul. Kemudian di dusun Duyung dan Pesanggrahan air sudah di atas tanggul namun ditahan dengan karung-karung pasir buatan warga. Meskipun demikian air merembes. Perjalanan kemudian ke dusun Siser, tanggul telah jebol dan menenggelamkan perumahan dengan ketinggian air 2 meter. Dibantu oleh Opung, warga Mojoasem mengadakan assessment yang hasilnya akan diberikan segera. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sore, Rm Wawan, CM mengabarkan desa Mojoasem mulai dimasuki air dan mengusahakan rumah untuk disewa dijadikan Posko. Menurut Romo kebutuhan utama: logistik beras, mie instant, karung untuk sak pasir dan penerangan petromaks. &lt;em&gt;Kontak Stasi Lamongan: Bp. Francis, Seksos Stasi 081230061888 dan Rm Wawan, CM 08164292941&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sidoarjo&lt;/strong&gt;Rm. PF Nyoto Basuki, Pr melaporkan bahwa banjir telah melanda wilayah desa Kalipecabean yang merupakan daerah tepi pantai. Saat ini seksos Paroki telah menyediakan nasi bungkus yang diusahakan umat dan seksos paroki sebanyak 700 bungkus selama 2 hari ini. &lt;em&gt;Kontak Rm. Nyoto Basuki, Pr 031-8921828&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Posko Sumbangan Dan Kontak Person&lt;/strong&gt;Rumah Bp. Subari, Desa Mojoasem, Kecamatan Laren, Lamongan&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-5673467592401212980?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5673467592401212980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5673467592401212980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/02/situasi-banjir-di-wilayah-keuskupan.html' title='Laporan Situasi: Banjir Di Bojonegoro, Lamongan dan Sidoarjo, Keuskupan Surabaya'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SagsaHNXk3I/AAAAAAAABAM/XZOnIM1wHCw/s72-c/Lamongan4.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-5260654104684408922</id><published>2009-01-08T09:00:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:42:39.665-07:00</updated><title type='text'>Situation Report: Earthquakes In Manokwari, Papua, Indonesia, January 10, 2009</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SWYzNXvbvKI/AAAAAAAAA4U/os6VmQU6iXc/s1600-h/prelim.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288971117197507746" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SWYzNXvbvKI/AAAAAAAAA4U/os6VmQU6iXc/s320/prelim.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 307px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gempa Bumi di Manokwari and Sorong&lt;br /&gt;Papua, Indonesia&lt;br /&gt;8 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Negara: Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Nomor Laporan Situasi: # 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tanggal Pelaporan : 9 – 10 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pelapor: Unit Emergency Response and Preparedness Karina KWI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Informasi Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 4 Januari 2009, telah terjadi lebih dari 900 gempa susulan. Salah satu gempa susulan yang paling kuat mengguncang Manokwari pagi ini pk. 08.00 dengan kekuatan 7,55 SR, menyebabkan trauma berkepanjangan bagi korban terdampak yang tinggal di tenda-tenda. Kebanyakan dari mereka belum kembali ke rumah tinggal karena takut akan terjadinya gempa susulan dan tsunami.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, jumlah kerusakan bangunan yang ada di Distrik Manokwari sebagai berikut:&lt;br /&gt;- 44 gedung pemerintahan.&lt;br /&gt;- 1500 rumah.&lt;br /&gt;- 48 gereja.&lt;br /&gt;- 7 mesjid.&lt;br /&gt;- 12 rumah sakit.&lt;br /&gt;- 33 gedung sekolah.&lt;br /&gt;- 1 jalan.&lt;br /&gt;- 8 jembatan.&lt;br /&gt;- 4 hotel.&lt;br /&gt;- 52 gedung lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah barat Manokwari, kerusakan tercatat:&lt;br /&gt;- 659 rumah rusak ringan.&lt;br /&gt;- 4 gedung pemerintahan.&lt;br /&gt;- 13 gereja.&lt;br /&gt;- 3 mesjid.&lt;br /&gt;- 26 sekolah.&lt;br /&gt;- 1 jalan.&lt;br /&gt;- 4 jembatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Distrik Masni, yang berada di sebelah barat Manokwari, kerusakan tercatat:&lt;br /&gt;- 264 rumah rusak ringan.&lt;br /&gt;- 9 gedung pemerintahan.&lt;br /&gt;- 9 gereja.&lt;br /&gt;- 3 mesjid.&lt;br /&gt;- 1 rumah sakit.&lt;br /&gt;- 2 jembatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah bangunan yang mengalami kerusakan naik empat kali lipat hingga mencapai 5800, sementara warga terdampak yang mengungsi berjumlah antara 10.000 hingga 17.400 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa daerah yang terkena dampak hanya dapat dicapai dengan helicopter. Banyak rumah yang hancur dan rata dengan tanah. Daerah Papua yang terpencil memiliki keterbatasan akses jaringan jalan dan amat bergantung pada angkutan udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Propinsi Papua Barat, berjarak 2.950km dari Ibukota Jakarta, merupakan salah satu daerah yang paling terisolasi dan daerah yang miskin di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Populasi Terdampak&lt;br /&gt;Berdasarkan data tanggal 8 Januari 2009, jumlah warga terdampak yang harus mengungsi akibat gempa besar yang terjadi minggu lalu naik dua kali lipat hingga mencapai 17.400 orang. Ribuan orang yang harus mengungsi akibat gempa tersebut telah kembali pulang ke rumah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10.000 orang tetap tinggal di barak pengungsian di daerah pantai di Distrik Manokwari dan Sorong. Mereka masih khawatir akan terjadinya gempa susulan dan gelombang tsunami. Meskipun menuruk BMKG, getaran gempa semakin mengecil sejak 9 Januari 2009.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut pemda setempat, masalah yang ditakutkan saat ini adalah berjangkitnya wabah penyakit dan bantuan untuk warga terdampak belum diterima. Banyak pihak yang menawarkan bantuan tetapi di beberapa daerah yang sulit dijangkau mereka belum menerima bantuan. Warga membutuhkan makanan, tenda, dan selimut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemda setempat memperingatkan bahwa banyak warga terdampak yang harus mengungsi akibat gempa hebat minggu lalu semakin lemah dan dapat terserang penyakit. Banyak warga yang selamat menderita malaria, infeksi, dan masalah pernafasan karena kondisi tempat pengungsian dan cuaca yang tidak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Mitra Lokal dan International&lt;br /&gt;Menurut keterangan dari OCHA, pemerintah dan lembaga kemanusiaan telah membagikan banyak barang bantuan seperti makanan, obat-obatan, pelengkapan kesehatan, dan tenda. Meski demikian, hujan yang terus terjadi membuat proses distribusi berjalan lamban. Karena hujan, bantuan belum dapat dibagikan ke desa-desa yang terkena dampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OCHA juga menyebutkan bahwa Pemda Papua Barat telah menerima persetujuan bantuan senilai 2,2 milyar rupiah, sementara pemerintah pusat menyediakan bantuan sebesar 1,2 milyar rupiah untuk bantuan darurat dan keperluan rekonstruksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemkab Sorong baru saja kembali dari meninjau The same source said the West Papuan government had approved Rp. 2.2 billion ( US $ 199,000 ) while the central government had earmarked Rp. 1,2 billion ( US$ 108,000 ) for relief and reconstruction efforts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Sorong sudah meninjau di sekitar pesisir utara Papua yang menjadi wilayah terdampak gempa. Dari pantauan udara diperoleh gambaran bahwa dampak yang dialami oleh komunitas di sekitar pesisir tersebut cukup parah. Rumah, gedung gereja, sekolah banyak yang hancur. Banyak terjadi longsor di sekitar wilayah perbukitan di dekat pesisir pantai. Gempa tersebut juga membuat sumber mata air yang ada di sekitar pantai menjadi keruh dan sebagian menjadi kering. Bantuan yang dibutuhkan adalah tenda, food items, dan hygiene kit. Situasi alam yang tidak bersahabat membuat bantuan sulit diberikan, akses jalan darat sulit ditempuh, jika melalui laut, ombak terlalu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemda Sorong merencanakan fase emergency selama satu sampai dua bulan, kemudian dilanjutkan dengan fase rekonstruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;World Vision and HOPE telah membagikan barang bantuan non pangan berupa terpal platik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Program&lt;br /&gt;Salah satu hasil dari pengkajian awal di Manokwari adalah banyak warga terdampak yang masih membutuhkan terpal plastic, selimut, dan bahan makanan. Meskipun belum jelas jumlah yang dibutuhkan karena jumlahnya cukup besar dan mereka tersebar di daerah-daerah pelosok dan terpencil. Pembagian barang bantuan akan dilakukan ketika warga telah didata oleh pastor paroki yang bertugas di Manokwari bersama dengan kepada adat atau komunitas setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat (9/1) siang, Aribowo Nugroho telah tiba di Sorong dan bertemu secara resmi dengan Uskup Sorong, Mgr. Datus Lega, Rm. Paul Tan, Sr. Yakoba, dan Rm. Yan. Dalam kesempatan itu juga, Aribowo bertemu dengan Rm. Lewi Ibori selaku Ketua PSE Keuskupan Sorong bersama dengan wakil dari pemda setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, Jumat (9/1) malam Aribowo Nugroho akan menuju Wau bersama Sr. Yakoba dan Pastor Lewi untuk mengantarkan sejumlah barang bantuan berupa susu, pakaian, pakaian dalam, ember, dan pakaian anak-anak. Perjalanan ke Wau memakan waktu 10 jam dengan kapal laut. Tetapi, rencana tersebut dibatalkan karena cuaca yang buruk dikhawatirkan perlu waktu lebih seminggu untuk kembali ke Sorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan saran dari Aribowo Nugroho, Karina KWI dapat memberikan kontribusinya dengan focus pada warga terdampak di Wau, daerah cukup parah mengalami kerusakan akibat gempa. Bentuk bantuan itu akan diusulkan berupa hygiene kits, kitchen sets,dan shelter (terpal dan tikar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini (10/1), Aribowo Nugroho melakukan assessment di satu sub-distrik yang tidak jauh dari Sorong. Hasil dari assessment tersebut akan dilaporkan secara terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, Aribowo Nugroho akan kembali ke Jakarta Minggu sore, 11 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Koordinasi&lt;br /&gt;Mekanisme koordinasi bantuan darurat di Sorong dipimpin oleh Pemda Sorong. Mereka tetap siaga akan adanya kemungkinan gempa dan melanjutkan pembagian barang bantuan hingga tanggal 20 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinasi antara Keuskupan dan Pemda Sorong telah dilakukan dan disepakati bahwa pihak keuskupan akan sedapat mungkin memenuhi kebutuhan warga terdampak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-5260654104684408922?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5260654104684408922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5260654104684408922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2009/01/situation-report-earthquakes-in.html' title='Situation Report: Earthquakes In Manokwari, Papua, Indonesia, January 10, 2009'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SWYzNXvbvKI/AAAAAAAAA4U/os6VmQU6iXc/s72-c/prelim.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-438774880121553705</id><published>2008-07-20T11:02:00.001-07:00</published><updated>2008-07-20T11:09:42.677-07:00</updated><title type='text'>Logam Berat Lumpur Lapindo Mencemari Warga Porong</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Minggu-minggu terakhir beberapa korban lumpur Lapindo yang tinggal di pasar baru Porong, mengeluhkan gejala pembengkakan di bagian tubuhnya. Ini dialami baik lelaki dan perempuan tapi ada yang masih balita, ada juga yang usianya mencapai 40 tahun. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pembengkakan muncul di beberapa tempat, ada yang di payudara, di leher, dan dan bagian tubuh lainnya. Ini baru 2 tahun 2 bulan setelah luapan lumpur, bagaimana kelak? Diramalkan, lima sampai sepuluh tahun kedepan, gangguan kesehatan masal akan diderita korban Lapindo, maupun warga yang tinggal disekitarnya. Ramalan ini berdasarkan beberapa indikasi hasil penelitian oleh beberapa lembaga dan peneliti. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, peneliti Institut Pertanian Bogor -Dr. Dwi Andreas Santosa menemukan lumpur Lapindo mengandung logam berat macam &lt;em&gt;Cadmium, –Chromium, Arsen&lt;/em&gt; juga Merkuri di atas ambang baku mutu yang dipersyaratkan. Juga kandungan mikrobilologi pembawa bibit penyakit atau bakteri patogen, macam &lt;em&gt;Coliform, Salmonella &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Stapylococcus Aureus&lt;/em&gt; kandungannya juga di ambang batas dipersyaratkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan luberan lumpur dan sekitarnya kini makin berbahaya. Sedikitnya 15 kali tanggul penahan lumpur jebol dan menggenangi kawasan sekitarnya. Hingga pertengahan Mei 2008, setidaknya ada 90 semburan lumpur baru disekitar rumah warga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semburan lumpur ini mengandung Nitrogen Dioksida (NO2) yang mudah terbakar dan hidrokarbon (HC) yang beracun. Di Siring Barat, bahkan ditemukan hidrokarbon yang kandungannya lebih 266 ribu kali ambang baku yang diperbolehkan (Kompas 23/5). Gas-gas itu berbahaya, bersifat karsinogeinik dan dapat memicu kanker. Dan dampaknya akan terasa dalam jangka panjang. Ini diperkuat temuan Walhi Jatim, yang melakukan peneli tian pendahuluan tentang kandungan logam berat pada lumpur dan PAH sekitar luberan lumpur Lapindo, pada September 2007 hingga Januari 2008. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian dikatahui area luberan lumur dan sungai Porong telah tercemar logam kadmium (Cd) dan timbal (Pb) de ngan kadarnya jauh di atas ambang batas. Lumpur Lapindo yang sudah bercampur dengan sedimen Sungai Porong, kadar timbal-nya bahkan mencapai 146 kali ambang batas yang diperkenankan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belum lagi dugaan adanya kandungan PAH di kawasan luberan lumpur. PAH atau &lt;em&gt;Polyciclic Aromatic Hydrocarbon&lt;/em&gt;, senyawa kimia yang terbentuk akibat proses pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar fosil di areal pengeboran, yang tak banyak disinggung orang. Perturan Pemerintah No 41 tahun 1999 menyebutkan batas PAH yang diizinkan dalam 3 lingkungan adalah 230 g/m atau setara 0,23 g/kg. Ternyata ditemukan di seluruh titik pengambilan sampel lumpur Lapindo mengandung kadar &lt;em&gt;Chrysene&lt;/em&gt; diatas ambang batas. Sementara jenis &lt;em&gt;Benz(a)anthracene&lt;/em&gt; terdeteksi di tiga titik yang kesemuanya dia tas ambang batas. Kedua jenis senyawa PAH ini, kadarnya mencapai 2 ribu kali diatas ambang batas, bahkan ada yang lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;em&gt;United Nations Environment Programme&lt;/em&gt;, PAH adalah senyawa organik yang berbahaya dan karsinogenik. Ia tidak menyebabkan terbentuknya tumor ataupun kanker secara langsung. Tapi dalam sistem metabolisme tubuh akan diubah menjadi senyawa &lt;em&gt;alkylating dihydrodiol epoxides&lt;/em&gt;, yang sangat reaktif dan berpotensi menyebabkan tumor dan resiko kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedepan, warga korban Lapindo beresiko mengalami bioakumulasi dalam jaringan lemak manusia (dan hewan), kulit merah, iritasi, melepuh, dan kanker kulit jika kontak langsung dengan kulit, kanker, permasalahan reproduksi, membahayakan organ tubuh seperti liver, paru -paru, dan kulit. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;PAH juga bisa berakibat kanker paru-paru, kanker kulit dan kanker kandung kemih. PAH dapat masuk dalam tubuh manusia melalui pernafasan akibat menghirup asap rokok, asap pabrik yang menghasilkan limbah gas dengan banyak senyawa PAH di dalamn ya, makanan atau minuman yang terkontaminasi senyawa ini. Misalnya memakan ikan yang hidup dalam air yang terkontaminasi senyawa ini, berinteraksi secara langsung dengan menyentuh tanah atau air yang tercemar PAH, dimana senyawa ini terserap melalui pori -pori kulit walaupun kadarnya rendah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;PAH tidak larut dalam air, beberapa PAH terlarut ringan, tetapi terikat pada partikel kecil dapat mengalami fotodekomposisi. Belum pernah diketahui efek menghirup PAH dalam dosis tinggi secara langsung. Kontak langsung dengan kulit dapat menyebabkan kulit merah, iritasi, dan melepuh. Efek kesehatan dapat diketahui beberapa tahun setelah PAH terakumulasi dalam tubuh, antara lain dapat menyebabkan kanker, permasalahan reproduksi, dan membahayakan organ tubuh seperti liver paru -paru, dan kulit. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;em&gt;Wisconsin Department of Health and Family Services&lt;/em&gt; di lingkungan kita, ada sekitar &lt;em&gt;benzo(b)fluoranthene&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;dibenzo(a,h)anthrasene&lt;/em&gt;. Senyawa PAH berasal dari pembakaran tidak sempurna minyak mentah, kayu, batubara atau sampa h dan juga ditemukan di dalam unsur seperti aspal cair, cairan pengawet kayu, dan ter PAH ditemukan baik di udara, air atau sebagai padatan di dalam sedimen atau lahan. PAH bersifat jika terhirup akan masuk, dalam metabolisme tubuh dan dapat menyebabkan kanker. Seperti pada penelitian terhadap mencit, setelah PAH disuntikkan tidak hanya mengakibatkan kanker kulit tetapi juga menyebabkan kanker hati (Wang, 2006). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Studi toksikologi PAH melalui inhalasi dilakukan dalam laboratorium penelitian terhadap hamster. Dosis dari PAH yang diberikan berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh. Pemberian 46,5 mg/m &lt;em&gt;benzo(a)pyrene&lt;/em&gt; untuk waktu 109 minggu, telah menunjukkan bahwa dalam waktu 60 minggu saja telah terjadi penurunan daya tahan tubuh karena efek racun dan karsinogenik akibat menghisap PAH (terbentuk tumor di dalam hulu kerongkongan dan pangkal tenggorokan yang sudah bisa menghalangi masuknya makanan). &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-438774880121553705?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/438774880121553705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/438774880121553705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/07/logam-berat-lumpur-lapindo-mencemari.html' title='Logam Berat Lumpur Lapindo Mencemari Warga Porong'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-7931919799336780531</id><published>2008-07-07T11:00:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T08:17:53.918-07:00</updated><title type='text'>Cara Pemerintah Tangani Lumpur, Mengecewakan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Publik lebih memandang penting hasil akhir penanganan kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, daripada siapa yang harus bertanggung jawab terhadap penyelesaian masalah ini. Meskipun Lapindo Brantas Inc dinilai publik paling bertanggung jawab, pemerintah pusat dan pemerintah daerah pun tidak boleh lepas tangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terhadap masalah ganti rugi tanah dan properti korban luapan lumpur, misalnya, 98 persen responden jajak pendapat Kompas menyatakan Lapindo Brantas Inc harus bertanggung jawab. Hal yang sama, pernyataan responden kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah (masing-masing dilontarkan oleh 70,5 persen dan 74,9 persen responden).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terlebih Lapindo Brantas Inc, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat juga dituntut perannya dalam perbaikan infrastruktur yang rusak, pemenuhan kebutuhan hidup pengungsi, dan kompensasi terhadap korban yang kehilangan pekerjaan akibat luberan lumpur. Hal tersebut rata-rata disampaikan oleh 85 persen responden.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 76,6 persen responden dalam jajak pendapat yang dilakukan terhadap 1.329 responden di 16 kota ini juga menyatakan kecewa atas kinerja pemerintah yang tidak transparan soal perkembangan penanganan banjir lumpur Sidoarjo.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi peran dan posisi negara dihadapkan pada ujian terkait keberpihakannya kepada rakyat ataukah kepada kepentingan segelintir elite. Kasus semburan lumpur di Sidoarjo melibatkan perusahaan swasta yang kepemilikannya berkorelasi langsung dengan elite yang bercokol dalam struktur pemerintahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan milik kelompok Bakrie ini dinilai oleh delapan dari 10 responden sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap penanganan banjir lumpur Sidoarjo. Sementara berbagai hasil penelitian yang dilakukan sejumlah tim ahli mengarah pada kesimpulan dan rekomendasi yang berseberangan dengan harapan publik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hasil penetapan Tim Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo yang dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat, misalnya, menyimpulkan banjir lumpur di Sidoarjo sebagai bencana alam dan tidak terkait dengan kegiatan eksplorasi alam yang dilakukan oleh Lapindo Brantas Inc.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penyelidikan yang dilakukan oleh sejumlah tim ahli hingga saat ini belum mencapai kesepakatan soal penyebab dan sumber dari semburan lumpur. Sejauh ini pula tidak ada jaminan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo bisa dihentikan dalam waktu dekat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagian tim ahli yang melakukan penyelidikan berpendapat semburan lumpur adalah akibat kelalaian manusia dalam proses pengeboran yang dilakukan oleh Lapindo Brantas Inc. Kepolisian Daerah Jawa Timur bahkan menetapkan enam tersangka dari kontraktor yang disewa oleh Lapindo (Kompas, 3/7/2006). Sebulan kemudian, Polda Jatim kembali menetapkan tiga tersangka lainnya (Kompas, 25/8/2006). Mereka ditetapkan sebagai tersangka karena membiarkan pengeboran pada kedalaman 3.580 kaki sampai 9.297 kaki tanpa selubung, yang mengakibatkan terjadinya lost dan penanganan yang salah menyebabkan terjadinya luapan dari bawah tanah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, tim ahli yang beberapa nama mereka selalu dikutip dalam iklan-iklan Lapindo?lain berpendapat bahwa semburan lumpur di Sidoarjo merupakan fenomena alam, yang sama sekali tidak terkait dengan kegiatan manusia.Perkara penetapan status bencana semburan lumpur Sidoarjo akan berdampak pada masalah administrasi, soal siapa yang bertanggung jawab mengganti kerugian yang diderita oleh korban.Bagaimanapun, pemerintah sedang diuji kewibaan dan keberpihakannya. &lt;em&gt;(Suwardiman, Litbang Kompas)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-7931919799336780531?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/7931919799336780531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/7931919799336780531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/07/cara-pemerintah-tangani-lumpur.html' title='Cara Pemerintah Tangani Lumpur, Mengecewakan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-6381529830444672162</id><published>2008-07-07T10:53:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T08:20:36.342-07:00</updated><title type='text'>Faktor Alam Dan Multikrisis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;lmuwan sosial mengenal dua istilah untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya bencana, masing-masing: bencana alam dan bencana sosial. Bencana alam (&lt;em&gt;natural disaster&lt;/em&gt;) dan bencana sosial (&lt;em&gt;social disaster&lt;/em&gt;) diasumsikan sebagai cikal-bakal malapetaka yang mengakibatkan penderitaan bagi umat manusia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bencana alam tidak dapat diprediksi, seperti gempa bumi, tsunami, dan ledakan gunung berapi. Sebaliknya, bencana sosial merujuk pada perilaku, tindakan dan sikap manusia terhadap alam. Banjir di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia sudah seyogianya dicari penyebabnya pada perilaku warga. Kebijakan pembangunan dengan segala dampaknya dapat dikategorikan dalam bencana sosial. Sebagai contoh, kebijakan di sektor kehutanan dan tata ruang, yang membuka peluang bagi hancurnya lingkungan, kebakaran hutan di Sumatera dan meluapnya berbagai sungai.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Belum tuntas dampak banjir, yang menelan korban jiwa dan kerusakan bernilai miliaran rupiah, kini terjadi kelangkaan batu bara pada pembangkit listrik di Pulau Jawa. Tidak mampu mengatasi krisis energi yang melanda negeri penghasil BBM ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro berdalih bahwa "faktor alam" adalah penyebab krisis energi di Pulau Jawa. Menghadapi dampak banjir, krisis energi, dan minyak tanah yang semakin carut-marut ini timbul sikap cari selamat di antara pejabat pemerintah dan masyarakat, apakah bencana alam dan bencana sosial itu adalah buatan manusia atau faktor alam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kasus lumpur Lapindo yang telah menghempaskan penduduk dari tanah, lingkungan, dan harta miliknya, kini menjadi komoditas politik di kalangan DPR. Dua pemikiran kontradiktif mencuat untuk menduduki persoalan lumpur Lapindo. Apakah semburan lumpur itu karena faktor alam yang dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, ataukah luapan lumpur itu diakibatkan oleh kelalaian pihak pengelola pertambangan? Pihak DPR terpecah dua untuk kasus ini, antara faktor alam dan peranan aktor atau manusia. Sejumlah argumentasi dipaparkan sekadar untuk meyakinkan para korban bahwa faktor alam tidak dapat dicegah, sebab itu pemerintah akan mengambil alih tanggung jawab kasus lumpur Lapindo.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kelompok antikonsep "faktor alam" ini menafsirkan peristiwa itu sebagai strategi berkolusi pemerintah dan pemilik perusahaan, di mana pemerintah tidak tegas menentukan sikapnya.Antara alam dan manusia terdapat korelasi yang tidak terpisahkan. Alam seyogyanya dapat dimaknai kalau peranan manusia dikutsertakan. Peranan kerangka berpikir dan berperilaku konstruktif akan melahirkan dunia dan lingkungan yang aman untuk didiami.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Alam, dalam pandangan para pengusung konsep mistik, mempunyai faktor-faktor non-fisik yang berkontribusi terhadap bencana alam. Dengan menyebutkan gagasan itu, tidak dimaksudkan bahwa terdapat makhluk hidup di balik gunung berapi, yang berpotensi menciptakan letusan. Akan tetapi, di alam raya bertebaran sejumlah partikel dan atom yang kurang menjadi fokus studi para ilmuwan, yang juga berkorelasi dengan rasio dan tingkah pola manusia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menelusuri jalan pikir kelompok mistik ini, pikiran manusia dan kondisi batin manusia dapat mempengaruhi fenomena alam, dan kemudian "tampil" dalam beragam bentuk, baik negatif maupun positif.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para pakar seperti Thomas Hobbes, Plato, dan Aristoteles pun sedari mulanya sudah berupaya untuk memahami hukum-hukum alam (lex naturalis) yang mencakup bidang etis, politik, dan keagamaan dalam batin manusia, untuk melacak asal yang "baik" dan yang "jahat" itu. Bertendensi agak subyektif pada landasan teori tentang "kebaikan", Thomas Hobbes (1588-1679) setidaknya bergantung pada keinginan (&lt;em&gt;desire&lt;/em&gt;) seseorang yang dikaitkan dengan kondisi-kondisi penyebab terjadinya "sesuatu". Keinginan baik itu perlu didukung oleh faktor-faktor akal yang telah menjadi fenomena universal manusia. Lanjut Hobbes, "yang penting dalam hidup manusia adalah hasil yang maksimal ia capai, dihubungkan dengan niat baik di dalamnya".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari sisi agak berlainan, Aristoteles meyakini isu baik dan buruk tidak terletak selalu pada keinginan manusia, tetapi lebih banyak pada apa yang ia sebut sebagai &lt;em&gt;"somewhat perfective or completing of a being"&lt;/em&gt;. Apa yang diasumsikan sebagai "sempurna" dalam perspektif Aristoteles bersinggungan langsung dengan hakikat substansi atau "benda" itu sendiri. Demikian pun pada manusia, dengan segala keinginannya (baik dan jahat), dan pada penghujungnya akan dibuktikan dari tindakan nyata manusia. Berbeda dengan Aristoteles dan Hobbes, Plato cenderung skeptik terhadap keinginan baik manusia yang bersifat subjektif. Bagi Plato, "peranan manusia secara prinsipal tidak untuk memformulasikan hal baik saja, tetapi memikirkan juga segala kemungkinan yang akan dihasilkannya".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Penanggung Jawab&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menapaki wilayah tanggung jawab terhadap semua bencana alam dan bencana sosial dalam peradaban manusia, khususnya bagi masyarakat Indonesia, instansi utama yang diminta pertanggungjawabannya tetap manusia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kecelakaan langsung atau tidak langsung dikaitkan dengan human error. Dan sangat jarang terjadi ada pejabat publik yang bersikap ksatria untuk mengakui kegagalannya, setiap kali terjadi musibah. Cara mudah untuk lari dari tanggung jawab adalah mengalihkannya pada "faktor alam"; yang tidak logis diminta bertanggung jawab.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bila dibuat perbandingan, maka bencana alam dan bencana sosial keduanya memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan manusia. Melemparkan tanggung jawab kepada faktor di luar diri dan institusi terkait, seperti kerap disuarakan oleh kalangan pejabat publik di negeri ini, hanyalah membuktikan ketidakberdayaan mereka. Kebesaran jiwa diperlukan untuk mengakui bahwa padamnya listrik di Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali secara bergantian yang sangat merugikan masyarakat dan kalangan industri adalah salah satu indikator kelemahan strategi pembangunan yang dianut selama ini. Karena itu, monopoli negara terhadap berbagai bidang usaha dan kebijakan sentralistik sudah saatnya dikaji ulang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penyebab kebakaran hutan, degradasi lingkungan, pemanasan global, banjir, dan pemadaman listrik, tidaklah layak dicari pada faktor alam. Terus menyalahkan faktor alam inheren dengan menertawakan diri sendiri. Niat baik individu diperlukan, tetapi rasionalisasi kebijakan dan perilaku masyarakat juga tidak kalah pentingnya. Multikrisis di Indonesia paralel dengan multikrisis pada diri manusia. Apabila perilaku pejabat publik, anggota DPR, dan ilmuwan karena pertimbangan non-scientific menjustifikasi kekeliruannya agar terlepas dari tanggung jawab moral, maka mereka tampaknya lagi terjebak dalam pusaran multikrisis itu sendiri. &lt;em&gt;(John Haba, penulis adalah peneliti PMB-LIPI, Jakarta)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-6381529830444672162?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/6381529830444672162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/6381529830444672162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/07/faktor-alam-dan-multikrisis.html' title='Faktor Alam Dan Multikrisis'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-6453656349025972728</id><published>2008-07-07T10:45:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T08:22:41.118-07:00</updated><title type='text'>Politisasi Lumpur Lapindo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Setelah Pemilu 2004 pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) memiliki empat pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Keempatnya adalah kasus KKN Soeharto, penuntasan amendemen UUD '45, warisan KKN BLBI, dan tragedi lumpur Lapindo. Jika tiga yang pertama merupakan warisan dari rezim lama maka tragedi lumpur Lapindo adalah produk mutakhir pemerintahan SBY-JK.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mengapa disebut produk mutakhir pemerintahan SBY-JK? Jawabannya karena pemerintahan SBY-JK mengambil alih tanggung jawab PT Lapindo Brantas dengan meng- anggapnya sebagai bencana alam dan membiayainya dengan APBN. Oleh karena itu, jika dilihat secara kronologis, logika ini menemukan argumentasinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita catat, tragedi lumpur Lapindo dimulai pada 29 Mei 2006 di sumur BJP-1 milik PT Lapindo Brantas. Kemudian ditegaskan oleh Menneg KLH pada 9 Juni 2006 bahwa Lapindo bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Selanjutnya pada 18 Juni 2006, Menteri ESDM menegaskan dengan data dan tanggung jawab yang sama pada Lapindo. Akhirnya, Aburizal Bakrie pada 21 Juni 2006 sebagai pemilik Lapindo, mengaku bersalah dan menjadi "penanggung jawab" tragedi tersebut yang dikuatkan oleh penetapan tersangka pengelola Lapindo oleh Polda Jatim pada 31 Juli 2006.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, perjalanan fakta historis ini diambil alih oleh pemerintah SBY-JK pada 8 September 2006 dengan membentuk tim nasional (timnas) yang akhirnya membelokkan cerita dan fakta. Sejak itulah, pengakuan masalah Lapindo dan pemiliknya terkubur oleh "drama-drama baru" yang mempolitisasi tragedi Lapindo. Berubahlah alur sejarah tanggung jawab Lapindo ke negara dan kesalahan manusia menjadi "bencana alam". Padahal, setelah hampir dua tahun, dengan kerugian total mencapai Rp 33,2 triliun karena sampai hari ini menenggelamkan wilayah seluas 894 ha, meliputi 10 desa dari 3 kecamatan di Kabupaten Sidoarjo plus tergenangnya 1,5 km ruas jalan tol dan berbagai fasilitas umum, seperti, listrik, pipa gas, telepon dan PDAM, serta berbagai fasilitas umum dan sosial lainnya, maka pilihannya adalah "membunuh sumur Lapindo" (Greenomics, 2007). Pembunuhan ini menjadi kata kunci penyelesaian tragedi kemanusiaan yang korbannya begitu banyak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu - bahkan tanpa harus melihat penyebab sekalipun - apalagi data cukup akurat dari timnas yang menyimpulkan bahwa pengeboran di BJP-1 sebagai penyebab kejadian, sehingga menyisakan harapan untuk mematikan sumber semburan, maka "membunuh sumur Lapindo" adalah pilihan terbaik, murah, mudah, efisien, dan pro korban.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Dua Tahap&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rudi Rubiandini, ahli perminyakan ITB, Mustiko Saleh, mantan Wakil Dirut Pertamina, Kersam Sumanta dan Rubin Lubron, keduanya ahli perminyakan Pertamina, gagasan membunuh sumur Lapindo dapat dilakukan dengan dua tahap. Pertama, membuat lubang komunikasi dari permukaan ke sumber semburan atau lebih di bawahnya. Karena itu, melalui sumur BJP-1 digunakan snubbing unit atau small rig. Memang, upaya ini pernah dilakukan oleh timnas, namun karena di dalam lubang masih terdapat fish (besi pemboran yang ditinggalkan di dalam lubang) dan juga rusaknya casing (pipa pelindung lubang) maka upaya itu gagal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika langkah itu gagal maka kita harus membuat sumur baru yang jaraknya cukup jauh dan memiliki tanah stabil guna pemboran miring, yang dikenal dengan istilah relief well. Praktik relief well ini digunakan untuk membuka komunikasi wilayah permukaan dengan sumber semburan, yaitu sumur yang terletak pada titik yang cukup jauh dari titik semburan dan dibor miring menuju pusat semburan di bawah tanah. Memang, upaya ini pernah dilakukan oleh Timnas, namun tidak efektif, karena banyak hal non-teknis dan politis (dari Lapindo) yang mengganggu pelaksanaan program ini. Sebagai gambaran, rig century yang disewa dari Australia hanya bekerja efektif sekitar 2 bulan dari 6 bulan keberadaannya di lapangan. Lebih parah lagi, rig milik Pertamina hanya memiliki kesempatan 2-3 minggu dari 5 bulan keberadaannya di lapangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tahap kedua, yaitu mematikan sumber semburan. Cara yang dilakukan tiga. Pertama, menginjeksikan lumpur yang memiliki berat jenis tinggi, sehingga ketika bercampur dengan cairan pada sumber semburan akan menghasilkan lumpur yang mampu mengimbangi tekanan semburan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada upaya penghentian semburan lumpur di Sidoarjo, perhitungan simulasi menghasilkan syarat keberhasilan mematikan semburan dengan metoda menginjeksikan lumpur berat akan berhasil bila sumur relief ini memiliki diameter casing terakhir minimal 9-5/8 inci. Bila diameter casing hanya dapat direalisasikan 7 inci maka diperlukan dua lubang &lt;em&gt;relief well&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Zona Bermasalah&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kedua sumur &lt;em&gt;relief well&lt;/em&gt; tersebut memiliki tugas sebagai berikut. &lt;em&gt;Relief Well-1&lt;/em&gt; bertugas melakukan pengeboran vertikal terlebih dulu sampai melewati zona yang bermasalah dan kemudian membor miring menuju sumber semburan di Banjarpanji-1. Bila casing terakhir 9-5/8 inci berhasil dipasang, maka bisa dicoba mematikan semburan dari sumur ini. Bila tidak bisa mematikan atau casing-nya lebih kecil, maka kegiatan mematikan semburan harus dilakukan bersama &lt;em&gt;Relief Well-2&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Relief Well-2&lt;/em&gt; dioperasikan bila &lt;em&gt;Relief Well-1&lt;/em&gt; tidak dapat mematikan semburan. Dengan tambahan &lt;em&gt;Relief Well-2&lt;/em&gt; ini kepastian mematikan semburan lebih terjamin. Selanjutnya kita harus membunuh semburan dengan metode dynamic killing. Teknologi yang menggunakan pendekatan tekanan hidrodinamik ini sangat umum dilaksanakan dalam mematikan semburan liar (&lt;em&gt;blow-out&lt;/em&gt;) di seluruh dunia. Konsepnya adalah memasukkan cairan yang cukup berat ke dalam lubang melalui sumur baru yang posisinya lebih aman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hasil simulasi secara terus- menerus disempurnakan dan didiskusikan dengan berbagai pihak yang kompeten di bidang ini serta berpengalaman dalam mematikan blow-out ternyata berhasil. Tim yang terlibat dalam diskusi tersebut adalah &lt;em&gt;Boots &amp;amp; Coots Engineering&lt;/em&gt; (USA), Abel Engineering (USA), Tim ITB (Indonesia), Tim BP Migas &amp;amp; Pertamina (Indonesia).Dengan mengambil asumsi lubang telah membesar 40 kali yaitu sebesar 25.000 barel, semburan diambil maksimum 750.000 barel per hari (520 bpm), dan densitas lumpur yang meluap sebesar 12,5 ppg (&lt;em&gt;pound per gallon&lt;/em&gt;), maka hasil kesimpulan yang diperoleh adalah, (1) lumpur berat yang dibutuhkan memiliki densitas minimal 22 ppg, (2) volume lumpur berat yang harus disediakan minimal 15.000 bbls, (3) pompa harus disediakan dengan kemampuan minimal mampu mengalirkan lumpur sebesar 120 bpm (5.000 gpm atau 173.000 bpd).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bila teknologi dynamic killing tidak mampu membunuh sumur Lapindo maka kita harus menggunakan teori memproduksi air asin dari lapisan bawah dipompa keluar menggunakan dua sumur relief well ke permukaan, sehingga tekanan yang selama ini mengangkat lumpur ke permukaan akan terkurangi dan akhirnya mematikan semburan lumpur yang tidak terkontrol.Teknologi ini dibantu dengan memasang pompa ESP (pompa listrik yang terendam) dengan kemampuan sangat besar yang dimiliki teknologi produksi minyak. Dengan menggunakan dua pompa besar secara paralel maka akan secara signifikan mengurangi daya dorong lumpur ke permukaan dari lubang lama yang sekarang dilalui lumpur secara tidak terkontrol.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bila kedua usaha tersebut tidak berhasil membunuh sumur Lapindo maka metode terakhir adalah meruntuhkan lapisan di sekitar pusat semburan dengan menggunakan bahan peledak. Teknologi yang diprakarsai oleh Mustiko Saleh itu didasarkan atas beberapa pertimbangan.&lt;em&gt; (M. Yudhie Haryono, Direktur Eksekutif Nusantara Centre)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-6453656349025972728?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/6453656349025972728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/6453656349025972728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/07/politisasi-lumpur-lapindo.html' title='Politisasi Lumpur Lapindo'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-3756857720499749503</id><published>2008-07-07T09:19:00.000-07:00</published><updated>2008-07-07T09:22:01.081-07:00</updated><title type='text'>Kekeringan, Banjir Dan Ekonomi Suram</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beralihnya musim hujan ke musim kemarau telah menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya kekeringan dan puso tanaman di beberapa daerah. Jika musim kemarau ini lama, maka perekonomian, terutama yang dihadapi petani, akan terancam. Lahan pertanian petani akan mengalami kekeringan dan puso. Jika hal ini terjadi, maka angka penduduk miskin akan bertambah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gejala kekeringan yang mulai tampak di berbagai daerah ditandai dengan semakin berkurangnya air. Gejala kekeringan, antara lain, sudah melanda Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat ini, seperti yang diberitakan media massa, terdapat 48.000 keluarga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus membeli air bersih dari tangki-tangki yang dijual oleh agen air. Dan parahnya, air yang dijual kepada rakyat sangat mahal. Pada 2006 saja, satu tangki air Rp 120.000. Harga ini cukup memberatkan rakyat miskin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sebagian tanaman padi usia 45-60 hari terlihat layu. Daun padi menguning sebelum waktunya. Retakan sawah kian melebar. Seiring dengan menurunnya debit air di saluran irigasi sering terjadi rebutan air antarwarga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 79 hektare sawah kekeringan. Tanaman yang baru berusia 30-50 hari layu dan nyaris kering. Pengamat hama dari Dinas Pertanian Banjarnegara, Aris Widiyanto, mengatakan, sawah yang kekeringan di daerah itu umumnya di kawasan hilir aliran irigasi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, lima waduk mendangkal. Waduk- waduk itu kini hanya menampung air 10-25 persen dari kapasitas normal. Akibatnya, lahan tanaman padi dan tambak di sekitarnya kekeringan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat di daerah yang kekurangan air, seperti disebutkan di atas, sangat khawatir bahwa musim kemarau ini akan lama. Sebab, selain menghentikan roda pertanian juga akan berdampak pada suramnya perekonomian nasional, buruknya kesehatan, semakin mahalnya bahan-bahan pokok, dan lain-lain. Logikanya, dalam teori ekonomi ketika lahan produksi sudah tidak bisa digunakan dan stok semakin berkurang, sedangkan kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi bahkan meningkat, maka harga barang-barang kebutuhan masyarakat semakin mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Korban Pertama&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rakyat miskin, yang sebagian besar petani, akan menjadi korban pertama bencana kekeringan. Sebab, lahan pertanian mereka sudah tidak bisa digarap lagi.Sumber penghasilan mereka menjadi kering. Melihat kondisi seperti ini, seharusnya pemerintah mengimbau masya-rakat untuk menghemat air. Di samaping itu, pemerintah harus menyusun strategi jangka panjang dalam mengatasi kekeringan setiap tahun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironis, Indonesia, yang katanya termasuk dalam lima negara kaya air di dunia, ternyata masih mengalami kekeringan. Anehnya lagi, ketika musim hujan air berlebihan bahkan terjadi banjir. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, faktor penyebab kekeringan sama persis seperti faktor penyebab banjir. Keduanya berperilaku linier dependent, yakni semua faktor yang menyebabkan kekeringan akan bergulir mendorong terjadinya banjir. Semakin parah kekeringan semakin besar pula banjir yang akan menyusul dan sebaliknya (Novitasari MT, 2006). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penyebab utama terjadinya kekeringan dan banjir adalah perubahan kawasan hutan di hulu-hilir air yang sebelumnya merupakan daerah resapan air menjadi lahan permukiman, industri, dan pertambangan. Bahkan menjadi hutan yang gundul. Akibatnya, air hujan yang jatuh langsung Meng-alirke sungai bukan masuk ke dalam tanah. Berkurangnya daerah resapan air mengakibatkan pada musim kemarau aliran air dalam tanah berkurang, sehingga memengaruhi sistem sungai. Sedangkan pada musim hujan akan terjadi banjir karena kurangnya lahan peresap air.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hutan yang dijadikan lahan industri disinyalir oleh beberapa kalangan menjadi penyebab utama terjadinya banjir. Modernisasi dan globalisasi yang ditandai adanya industrialisasi telah memunculkan permasalahan baru. Sebab, dalam dunia industri dewasa ini yang paling diutamakan adalah keuntungan sesaat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang ditulis Willy (2008), Indonesia sebagaimana yang tercatat dalam buku rekor dunia, Guiness Book, termasuk dalam negara dengan tingkat penghancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan dunia. Greenpeace mencatat, setiap jam Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepak bola. Sebanyak 72 persen dari hutan asli Indonesia telah musnah dan setengah dari yang tersisa masih terancam kebakaran, dan penebangan komersial. Di samping itu, pembukaan areal untuk perumahan dan industri ikut berperan dalam mengurangi wilayah resapan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemerintah Tegas&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, melihat gejala kerusakan alam dengan adanya industrialisasi yang kemudian mengakibatkan banjir pada musim hujan dan ke- keringan pada musim kemarau, seharusnya pemerintah tegas dalam mengambil kebijakan yang berpihak pada kepentingan seluruh rakyat, bukan karena oknum atau golongan tertentu. Banjir dan kekeringan yang setiap tahun terjadi harus segera bisa di-atasi dengan cepat, sehingga kesengsaraan rakyat dan kemiskinan dapat diminimalisir.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, menurut Khudori (2003), ketimpangan neraca air di musim kemarau dan di musim hujan sebenarnya memberikan gambaran jika ada yang bisa dikelola untuk mengeliminasi kerugian. Caranya, mengelola risiko kekeringan dengan dua langkah sekaligus, penghematan air di kala kekurangan dan penyimpanan air di kala berlebihan. Dua aktivitas ini, lanjut Khudori, merupakan tindakan konservasi air, aktivitas yang berintikan penghematan penggunaan air.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bisa dilakukan dengan memperbanyak membangun embung, cekdam, sumur resapan atau terasering. Intinya, berbagai tindakan ini dimaksudkan untuk menghambat aliran air hujan dari hulu ke hilir, disertai peningkatan penyebaran seluas-luasnya ke dalam tanah. Dengan demikian, mudah-mudahan roda perekonomian akan tetap terjaga dalam kondisi apa pun. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-3756857720499749503?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/3756857720499749503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/3756857720499749503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/07/kekeringan-banjir-dan-ekonomi-suram.html' title='Kekeringan, Banjir Dan Ekonomi Suram'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-982573140822704235</id><published>2008-07-07T08:40:00.000-07:00</published><updated>2008-07-07T08:44:52.243-07:00</updated><title type='text'>1000 Korban Lapindo Tolak Uang Dan Tempat Tinggal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sekitar 1.000 korban semburan lumpur Lapindo yang mengatasnamakan Gerakan Pendukung Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 dari berbagai desa kemarin menggelar istigasah. Acara dilakukan di Masjid Nurul Huda, Desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo, yang kini telah rusak akibat terjangan lumpur Lapindo. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Warga menuntut Lapindo mempercepat pembayaran cash and carry. Mereka menolak konsep baru cash and resettlement seperti yang diterima kelompok Gerakan Korban Lumpur Lapindo. “Konsep awal jangan diganti-ganti,” kata koordinator warga, Fathurozi, kemarin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari pantauan Tempo, acara ini diikuti oleh sebagian besar korban Lapindo dari kawasan yang masuk peta dampak lumpur, yakni Desa Renokenongo, Siring, Jatirejo, Kedungbendo, Besuki, Mindi, Pejarakan, Kedungcangkring, Ketapang, Glagah Arum, Kalitengah, serta Gempol Sari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka meminta Minarak melunasi proses pembayaran ganti rugi 80 persen sebagaimana telah diatur dalam Perpres No. 14/2007. Dalam peraturan ini disebutkan, aset warga berupa tanah kering atau tanah pekarangan diganti dengan Rp 1 juta per meter persegi, tanah sawah Rp 120 ribu per meter persegi, dan bangunan Rp 1,5 juta per meter persegi. Vice President PT Minarak Andi Darussalam Tabusalla sampai berita ini diturunkan belum mau mengangkat telepon selulernya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mantan Lurah Renokenongo, Ny Mahmudah, berharap pemerintah bisa menjembatani perbedaan penafsiran antara Minarak dan warga. Ketua Panitia Khusus Lumpur Lapindo Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sidoarjo Maimun Siroj berjanji akan segera mempertemukan warga dengan pihak Minarak. “Jangan sampai warga semakin terpecah,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, Maimun meminta korban Lapindo yang berada dalam peta dampak segera mengambil jatah bantuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Uang itu, kata dia, telah diterima dan dimasukkan ke rekening Pemerintah Daerah Sidoarjo sejak beberapa bulan lalu. Bantuan dari Presiden tersebut, menurut Maimun, berjumlah Rp 10 miliar dan saat ini masih tersisa sekitar Rp 700 juta. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Satu Semburan,Tujuh Kelompok&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Semburan lumpur panas Lapindo di wilayah Sidoarjo, yang sampai saat ini terus bermunculan, mengakibatkan terpecahnya warga. Setidaknya dalam dua tahun ini, satu semburan sudah memunculkan tujuh kelompok dengan tuntutan yang berbeda. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1.Kelompok Choirul Huda, mengatasnamakan Gabungan Korban Lumpur Lapindo beranggota sekitar 1.500 orang dengan tuntutan cash and resettlement. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2.Kelompok Fathurozi atau Ny Mahmudah, mengatasnamakan Gerakan Pendukung Perpres dengan anggota sekitar 1.000 orang dengan tuntutan cash and carry. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3.Kelompok Soenarto, mengatasnamakan Paguyuban Warga Renokenongo Menolak Kontrak dengan anggota sekitar 1.500 warga menuntut percepatan ganti rugi maksimal Desember 2008. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;4.Kelompok Perumtas pimpinan Imam Agustinus, dengan anggota lebih dari separuh warga perumtas dengan tuntutan resettlement murni. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;5.Kelompok Perumtas pimpinan Sumitro, dengan anggota kurang dari separuh warga perumtas dengan tuntutan cash and carry. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;6.Kelompok di luar peta dampak pimpinan Bambang Kuswanto dengan anggota warga Siring Barat, Jatirejo Barat, dan Mindi, menuntut ganti rugi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;7.Kelompok Abdurrohim dengan anggota warga Desa Besuki, Pejarakan, dan Kedungcangkring dengan tuntutan revisi Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 tentang Peta Dampak. &lt;em&gt;(Koran Tempo, 7 Juli 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-982573140822704235?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/982573140822704235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/982573140822704235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/07/1000-korban-lapindo-tolak-uang-dan.html' title='1000 Korban Lapindo Tolak Uang Dan Tempat Tinggal'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-3573991887288550121</id><published>2008-07-05T02:00:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:45:57.627-08:00</updated><title type='text'>Temu PSE Keuskupan Se-Regio Jawa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SG86uWYok7I/AAAAAAAAAjg/Q6EJtqnORUo/s1600-h/3-4+Jul+020.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219455061102990258" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SG86uWYok7I/AAAAAAAAAjg/Q6EJtqnORUo/s320/3-4+Jul+020.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aktivis PSE Se-Regio Jawa, 2-4 Juli 2008 lalu mengadakan temu Sasana Krida Jatijejer, Trawas, Mojokerto. Acara pelatihan tahunan bertema Pengurangan Resiko Bencana dihadiri 85 peserta dari 7 Keuskupan difasilitasi oleh Bp. Sigit Purwanto dari LPM UPN Veteran, Yogyakarta. Beberapa hasil pertemuan tersebut antara lain rekomendasi bersama para Pastor Ketua atau Moderator PSE, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- akan mengumumkan rekening resmi (atas nama Keuskupan) dan alamat posko bantuan in natura ke jejering Keuskupan Regio Jawa, jika Keuskupan kami terkena bencana&lt;br /&gt;- mengusulkan kepada kuria Keuskupan untuk membantu Keuskupan lain yang terkena bencana&lt;br /&gt;- mengerakkan dan memobilisasi umat untuk tergerak membantu dan menyumbang misalnya dengan menulis surat ke paroki-paroki&lt;br /&gt;- mendukung Pengurangan Resiko Bencana yang akan diadakan oleh Karina KWI&lt;br /&gt;- menghasilkan salah satu pemetaan / pengurangan resiko bencana yang paling rawan di Keuskupan masing-masing (Keuskupan Surabaya membahas lumpur lapindo dan gunung Kelud)&lt;br /&gt;- membangun jejaring intensif lewat mailing list yang akan dibentuk&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada pertemuan tersebut juga terjadi pergantian pengurus PPSM (Paguyuban Penggerak Swadaya Masyarakat) dari Keuskupan Surabaya-Malang ke pengurus baru Keuskupan Bandung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-3573991887288550121?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/3573991887288550121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/3573991887288550121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/07/temu-pse-keuskupan-se-regio-jawa.html' title='Temu PSE Keuskupan Se-Regio Jawa'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SG86uWYok7I/AAAAAAAAAjg/Q6EJtqnORUo/s72-c/3-4+Jul+020.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-1285968155851888700</id><published>2008-03-16T23:42:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T23:47:08.556-07:00</updated><title type='text'>Situasi Terkini Banjir Laren, Lamongan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Relawan yang berkoordinasi dengan kami, Opung Juprianto sedang di lokasi kecamatan Laren, Lamongan melaporkan bahwa situasi di sana membutuhkan bantuan. Karena banjir kembali mengenang desa sejak seminggu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 4 Maret 2008 telah mengirimkan bantuan terpal, pakaian pantas pakai dan paket sembako 600 bungkus dipandu oleh Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 15 Maret 2008, Rm. Didik Setyawan, CM, kordinator pelaksana telah memberangkatkan bantuan beras ke Stasi Lamongan dengan 1 mobil box.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 16 Maret 2008, Rm. Didik Setyawan, CM kembali mengirimkan bantuan ke Stasi Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 17 Maret 2008 bantuan akan didistribusikan ke korban banjir di beberapa desa. Bantuan telah dikemas dalam rupa paket oleh umat Stasi Lamongan, 1 paket berisi 2 kg beras, 5 bungkus mie instant dan kue kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun data yang masuk ke kami tentang kondisi di Laren, Lamongan hingga sore ini ialah:&lt;br /&gt;- jumlah keluarga yang membutuhkan bantuan sebanyak 288 kk di desa Mojoasem, 315 kk di desa Siser dan 368 kk di desa Pesanggrahan&lt;br /&gt;- bantuan yang dibutuhkan ialah tanggap darurat: sembako, makanan, lauk pauk&lt;br /&gt;- banjir saat ini setinggi lutut orang dewasa, listrik padam&lt;br /&gt;- sekolah masih libur, karena banjir&lt;br /&gt;- warga desa Siser dan Pesanggrahan lebih parah dibanding warga desa Mojoasem&lt;br /&gt;- ratusan hektar sawah dan tambak milik warga rusak, tenggelam oleh banjir dan baru bisa digarap kembali 3 bulan ke depan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika ada yang hendak hadir di sana sebaiknya menemui Kepada desa setempat. Relawan kami sudah membuka jalan bantuan sejak banjir Desember lalu dan mereka akomodatif terhadap bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak person:&lt;br /&gt;- Posko Gereja Katolik Stasi Lamongan, Pak Bianto 0811312026&lt;br /&gt;Jl. Ki Mardi Mangunsarkoro 10 Lamongan&lt;br /&gt;- Opung Juprianto (relawan di lokasi) 08158479068&lt;br /&gt;- Kepala desa Mojoasem 081553635000 atau 081331860335&lt;br /&gt;- Kepala desa Siser 08121710795&lt;br /&gt;- Kepala desa Pesanggrahan 085232777698 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-1285968155851888700?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1285968155851888700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1285968155851888700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/03/situasi-terkini-banjir-laren-lamongan.html' title='Situasi Terkini Banjir Laren, Lamongan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-1183239035218712062</id><published>2008-03-15T06:44:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T08:25:51.269-07:00</updated><title type='text'>Lumpur Lapindo, Lumpurnya "Tuhan" ?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Without correct words, there will be no correct practice. (Dombrowsky)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Rabi Greenberg menuturkan kisah lucunya tahun 1950-an di New York City yang dilanda musim kering dan pemerintah membuat awan buatan sebagai awal teknologi hujan buatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menyebabkan agamawan bertanya, apakah manusia mengambil alih peran Tuhan? ”Saya ingat sebuah kartun di the New Yorker yang melukiskan sekelompok pendeta yang kelihatan amat cemas sedang duduk mengelilingi meja dan melihat keluar melalui jendela, menyaksikan turunnya hujan. Seorang pendeta berkata, ’Ini hujan kita, atau hujan mereka?’” (John Naisbit, 2001:49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita membayangkan suasana batin yang mungkin melingkupi Senayan dan Istana terkait peristiwa di Sidoarjo. Karikatur imajiner yang bisa menggambarkan batin penguasa dan rohaniwan Indonesia dengan pertanyaan, ”Ini lumpur Lapindo atau lumpurnya Tuhan?” Kini, dalam realitas, DPR dan pemerintah memerlukan jawaban ”bencana alam atau bencana teknologi”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi mendefinisikan/ pendefinisian atas sesuatu, sebuah definisi terdiri dua bagian, yakni kata yang didefinisikan (&lt;em&gt;definiendum&lt;/em&gt;) dan kelompok kata atau konsep yang digunakan untuk mendefinisikan (&lt;em&gt;definien&lt;/em&gt;). Sebuah definiendum harus bermakna sama dengan definien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neil Britton mengatakan, ”Sebagaimana seorang/pihak menafsirkan sesuatu bergantung pada apa yang disyaratkan untuk dilakukan terhadap sesuatu dimaksud.” Namun, Britton mengingatkan definisi bukan sekadar alat bantu berpikir, tetapi juga soal orientasi mental dan emosi, model pemaknaan dan cara pandang pemberi definisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Definisi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Salinan UU No 24/2007 mendefinisikan, ”bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia, mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, peristiwa Sidoarjo memenuhi kecirian definisi bencana UU No 24/2007. Jika ditanyakan kepada rakyat yang mengalami, jawabannya, ”rumah terkubur, pekerjaan hilang, aset penghidupan hancur, kerugian nasional mencapai paling sedikit Rp 7 triliun. Orang dari kaya menjadi miskin. Yang miskin makin melarat. Secara psikis tidak ada kata yang bisa menyamai pengalaman mengalami bencana itu.” Definisi ini dikenal dengan definisi situatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini, kata ’bencana’ tidak merepresentasikan diri sendiri. Bencana juga tidak sekadar merepresentasikan lingkungan yang rusak. Bencana dan lingkungan yang rusak merepresentasikan manusia dan kepentingan manusia di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ”bencana alam” bermakna kausalitas. Salinan UU No 24/2007 mengatakan, ”Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam, antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan paling mendasar UU No 24/2007 adalah tidak memberi ruang atau definisi kausalitas bencana untuk interaksi atau keterkaitan antara yang alami dan buatan manusia. Secara empiris, ini bertentangan karena ada yang dikenal sebagai ”bencana antara”. Peristiwa yang satu men-triger yang lain. Bisa saja kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya yang tidak menjalankan prinsip kehati-hatian men-trigger kejadian alam yang ekstrem. Misal, eksploitasi hutan memicu mudahnya banjir. Sebaliknya, peristiwa alam seperti gempa bisa memicu kecelakaan kebakaran seperti gempa Kobe 1995 atau kecelakaan nuklir di Jepang setahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wapres Jusuf Kalla mengatakan, ”Perlu penelitian mendalam. Saya kira tidak bisa dinyatakan secara politik (oleh DPR). Bencana alam atau bukan, itu bukan masalah politis.” (Kompas, 19/2/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, sains tidak menawarkan kepastian 100 persen. Sains datang dengan skenario, probabilitas, kemungkinan, dan solusi trial and error. Ini yang terjadi dengan sains dalam konteks lumpur di Sidoarjo. Dalam tradisi epistemik di universitas-universitas dunia, sebuah hasil penelitian yang dipublikasikan akan mendapat banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Inilah alasannya mengapa seolah IAGI saling ”berseteru” tepatnya setahun silam dalam sebuah workshop internasional. (Tempo Interaktif, 6/3/2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Istilah Bencana Alam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, istilah hitam-putih ”bencana alam” sebenarnya problematik dan masalah utama adalah pada paradigma dan kuasa tafsir atas bencana. Maka, tafsir bencana tidak bisa hanya diserahkan kepada ahli teknis geologis/geofisik saja. Dalam epistemologi bencana, alam adalah alam. Bencana adalah bencana. Bukan alam yang mengeksplorasi migas di Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir bencana adalah sebuah konsensus yang seharusnya trans-disiplin (baca: antara pengambil kebijakan dan ahli lintas disiplin, termasuk ilmuwan sosial dan pihak yang dianggap korban/pelaku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat yang dipersepsikan ”bodoh” tidak bisa menerima begitu saja bahwa ini adalah lumpurnya Tuhan. Ketiadaan konsensus atas bencana di Sidoarjo ternyata mengakibatkan biaya transaksi tinggi. Namun, keputusan tentang penanggung jawab bencana Sidoarjo adalah bukan semata-mata putusan hukum. Diperlukan keputusan politik karena lepas dari faktor kausalitas yang tidak pasti karena keterbatasan sains dan ketidakpastian pengetahuan, ada situasi obyektif menunjukkan, jumlah rakyat miskin di Sidoarjo yang terjadi dalam dua tahun terakhir membutuhkan keberpihakan politik dari penguasa di DPR maupun eksekutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melemparkan tanggung jawab kepada sains yang tidak pasti adalah sebuah pengkhianatan terhadap amanat yang diberikan rakyat. Dan sains hendaknya dimandatkan untuk tidak merampas mandat pengambilan keputusan yang bersifat politik. Kepastian keberpihakan dari negara diperlukan dalam menyelesaikan ketidakpastian hidup dan penghidupan rakyat di Sidoarjo yang semakin tak menentu.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;(Jonatan Lassa, PhD, Researcher Kajian Disaster Risk Governance-BIGS-DR-ZEF University of Bonn-Bonn)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-1183239035218712062?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1183239035218712062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1183239035218712062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/03/lumpur-lapindo-lumpurnya-tuhan.html' title='Lumpur Lapindo, Lumpurnya &quot;Tuhan&quot; ?'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-2416462188566384811</id><published>2008-03-04T16:15:00.000-08:00</published><updated>2010-09-01T08:28:34.569-07:00</updated><title type='text'>Situasi Porong Dan Korban Lumpur Terkini</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ketika banyak orang bertanya, bagaimana situasi Porong saat ini ? Lebih dahulu kontak person kami di Pasar Baru Porong tempat para pengungsi dari desa Renokenongo dan Jatirejo serta warga 11 desa yang tidak masuk dalam wilayah terdampak namun selalu terkena imbas jebolnya tanggul selalu bertanya, Romo, adakah yang berinisiatif membantu kami di sini ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Memang ada kontak person di Porong, tepatnya di pengungsian pasar baru, di desa Mindi, desa sebelah tanggul yang tidak masuk wilayah terdampak namun kena imbas buruknya kondisi pasca luapan lumpur hingga sekarang. Ketika masuk ke rumah dan menengok mereka, ada beberapa umat yang telah mengemas barang, siap mengungsi. Mereka hidup dalam kecemasan. Mereka inilah yang selalu mengontak lewat sms atau telpon jika terjadi perkembangan maupun situasi buruk di seputar Porong. Permintaan mereka yang terakhir ialah dukungan dana untuk berangkat ke gedung DPR RI di Jakarta, serta permohonan untuk biaya air minum dan air bersih yang biayanya mencapai Rp. 90.000,- per hari / dua tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, hampir semua warga Porong hidup dalam suasana tak bersahabat dengan lingkungan. Debu bertebaran, jika hujan khawatir tanggul jebol. Pipa PDAM di tepi jalan raya sering tersembur dan membanjiri jalan, karena patah oleh tanah yang bergerak maupun tekanan beban kendaraan yang padat. Maklum sejak jalan tol putus oleh luapan lumpur, semua arus kendaraan melimpah di jalan raya Porong, jalur utama Surabaya-Malang dan kota lain di timur seperti Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, bahkan trans Jawa-Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lintas yang sangat padat membuat suasana panas semakin panas dan memuakkan. Perjalanan bisa macet hingga satu jam, jika lewat jalan raya Porong. Belum lagi udara yang buruk karena aroma H2S yang sangat menyengat dari pusat semburan lumpur. Apalagi jika terbawa angin dan di malam hari. Bahkan jika mendekati pusat semburan, dijamin akan pusing jika tidak memakai masker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, retakan-retakan tanah telah tercipta karena isi bumi tersedot dalam rupa lumpur. Situasi itu memungkinkan semburan gas liar berkali-kali. Jika semburannya kecil tidak berbahaya, disebut sebagai buble. Semburan gas itu mendorong air dan mendesak mencari-cari celah saluran secara liar. Bahkan di tepi jalan raya Porong sempat terpercik api hingga nyalanya berkobar. Lain lagi di rumah salah satu umat, aliran pipa PDAM yang tersulut api bisa mengobarkan api. Kejadian terakhir di bekas pompa air milik seseorang, semburan bahkan mencapai 3-4 meter dan sempat terpercik api hingga menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi ekonomi, semua warga Porong, termasuk umat Katolik sedang terpuruk. Kegiatan bisnis, toko di Porong layaknya mati suri. Akibat jalanan macet, pasar Porong pindah ke daerah Krembung (bagian barat). Seseorang yang memiliki usaha omsetnya merosot drastis karena pelanggan lari semua akibat jalanan macet. Seorang pengusaha kontraktor, ketika mengikuti tender demi melihat jaminannnya KTP dan tanah bersertifikat kecamaan Porong tidak mendapatkan rekomendasi. Pebisnis yang mengantungkan usahanya dengan menjaminkan sertifikat bersedih, pihak bank atau lembaga keuangan manapun tak memberi pinjaman. Jika yang menengah ke atas saja sudah mengeluh, apalagi yang ekonomi menengah ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menengok lagi warga yang rumahnya terendam lumpur memang mendapatkan ganti rugi. Ganti rugi yang diperoleh memang tinggi. Bisa jadi, 1 meter persegi tanah dihargai Rp. 1-2 juta rupiah. Ganti rugi yang sudah diterima baru 20 % saja. Yang 80 % mana ? Masih nanti menunggu hingga awal Mei. Itupun belum pasti. Karena akan diberikan dalam bentuk rumah di daerah Sukodono, Sidoarjo barat oleh PT Minarak Lapindo Jaya. Padahal, syarat untuk mendapatkan 80 % itu lebih ketat, karena bentuknya perjanjian jual beli. Jika tidak menunjukkan sertifikat bakal tidak dapat ganti rugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kejadian penerima ganti rugi. Ada yang mendapat ganti rugi justru dipakai untuk membeli sepeda motor. Ada lagi yang segera diapakai untuk menutup kredit karena bisnis yang tenggelam oleh lumpur dan seketika sumber kehidupannya mati. Ada juga yang justru dibelikan tanah di dekat lokasi tanggul yang belum terendam, dengan harapan siapa tahu nanti terendam dan mendapatkan ganti rugi tinggi. Jadi, berpikir &lt;em&gt;gambling&lt;/em&gt; untuk investasi tanah, selagi harga tanah di sekitar Sidoarjo dan Porong sedang rendah harganya, karena tak laku di mata bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal tahun hingga Maret 2008, demo terjadi hampir tiada henti. Demo terbesar terjadi ketika warga melumpuhkan jalan raya Porong dan semua jalan alternatif. Memang kondisi itu mempengaruhi situasi ekonomi Jatim dan mengakibatkan kekhawatiran penutupan jalan tidak bisa diapai melintas truk penguruk tanggul. Serba susah dan dilematis tentu. Pemicunya tak lain ialah warga 11 desa ingin dimasukkan dalam peta daerah bencana, tujuannya untuk segera mendapatkan ganti rugi. Bisa dimengerti, karena yang terendam sudah mendapat ganti rugi dan bisa terbebas dari situasi buruk sekitar Porong, sementara warga 11 desa di luar peta terdampak itu hidup dalam ketidakpastian, setiap hari selalu terancam luapan lumpur&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan warga 11 desa masih gelap. Meskipun pemerintah mengabulkan 3 desa yang akan dibiayai APBN, namun belum juga ada kepastian. Info terakhir yang dirilis Seputar Indonesia, Jatim 29/Feb/2008 memberitakan, dari 11 desa yang dapat ganti rugi dari pemerintah hanya warga 3 desa, yaitu Besuki, Pejarakan dan Kedungcangkring. Meskipun ganti rugi 80 % akan diterimakan pada tahun 2010. Sesuatu yang memprihatinkan. Warga 3 desa itu, sejak jebolnya tanggul Februari lalu terpaksa menggantungkan diri pada jatah hidup Rp. 250.000 sebulan. Rumah mereka tak bisa ditempati dan terpaksa tinggal di tenda pengungsi Depsos di tepi jalan tol lama. Situasi di tepi tol sungguh tidak nyaman, jika malam terasa dingin, jika siang panas dan berdebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi tak nyaman itu masih ditambah dengan serbaneka intimidasi, ialah para preman, intel atau kaki tangan Lapindo yang bertebaran. Tujuannya cuma satu, memecah belah warga secara sistematis sehingga kekuatan tuntutan mereka lemah dan tuntutan mereka jadi ringan bagi Lapindo. Terbukti bahwa, gagasan satu kata dan satu tuntutan yang diperjuangkan para korban selalu gagal. Upaya sistematis memecah belah itu tampak juga dari beredarnya secara liar aneka selebaran gelap, berisi hasutan, ancaman atau kata-kata bernada keras berupa ancaman pembunuhan. Belum lagi isapan jempol isu tentang korupsi yang menerpa para pemimpin lokal korban, entah itu ketua RT, ketua RW, Haji, tokoh masyarakat, dosen yang jadi sasaran empuk sebagai kambing hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini di pengungsian pasar baru Porong masih ada beberapa posko lokal, posko Gus Dur, posko Pramuka serta lainnya yang jumlahnya hanya dalam hitungan jari. Selebihnya mereka mengandalkan bantuan dari pihak manapun yang bersimpati. Mengapa demikian ? Jawaban mereka membuat dada terasa sesak, donatur nasional maupun internasional bersikap sinis, mencibir para korban serupa dengan perkataan: "Minta saja ke Lapindo atau Bakrie, perusahaannya terkaya se-Asia". Sebuah kalimat yang makin memberatkan nasib para korban. Sementara dari pihak Lapindo tidak peduli. Demikian pula sesuai petunjuk pemerintah, dana APBN atau APBD pun masih belum jelas. Yang jelas justru kecaman dari berbagai pihak yang mengecam pemberian status korban lumpur sebagai bencana. Status yang ditetapkan di DPR RI yang sebenarnya diemohi warga, kini pun menuai kritik dari warga bencana di daerah lain. &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, warga Porong nasibnya masih suram. Hidup segan mati tak mau, itulah kata-kata yang pas. Keadaan yang sangat memprihatinkan, terombang-ambing, entah sampai kapan. &lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(A. Luluk Widyawan, Ketua PSE / Karina Keuskupan Surabaya)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-2416462188566384811?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/2416462188566384811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/2416462188566384811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/03/situasi-porong-dan-korban-lumpur.html' title='Situasi Porong Dan Korban Lumpur Terkini'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-5064481559859127911</id><published>2008-02-24T23:51:00.000-08:00</published><updated>2010-09-01T08:31:02.498-07:00</updated><title type='text'>Korban Manusia Dalam Kasus Lumpur Lapindo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kurang dua bulan, masalah Lapindo berusia dua tahun. Selama kurun itu, belum ada yang beres tuntas. Semburan lumpur yang berasal dari wilayah pengeboran PT Lapindo Brantas belum bisa dimatikan. Wilayah yang digenangi lumpur meluas dari waktu ke waktu. Tidak kurang dari 11 ribu kepala keluarga dari delapan desa harus kehilangan rumah dan harta benda. Ganti rugi pun belum tuntas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Sedari awal malapetaka Lapindo seperti dibiarkan berada pada wilayah abu-abu. Terutama menyangkut pertanyaan siapa dan apa yang menjadi penyebab semburan lumpur liar itu. Pemerintah cenderung mengarahkan tanggung jawab kepada PT Lapindo Brantas, perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki keluarga Aburizal Bakrie, pengusaha yang juga Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pihak Lapindo sendiri memikul tanggung jawab tersebut di tengah pertanyaan tentang keadilan yang terus menggoda. Apakah betul semburan lumpur itu berasal dari dan disebabkan oleh pengeboran yang dilakukan perusahaan tersebut? Pertanyaan itu menggoda karena fakta menunjukkan lumpur menyembur pada titik yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi pengeboran.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Pada titik itu sesungguhnya yang bertempur adalah logika hukum serta segala konsekuensinya dan logika kemanusiaan serta segala komplikasinya. Lapindo dan pemerintah secara faktual sebenarnya terlibat dalam komplikasi itu walaupun pertanyaan tentang penyebab semburan tetap menggantung&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Di tengah pencarian tentang penyebab yang belum terjawab itu, pemerintah sudah mengeluarkan dana dari APBN untuk mengurusi sebagian dampak sosial yang juga telah diurus pihak Lapindo. Nah, bila telah begini, masih perlukah untuk mencari apa dan siapa penyebab petaka Lapindo? Karena pada dasarnya pemerintah dan PT Lapindo sendiri sudah tidak memedulikan lagi penyebabnya. Artinya, baik pemerintah maupun Lapindo secara faktual telah memperlakukan masalah itu sebagai bencana nasional walaupun tidak mendeklarasikannya secara terbuka&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Persoalan kemudian menjadi aneh, ketika Tim Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo yang semuanya adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat tiba-tiba mengeluarkan kesimpulan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo adalah bencana alam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Nah, tatkala penyebab yang sulit ditentukan di kalangan para ahli sekalipun kemudian diambil alih oleh DPR, berbagai implikasi diributkan. Pertama, apakah itu domain DPR untuk memutuskan? Bukankah itu wilayah pemerintah? Mengapa persoalan yang harus dicari melalui perspektif teknologi dijawab secara politik ?&lt;span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu sah menjadi keputusan pemerintah, PT Lapindo memiliki kesempatan untuk mengklaim seluruh biaya yang sudah dikeluarkan. Karena bencana alam adalah tanggung jawab negara, bukan tanggung jawab korporasi. Meski pihak Lapindo mengatakan mereka tidak akan lari dari tanggung jawab dan tetap berpegang pada Perpres No 14 Tahun 2007.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Pada hemat kita, ketika sebuah bencana telah menelan korban begitu luas dan lama, adalah pada kesempatan pertama negara harus memperlakukan itu sebagai bencana nasional. Tidak boleh nasib ribuan manusia yang adalah warga negara tidak tertangani hanya karena perdebatan tentang apa yang menjadi penyebab malapetaka itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sesungguhnya, tidak diperlukan deklarasi bahwa lumpur Sidoarjo sebagai bencana alam, apalagi oleh DPR, karena pemerintah telah memperlakukannya melalui alokasi APBN. Terpenting, bencana alam atau bukan, siapa pun penyebabnya, negara harus menyelamatkan warganya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-5064481559859127911?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5064481559859127911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5064481559859127911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/02/korban-manusia-dalam-kasus-lumpur.html' title='Korban Manusia Dalam Kasus Lumpur Lapindo'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-4415775699226345334</id><published>2008-02-24T23:31:00.000-08:00</published><updated>2008-02-24T23:33:12.472-08:00</updated><title type='text'>Warga Besuki Pertanyakan Bantuan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Warga Dusun Besuki, Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, yang tinggal di sisi timur jalan tol Porong mempertanyakan dana bantuan Bupati Sidoarjo senilai Rp 500.000 per rumah. Sejumlah warga yang rumahnya terdampak akibat jebolnya tanggul kolam lumpur Lapindo di titik 40 hanya menerima uang Rp 189.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggul jebol pada 10 Februari lalu dan menyebabkan 558 rumah di Dusun Besuki dan Ginonjo terendam lumpur. Hingga kemarin, 220 rumah masih terendam. Bupati Sidoarjo Win Hendrarso memberikan bantuan sebesar Rp 279 juta. Setiap pemilik rumah mendapat Rp 500.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kepala Desa Besuki Mohamad Shirot, sebanyak 220 pemilik yang rumahnya masih terendam mendapat bantuan Rp 500.000 per orang. Sisanya, Rp 169 juta dibagikan merata untuk 1.112 pemilik rumah di Desa Besuki agar tidak menimbulkan kecemburuan di antara warga. Hal itu sudah diketahui bupati dan camat serta disetujui warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, warga Besuki yang tinggal di sisi timur tol masih mempermasalahkan. Sebab, pemilik rumah yang tidak terkena lumpur juga mendapat bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa menyatakan, pemerintah belum berniat merevisi Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007. Hal itu diungkapkan Hatta di sela acara Program Aksi Hijau Indonesia di tepi jalan tol Cipularang Kilometer 92+600, Minggu (24/2) di Purwakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Dewan Perwakilan Daerah menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum berbuat banyak dalam menyelesaikan masalah lumpur Lapindo. Hal ini yang membuat ratusan korban terombang-ambing nasibnya dua tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Presiden seharusnya menekan Aburizal Bakrie untuk segera menyelesaikan seluruh ganti rugi bagi korban,” kata Idris Zaini dari Kepulauan Riau yang juga Wakil Ketua Panitia Ad Hoc II DPD yang membidangi masalah energi dan sumber daya mineral, Sabtu (24/2) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idris tidak setuju dimasukkannya istilah fenomena alam dalam Laporan Tim Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bisa jadi preseden jika ada perusahaan lain mengalami hal serupa. &lt;em&gt;(Kompas, 25/2/08)&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-4415775699226345334?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/4415775699226345334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/4415775699226345334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/02/warga-besuki-pertanyakan-bantuan.html' title='Warga Besuki Pertanyakan Bantuan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-583633832472735954</id><published>2008-02-14T09:32:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:45:58.084-08:00</updated><title type='text'>Kilasan Informasi Lumpur Lapindo</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7R_ip5jSXI/AAAAAAAAAdE/FU1gHUsQeWw/s1600-h/tenda+pengungsi+warga+besuki.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166894905840322930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 291px; CURSOR: hand; HEIGHT: 222px; TEXT-ALIGN: center" height="232" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7R_ip5jSXI/AAAAAAAAAdE/FU1gHUsQeWw/s320/tenda+pengungsi+warga+besuki.jpg" width="300" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;A. Daerah Terdampak Lumpur Lapindo&lt;br /&gt;Desa Renokenongo, Siring, Jatirejo, Kedung Bendo, Pajarakan, Mindi, Besuki, Kedung Cangkring, Glagah Arum, Gempolsari, Ketapang, Kali Tengah, Wunut, Pamotan, Kesambi, Kebo Guyang, Permisan. (Semua desa diatas meliputi tiga kecamatan, yakni; Porong, Jabon, dan Tanggulangi di Kabupaten Sidoarjo), dan Desa Gempol (Kabupaten Pasuruan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;B. Kategori Desa Terdampak&lt;br /&gt;1. Tergenang dan tenggelam langsung oleh luapan lumpur Lapindo.&lt;br /&gt;2. Mengalami amblesan tanah&lt;br /&gt;3. Sumber air bersih tercemar berwarna hitam&lt;br /&gt;4. Bau gas yang sangat menyengat&lt;br /&gt;5. Munculnya sumber semburan baru&lt;br /&gt;6. Akses jalan desa yang tertutup dalam waktu yang lama&lt;br /&gt;7. Pendangkalan Sungai Porong sebagai sumber mata pencaharian &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;C. Dampak&lt;br /&gt;1. Peta Terdampak Menurut Perpres No 14 tahun 2007;&lt;br /&gt;Desa Renokenongo, Siring, Jatirejo, Kedung Bendo, dan Glagah Arum.&lt;br /&gt;2. Kategori Terdampak Menurut Perpres No. 14 tahun 2007;&lt;br /&gt;Desa yang secara langsung tergenang lumpur Lapindo.&lt;br /&gt;Dampak Lumpur Lapindo:&lt;br /&gt;1. Dampak Ekologis;&lt;br /&gt;a. Rusaknya ekosistem seluas 800 hektar lebih, yakni berupa tumpukan lumpur Lapindo&lt;br /&gt;b. Rusak dan terganggunya ekosistem (luar) seluas 5000 hektar lebih, dalam bentuk amblesan tanah, rusaknya sumber air bersih, tercemarnya tambak, pendangkalan sungai, tercemarnya laut, tercemarnya udara akibat debu dan gas beracun.&lt;br /&gt;2. Dampak Sosial dan Ekonomi;&lt;br /&gt;a. Tenggelamnya 30 pabrik sebagai sumber mata pencaharian warga dengan tenaga kerja berjumlah ribuan.&lt;br /&gt;b. Tenggelamnya sawah dan tambak yang selama ini menjadi mata pencaharian warga di desa desa terdampak&lt;br /&gt;c. Hilangnya tempat usaha usaha sector informal, seperti; pedagang pracangan, tukang ojek dan becak, pedagang keliling, dan usaha-usaha kecil lainnya&lt;br /&gt;d. Munculnya gelombang pengungsian (internal refugees) di beberapa titik, hingga kini yang mengganggu kenyamanan hidup mereka.&lt;br /&gt;c. Tersendatnya arus mobilisasi orang, barang, dan jasa selama 16 bulan lebih di Jawa Timur&lt;br /&gt;d. Terganggunya sistem layanan pendidikan, yang berakibat tidak maksimalnya proses belajar mengajar bagi anak anak usia sekolah yang menjadi korban lumpur&lt;br /&gt;e. Terganggunya sistem layanan kesehatan, khususnya bagi warga korban lumpur Lapindo yan berada di camp camp pengungsian&lt;br /&gt;f. Kesulitan warga korban lumpur mencarikan tempat pemakaman, warga korban lumpur Lapindo yang berada di pengungsian, khususnya di pengungsian Pasar Baru Porong.&lt;br /&gt;g. Munculnya konflik horizontal antar warga korban lumpur akibat berbagai factor, khusunya perbedaan kepentingan mengenai ganti rugi.&lt;br /&gt;h. Semakin tingginya tingkat percekcokan keluarga karena mereka hidup dalam keadaan berkeluarga yang tidak normal.&lt;br /&gt;i. Tercerai berainya kehidupan bertetangga, dan berkerabat, disaat warga korban lumpur Lapindo mencari tempat tinggal baru, khususnya bagi mereka yang telah menyepakati mekanisme pembayaran assetnya kepada Lapindo.&lt;br /&gt;j. Tercabutnya hubungan secara fisik antara warga korban lumpur dengan situs situs penting didesanya, dimana situs situs itu telah mengukir banyak kenangan mengenai kisah hidup mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;D. Kebijakan Pemerintah&lt;br /&gt;1. Mengeluarkan kebijakan, berupa Perpres No. 13 tahun 2006 mengenai pembentukan Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Lapindo&lt;br /&gt;2. Mengeluarkan kebijakan berupa Perpres No. 14 tahun 2007 mengenai Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.&lt;br /&gt;Kelemahan dan Kekacauan Perpres No. 14 tahun 2007;&lt;br /&gt;1. Kebijakan ini hingga kini belum ditinjau ulang, padahal area terdampak dari hari ke hari semakin luas, sementara tanggujawab Lapindo sebatas desa desa yang ada di dalam perpres ini.&lt;br /&gt;2. Perpres No. 14 tahun 2007 bertentangan dengan undang undang, antara lain:&lt;br /&gt;a. Undang Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM); dimana negara, khususnya pemerintah bertanggungjawab atas perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM. Faktanya, banyak warga korban lumpur Lapindo, khususnya di pengungsian Pasar Baru Porong dan warga luar peta terdampak kurang mendapat perhatian dari pemerintah mengenai jaminan hidupnya menyangkut kebutuhan dasar seperti; makan, perumahan, pakaian, maupun keamanan.&lt;br /&gt;b. UU No. 11 tahun 2005 mengenai ratifikasi Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Bahwa pemerintah harus bertanggungjawab atas kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya yang dialami oleh rakyatnya. Faktanya hingga hari ini masih ada 630 KK di pengungsian pasar baru Porong dan 4 Desa diluar peta terdampak yang mengalami pemiskinan, karena kehilangan sumber mata pencaharian mereka, dan tidak ada perhatian serius dari pemerintah maupun Lapindo.&lt;br /&gt;c. Pasal 4 ayat 2, UU No. 24 tahun 1992 tentang Tata Ruang Nasional menyatakan: Setiap orang berhak memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Jadi 1 orang warga negara pun tidak sepakat atas proses ganti rugi proyek pembangunan atas penggunaan hak miliknya, maka negara apalagi perusahaan seperti Lapindo tidak bisa memaksa. Konyolnya perpres ini memaksa warga untuk memenuhi skema yang diajukan oleh pemerintah sebagai satu satunya jalan penyelesaian.&lt;br /&gt;d. UU No 5 tahun 1960 dan UU No 38 tahun 1963 mengatur kepemilikan tanah; dimana badan hukum yang berhak memiliki tanah adalah bank negara, perkumpulan koperasi pertanian, badan keagamaan, dan badan sosial. Namun dalam kasus luapan lumpur Lapindo, PT Lapindo Brantas dilegitimasi oleh Perpres No. 14 tahun 2007 untuk menguasai dan memiliki lahan ratusan hektar hingga saat ini.&lt;br /&gt;e. Undang Undang Lingkungan Hidup, karena BPLS dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo selaku unit kerja pemerintah memberikan ijin pembuangan lumpur ke Sungai Porong yang mengakibatkan kerusakan ekosistem sungai dan laut.&lt;br /&gt;f. Kitab Undang Undang Hukum Perdata Pasal 570 menyatakan; Hak milik adalah hak untuk menikmati kegunaan sesuatu kebendaan dengan leluasa, dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu dengan kedaulatan sepenuhnya, sehingga pemerintah maupun lapindo tidak bisa memaksakan secara sepihak kemauannya kepada warga negara, walaupun hanya 1 orang.&lt;br /&gt;g. Kitab Undang Undang Hukum Perdata Pasal 1320 “Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat:&lt;br /&gt;- sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;&lt;br /&gt;- kecakapan untuk membuat suatu perikatan;&lt;br /&gt;- suatu hal tertentu;&lt;br /&gt;- suatu sebab yang halal&lt;br /&gt;3. Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dalam implementasinya hanya focus pada usaha usaha penanggulan. BPLS kurang maksimal dalam usaha menutup sumber lumpur, dan menangani dampak sosial, sehingga dari hari ke hari sangat rawan munculnya konflik dan gejolak sosial. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;E. Tindakan Lapindo Terkait dengan Korban;&lt;br /&gt;1. Melakukan pembayaran jual beli asset lahan dan bangunan warga korban lumpur Lapindo melalui skema Perpres No. 14 tahun 2007, yakni lahan sawah dibayar Rp. 120 ribu, tanah pekarangan rumah Rp. 1 juta dan bangunan Rp. 1,5 juta. Pembayaran dilakukan dengan dua tahap, yakni warga dibayar uang muka 20 persen, dan sisanya dilunasi dua tahun berikutnya sebesar 80 persen. Dalam implementasinya, saat dibayar uang muka 20 persen, sertifikat tanah dan bangunan warga diambil alih oleh Lapindo. Dan, dalam beberapa kasus, PT Minarak Lapindo Jaya, selaku juru bayar jual beli lahan ini sengaja tidak menghitung teras dan dapur warga dalam luasan jual beli. Kasus ini, saya temukan di Dusun Risen, Desa Glagah Arum, Porong. Kini, dalam kasus pembayaran sisanya 80 persen, bagi warga yang telah menerima 20 persen, PT Minarak Lapindo Jaya menawarkan konsep relokasi perumahan bagi warga. Relokasi ini sebagai kompensasi pembayaran 80 persen, dengan perbandingan nilai asset 80 persen yang bakal diterima masing masing kepala keluarga dengan nilai jual rumah yang ditawarkan oleh PT Nirwana Villages (Bakrie Groups).&lt;br /&gt;2. Bersamaan dengan jual beli lahan ini, PT Minarak Lapindo juga memberikan jatah hidup per jiwa sebesar Rp. 300.000,-, uang pindah rumah per KK Rp. 500.000, dan uang kontrak 2 tahun Rp. 5 juta. Dalam implementasinya, banyak warga yang uang kontrak Rp. 5 juta tidak dapat dipergunakan untuk sewa rumah di sekitar porong, karena semakin mahalnya harga sewa rumah. Sementara pembayaran jatah hidup banyak yang tersendat, sehingga warga harus melakukan protes jalanan untuk mendapatkan jadup.&lt;br /&gt;3. Memberikan jatah makan 3 kali sehari kepada 2300 an orang yang ada di Pasar Baru Porong hingga kini. Namun makanan yang disediakan dibawah asupan gizi yang layak. Karena Lapindo mengurus ini melalui jasa catering yang diorganisir oleh Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo. Pemberian makanan juga disama ratakan, baik kepada bayi hingga manusia lansia. Tidak ada pasokan pasokan khusus buat bagi, anak-anak, maupun lansia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;F. Strategi Bertahan Hidup Warga Korban Lumpur:&lt;br /&gt;1. Berhutang&lt;br /&gt;2. Jualan&lt;br /&gt;3. Menggadaikan Barang Berharga&lt;br /&gt;4. Bantuan UKM&lt;br /&gt;5. Jadup&lt;br /&gt;6. Jaga Portal&lt;br /&gt;7. Buruh di Proyek Proyek Penanggulan&lt;br /&gt;8. Pemulung &lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;G. Faksionalisasi Korban Lumpur dan tuntutannya;&lt;br /&gt;1. Mayoritas warga menyepakati skema pembayaran sebagaimana Perpres No. 14 tahun 2007, kini mereka dalam masa penantian dan ketidakjelasan sisa pembayaran 80 persen.&lt;br /&gt;2. Sebanyak 630 KK dari Desa Renokenongo yang bertahan di Pasar Baru Porong meminta perubahan skema pembayaran, yakni 50% sebagai uang muka, sisanya 25% dalam satu bulan berikutnya dan 25% 2 bulan sejak pembayaran 50% persen dilakukan, plus lahan 30 ha.&lt;br /&gt;3. 58 KK dari Desa Jatirejo menolak menjual tanah dan bangunan, menerima uang kontrak 5 juta untuk dua tahun. Warga menuntut Lapindo mengembalikan tanah dan bangunan seperti sedia kala, kalau Lapindo mengajukan jual beli maka harus menggunakan skema bisnis bukan perpres no. 14 tahun 2007&lt;br /&gt;4. Semua desa diluar peta bencana sebagaimana yang tercantum dalam perpres no, 14 tahun 2007 menuntut dimasukkan dalam peta bencana. Namun mereka meminta skema penyelesaian khusus. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;H. Strategi Gerakan Sosial yang harus dikerjakan untuk Korban Lumpur:&lt;br /&gt;1. Riset mengenai potensi konflik dan menjalankan program &lt;em&gt;Early Warning System&lt;/em&gt; atas potensi konflik.&lt;br /&gt;2. Analisis Pemberitaan Media Massa yang patut diduga mengurangi potret atas realitas yang ada di Porong&lt;br /&gt;3. Riset mengenai Hukum dan &lt;em&gt;Public Policy&lt;/em&gt;, khususnya yang berkenaan dengan kebijakan penangangan lumpur.&lt;br /&gt;4. Riset Dampak Sosial dan Ekonomi, khususnya efek domino lumpur Lapindo yang terus berkelanjutan&lt;br /&gt;5. Riset ekologis yang menggambarkan banyak hal, mulai soal geologis, ekologis yang meliputi gas, sumber air, dll dan dampaknya terhadap makhluk hidup.&lt;br /&gt;6. Riset historiografi lokal yang menggambarkan beragam kehidupan sosial warga pasca bencana dan sesudah bencana&lt;br /&gt;7. Pengorganisasian korban dalam rangka menguatkan gerakan sosial mereka untuk memperjuangkan tuntutan mereka, serta sebagai simpul untuk membangun integrasi sosial korban.&lt;br /&gt;8. Advokasi kebijakan dan upaya hukum terhadap kebijakan pemerintah baik di tingkat daerah maupun pusat yang tidak memberikan rasa keadilan bagi sebagian korban&lt;br /&gt;9. Penguatan terhadap simpul simpul ekonomi korban (&lt;em&gt;livelyhood&lt;/em&gt;), khususnya korban yang masih merasa di dzhalimi oleh Lapindo. Hal ini untuk menguatkan daya tahan mereka dalam melakukan penuntutan terhadap pemerintah maupun lapindo.&lt;br /&gt;10. Lobi dan kampanye nasional dan internasional melalui bahan dasar riset-riset diatas.&lt;br /&gt;11. Melakukan tekanan kepada pemerintah dan Lapindo agar punya target secepatnya untuk menutup sumber lumpur.&lt;br /&gt;12. Penguatan Radio Komunitas “Suara Porong” serta media alternatif dalam bentuk cetak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(Paring Waluyo Utomo, pendamping korban lumpur Lapindo di pengungsian Pasar Baru, Porong dalam koordinasi dengan PSE / Karina Keuskupan Surabaya)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-583633832472735954?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/583633832472735954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/583633832472735954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/02/kilasan-informasi-lumpur-lapindo.html' title='Kilasan Informasi Lumpur Lapindo'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7R_ip5jSXI/AAAAAAAAAdE/FU1gHUsQeWw/s72-c/tenda+pengungsi+warga+besuki.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-1271935832078850223</id><published>2008-02-12T01:44:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:43:21.835-07:00</updated><title type='text'>Keterlibatan Tim PSE / Karina Keuskupan Surabaya Di Situbondo</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7FreJ5jSVI/AAAAAAAAAc0/pebCwUCMmBs/s1600-h/porong.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="239" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166028413368224082" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7FreJ5jSVI/AAAAAAAAAc0/pebCwUCMmBs/s320/porong.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 210px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 210px;" width="210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;br /&gt;A. Situasi&lt;br /&gt;Sabtu, 9 Februari 2008&lt;br /&gt;Rm. Fadjar Tedjo Soekarno, Pr mengabarkan, pukul 05.00 WIB hujan rintik-rintik turun di seluruh wilayah, Situbondo. Hujang menyebabkan sungai Sampeyan Baru meluap ke bibir sungai. Pukul 19.30 WIB alarm bendungan Sungai Sampeyan Baru berbunyi tanda debit sungai melebihi batas maksimum. Warga pinggiran sungai mulai menyelamatkan barang-barang. Radio RKPD Situbondo menyerukan evakuasi daerah Jl. Merak dan sepanjang bantaran sungai. Air mulai masuk dalam kota dengan ketinggian 25 – 50 cm. Jalur ke arah Panarukan terputus, sampai saat info ini dilaporkan, pukul 3.17 WIB. Jalur pantura Situbondo-Surabaya putus total di Panarukan, perjalanan dialihkan melewati Jember.&lt;br /&gt;Pukul 20.00 WIB terjadi pemadaman listrik di kawasan bantaran sungai, meskipun telepon masih aktif dan air PAM masih mengalir. Pukul 21.30 WIB, pemadaman listrik dan telepon di wilayah kota. Saat itu , ketinggian air mencapai 1 – 1,5 m, menggenangi kawasan Merak, Jl. WR Supratman, Sumber Kolak dan Wringin Anom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 10 Februari 2008&lt;br /&gt;Rm. Agus Purwanto melaporkan, Banjir merusakkan banyak rumah warga, jembatan dan membuat jalan terhalang batu. Jalan menuju Situbondo terganggu, karena batu-batu memenuhi jalan di sekitar Besuki. Situasi pagi ini, warga membersihkan rumah dari sampah dan lumpur yang berantakan. Paroki St. Maria Bintang Sumudera, Situbondo membuka posko dan dapur umum&lt;br /&gt;untuk warga korban banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 11 Februari 2008&lt;br /&gt;Informasi sementara korban tewas 15 orang, mereka berasal dari kecamatan Mlandingan 6 orang, Panarukan 5 orang, Situbondo 3 orang, Panji 1 orang. Jumlah korban meninggal kemungkinan besar akan terus meningkat karena beberapa pasien dan petugas jaga di RS Elizabeth dilaporkan hilang dan belum diketemukan. Managemen RS. Elizabet sedang mendata jumlah pasien dan petugas jaga yang bertugas pada saat banjir bandang datang. Jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 10.000 jiwa yang terdiri dari 7 kecamatan Mlandingan, Situbondo, Panarukan, Panji, Pauwon, Wringinanom dan Sumberkolak. Jumlah rumah rusak berat 500 unit, ratusan rumah terendam, 32 rumah hanyut, 8 jembatan terputus diterjang banjir. Pengungsi bertempat di pendopo kabupaten dan gedung DPRD Situbondo.&lt;br /&gt;Kontak person di Situbondo, Marietan yang rumahnya terkena banjir, tanggal 11 Februari 2008 mengabarkan sejak Jumat hingga Senin, bantuan yang masuk di Posko Paroki St. Maria Bintang Samudera, Situbondo masih sedikit. Mudika dan ibu-ibu telah siap untuk bekerja membantu mengelola posko. Tempat yang bisa digunakan sebagai lokasi posko adalah SDK di depan Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 12 Februari 2008&lt;br /&gt;Indro melalui jaringan relawan melaporkan situasi Situbondo, jumlah rumah yang hanyut / roboh 639 unit, rusak berat 2.098 unit, rusak sedang 2.583 unit dan yang rusak ringan 5.046 unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kontak&lt;br /&gt;Posko Paroki St. Maria Bintang Samudera 033-8677460&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-1271935832078850223?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1271935832078850223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1271935832078850223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/02/situasi-terkini-banjir-situbondo.html' title='Keterlibatan Tim PSE / Karina Keuskupan Surabaya Di Situbondo'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7FreJ5jSVI/AAAAAAAAAc0/pebCwUCMmBs/s72-c/porong.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-5239532976668982627</id><published>2008-02-02T16:47:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:43:40.946-07:00</updated><title type='text'>Keterlibatan Tim PSE / Karina Keuskupan Surabaya Di Pasuruan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7FsVp5jSWI/AAAAAAAAAc8/hMhr363ibyo/s1600-h/warga+rejoso,+pasuruan+selamatkan+diri.bmp"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="212" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166029366850963810" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7FsVp5jSWI/AAAAAAAAAc8/hMhr363ibyo/s320/warga+rejoso,+pasuruan+selamatkan+diri.bmp" style="cursor: hand; display: block; height: 212px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 235px;" width="261" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tim relawan PSE Keuskupan Surabaya setelah berkoordinasi dengan Rm. Maryanto, O.Carm (Ketua Komisi PSE Keuskupan Malang) dan Rm. Heribertus (Sekertaris Keuskupan Malang) bertemu dengan Romo Kepala Paroki St. Antonius, Pasuruan, Rm. Irwanto dan Dewan Paroki. Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa keputusan, terbentuknya Posko Paroki, sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Koordinator : Ibu Hermono 0816539761 / 0343-7792210&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Logistik : Pak Hendro 08123001999 / 0343-7748382&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Distribusi : Pak Hartanto 08155015871 / 0343-421672&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Pendataan : Ibu Yosep 08175097436&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Posko Paroki Pasuruan terletak di rumah milik Ibu Jeanne, Jl. Kusumabangsa 13, Telp. 0343-423718. Posko tersebut digunakan untuk semua aktivitas, sebagai gudang, tempat istirahat relawan dan tempat koordinasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Data sementara sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;1. Tamanan: terdiri dari 3 RW (sekitar 400 KK, jumlah jiwa belum diketahui, ketinggian air 3 meter, sebagian penduduk masih mengungsi di sekolah Shalahudin)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;2. Jagalan: kurang lebih ada 150 KK&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;3. Pledokan: kurang lebih ada 200 KK&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;4. Karangwingko Purut: 300 KK&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ada banyak daerah yang cukup parah, tetapi belum masuk daerah yang akan dibantu Tim kami. Karena barang bantuan masih sangat sedikit, berupa sembako. Aktivitas mereka saat ini masih membersihkan rumah masing-masing. Bantuan diberikan kepada masyarakat secara umum. Selain itu akan dilakukan pendataan umat yang terkena musibah yang akan dikoordinir Ibu Yosep, yang juga menjadi korban banjir. Ada satu umat yang rumahnya rata dengan tanah karena terseret arus air.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Bantuan yang dibutuhkan saat ini:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;1. Sembako (beras, gula, mie instan, dll)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;2. Air mineral&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;3. Biskuit&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;4. Susu siap minum untuk anak kecil&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;5. Deterjen dan alat bersih-bersih rumah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;6. Peralatan mandi (sabun, odol, sikat gigi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-5239532976668982627?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5239532976668982627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5239532976668982627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/02/tim-pse-karina-keuskupan-surabaya.html' title='Keterlibatan Tim PSE / Karina Keuskupan Surabaya Di Pasuruan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7FsVp5jSWI/AAAAAAAAAc8/hMhr363ibyo/s72-c/warga+rejoso,+pasuruan+selamatkan+diri.bmp' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-8823329034093921341</id><published>2008-01-21T07:38:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:44:27.509-07:00</updated><title type='text'>Laporan Penanganan Dan Perkembangan Bencana Banjir, 9 - 27 Jan 2008</title><content type='html'>&lt;span style="color: #3366ff; font-family: arial;"&gt;&lt;em&gt;Rabu, 9/1/2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Packing bantuan yang tersisa ke Laren, Lamongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rm. Wawan melaporkan hasil survei di Laren, Lamongan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- ada 4 desa yang terendam banjir parah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mojoasem 462 kk&lt;br /&gt;- Jabung 752 kk&lt;br /&gt;- Dateng 502 kk&lt;br /&gt;- Gelap 730 kk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- warga desa / pemuda siap menerima bantuan, telah berkoordinasi&lt;br /&gt;- membutuhkan dapur umum, perahu karet, terpal, trauma healing untuk anak-anak dan petani&lt;br /&gt;- bantuan dikoordinasikan dengan kecamatan, agar tidak terjadi penumpukan bantuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Kamis, 10/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan 9 relawan dan bantuan sembako meluncur ke Laren, Lamongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluncur ke Yogyakarta untuk koordinasi dengan Karina KWI dan Karina KAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan telah sampai di lokasi, membutuhkan perahu karet bermotor 6-7 pk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;&lt;em&gt;Jumat, 11/1/08&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi dari masing-masing Keuskupan tentang situasi terakhir korban banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyempurnaan data, dari data yang sudah masuk hendaknya mempertimbangkan jumlah perempuan, jumlah anak-anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kemungkinan Karina KS belajar dengan Karina KAS tentang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Sabtu, 12/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyumbang dana 60.000.000,- dari Posko Belarasa Kemanusiaan Paroki Katedral, Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan menyumbang ke rekening bencana &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Melaporkan acara koordinasi Minggu, 13/1/08&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Minggu, 13/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan kesulitan relawan di Laren, Lamongan: soal medan, data dan transportasi air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Senin, 14/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan kondisi di Laren, koordinasi relawan dengan penduduk lokal baik, bantuan dibagikan dengan sistem paket. Kebutuhan sekarang di Lamongan: beras, minyak goreng, gula, sabun, buku tulis dan detergent&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan dari Lamongan, desa Mojoasem, belum bisa stand by. Data sementara yang saya dapatkan: ada 4 desa yang beberapa waktu lalu tergenang, yakni :&lt;br /&gt;Mojoasem (462 kk, 1071 jiwa, yang terkena banjir 269 kk, sisanya merantau), Jabung (700 kk), Dateng (357 kk), Gelap (masih belum ada info)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir desa Mojoasem sudah mulai surut beberapa hari yang lalu, tetapi 3 desa yang lain masih tergenang. Akses ke 3 desa harus menggunakan perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan yang datang saat ini tidak cukup ditampung di gudang karena kurang luas.&lt;br /&gt;Mereka membutuhkan minyak sayur dan gula pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa Mojoasem telah di dirikan posko yang berfungsi melakukan pendistribusian bantuan ke ketiga desa tersebut. Relawan yang berkerja di desa Mojoasem:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Relawan lokal, yang terdiri dari pemuda dan masyarakat mojoasem yang berjumlah kira- kira 8 orang.&lt;br /&gt;- Relawan dari Keuskupan Surabaya yang berjumlah 11 orang&lt;br /&gt;- Relawan dari mahasiswa Fisip Unair yang teridiri dari 23 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Selasa, 15/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Edi meneruskan email Karina KWI tentang data yang riil, menyangkut jumlah perempuan dan anak-anak juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi Mojoasem sudah normal. Letak desa Mojoasem ada diseberang Bengawan Solo, bila berada di desa Siwuran dan di sebelah barat desa terbentuk semacam danau yang cukup luas. Danau tersebut terjadi karena banjir yang sedang melanda desa tersebut dimana danau tersebut bila tidak terjadi banjir merupakan sebuah persawahan dan perkebunan. Pada dasarnya banjir tersebut sering terjadi hampir tiap tahun. Tetapi banjir kali ini terjadi cukup besar, di luar perkiraan para pertani yang hampir memanen. Wajar jika banjir kali ini membuat sebagian masyarakat desa mengalami shok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar desa Mojoasem terdapat beberapa desa yang kondisinya parah. Antara lain Jabung, Ngelap dan Dateng. Di tiga desa tersebut masyarakatnya masih tinggal di hutan, di tenda pengungsian dengan kondisi yang cukup memperihatinkan tenda terbuat dari terpal di tempati 2 sampai 4 kk. Untuk menjangkau ketiga desa tersebut harus menggunakan perahu karet bermotor. Karena ketiga desa tersebut dikelilingi oleh air cukup luas. Distribusi bantuan dari Mojoasem ke desa tersebut relawan harus menyebrangi air kira – kira 2 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkonfirmsi bantuan akan berangkat ke Laren, Lamongan. Sementara ada 2 suster SSpS di lokasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Rabu, 16/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan memperbaiki data riil. Kemungkinan ada pengurangan jumlah. Melibatkan ketua lingkungan dalam pendataan dan WKRI (untuk yang non Katolik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Kamis, 17/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan, karena keterbatasan tenaga relawan untuk melakukan assesment Karina Project dan kondisi di Ponorogo yang sudah baik, lengkap dengan pemberian bantuan makanan, alat tulis dan pengobatan, maka Posko Ponorogo menyatakan perlu dipertimbangkan kembali untuk pelaksanaan Karina Project.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan bantuan alat tulis untuk korban banjir di Ponorogo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyerahkan data foto dan laporan pelaksanaan penanganan banjir dari Posko Ponorogo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirimkan data foto kegiatan relawan Madiun di sekitar Geneng, Ngawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Jumat, 18/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan beberapa kesulitan di Posko Keuskupan Surabaya, Laren, Lamongan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Sabtu, 19/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sulit mengakses gudang. Teman-teman relawan tidak mempunyai akses untuk melihat data-data barang yang keluar masuk gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sering terjadi kekosongan waktu, sering menimbulkan kejenuhan dan mempengaruhi psikologis rekan-rekan relawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Relawan kurang atau bahkan tidak mengetahui sistem kerja yang dijalankan sehingga terjadi kebingungan job discription. Mestinya di atasi dengan pendampingan anak, belajar maupun bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Distribusi bantuan mulai berkurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Komunikasi antara relawan lokal dengan team surabaya tidak terjalin dengan baik. Relawan lokal mendominasi sistem kerja, relawan Keuskupan Surabaya yang lebih mendominasi "kerja kasar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Frekuensi kegiatan sudah berkurang, maka kami mengusulkan sebaiknya program ini segera diakhiri lebih cepat dari rencana yang dijadwalkan selama 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Relawan lokal kurang memperhatikan kebutuhan sarana dan prasarana: alat kebersihan, transportasi air (perahu). Padahal pada hari pertama kita sudah mendonasikan uang sejumlah 1 juta untuk biaya operasional dan kesejahteraan relawan kita. Kenyataan selama ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kebutuhan makan untuk seluruh relawan dibebankan kepada kita. Belanja tidak ada yang mengantar. Padahal jarak pasar dan posko sekitar 3 Km dan tidak ada yang tahu jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan akan mengirimkan bantuan aneka semako dan uang yang akan diserahkan ke Farhan langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Minggu, 19/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pentingnya melaporkan kondisi kegiatan relawan di Laren, Lamongan ke jaringan Paroki Keuskupan Surabaya dan kelompok kategorial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rm. Didik, Pr dari Blora selaku Vikep Regio IV mendirikan Posko bantuan di Widang berkoordinasi dengan Paroki Tuban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengikutsertakan Paroki Gresik dan Stasi Lamongan dalam kegiatan relawan Keuskupan Surabaya di Laren, Lamongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pentingnya Posko Keuskupan Surabaya di Laren, Lamongan memiliki divisi data, dapur umum, logistik dan relawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Fokus kegiatan relawan per 22/1/2008 mulai pada pendataan, karena data sangat penting. Data KK yang diperoleh selalu berubah, karena berbagai kepentingan politis lokal, perlu dijernihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pentingnya persiapan relawan yang akan terjun untuk lebih memasyarakat, lebih kreatif dalam membuat kegiatan, karena kondisi psikologis warga / relawan lokal yang bekerjasama yang sudah lelah dan mereka telah menjadi korban banjir juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mendapat bantuan dana dari Trikomsel untuk itensi pengadaan bibit tanaman pangan di lokasi Laren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Fokus kegiatan relawan berkisar di desa Mojoasem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Senin, 21/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanyakan laporan data benefeciaries yang akan dibantu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkan data terkini penerima bantuan dan relawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepu: 680 kk, 10&lt;br /&gt;Ngawi: 934 kk, 20&lt;br /&gt;Madiun: 275 kk, 20&lt;br /&gt;Bojonegoro: 500 kk, 20&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #3333ff; font-family: arial;"&gt;&lt;em&gt;Selasa, 22/1/08&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Melaporkan bahwa bantuan dari Rm. Ismartono sudah datang. Namun oleh Topo, anak buah Farhan, relawan Keuskupan Surabaya dilarang terlibat di dalam pengambilan sembako tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relawan Keuskupan mulai melakukan pendataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan perbaikan proposal budget Karina project. Keuskupan Surabaya mengajukan dana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;Rabu, 23/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah warga&lt;br /&gt;Siser : RT 1 = 62 KK; RT 4 = 52 KK; RT 2 = 63 KK; RT 5 = 71 KK; RT 3 = 43 KK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah lansia: 26 orang, bayi usia &amp;lt;1 th = 28 anak, usia &amp;lt;2th = 29 anak, usia &amp;lt;3th = 31 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;Kamis, 24/1/08&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bantuan masuk:&lt;br /&gt;Beras dari Unair Surabaya. Susu SGM, Dancow dan obat untuk balita dari Radio El Shinta Surabaya. Mie instan dari PB (Penanggulangan Bencana). Bantuan yang diperlukan (selain sembako) pengobatan gratis, bahan bangunan untuk perbaikan rumah, makanan dan susu bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan lain:&lt;br /&gt;Listrik menyala sejak tanggal 17 januari 2008. Anak mulai masuk sekolah sejak Senin, 14 Januari 2008, tapi tidak langsung melakukan aktifitas belajar mengajar karena membersihkan ruang kelas. Aktifitas belajar aktif sejak 2 hari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;Jumat, 25/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Laporan Topo, relawan lokal, bantuan dari Rm. Ismartono dibawa truk, supir tak tahu alamat posko. Bantuan begitu banyak, dibawa dengan pick up lewat Widang. Berupa: beras 2 ton, obat-obatan 7 dos, baju layak pakai 30 dus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapur umum sudah ditutup&lt;br /&gt;Distribusi baju SD, tanpa survei&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dengan Kades meminta data dan diteruskan ke Sekdes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;Sabtu, 26/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawah yang rusak, baru ditanam 3 bulan lagi, jika air sudah surut, lalu dikeringkan dan ditunggu 1 bulan sampai sawah kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Wawan dan rombongan dari Malang datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;Minggu, 27/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan posko relawan Surabaya memberikan keputusan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Posko di Mojoasem, Laren, Lamongan dinyatakan tutup sejak siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Uang yang sumbangan dari Trikomsel diserahkan Rm. Rudi, CM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika hendak melakukan karya lagi hendaknya dipersiapkan dengan program jelas dan dipikirkan baik-baik. Lebih baik tidak di Mojoasem lagi dan disertai syarat tertentu sesuai dengan kemampuan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pentingnya dibentuk Tim Karina Keuskupan Surabaya di masa mendatang. Saat ini sudah ada tim intinya, tinggal melengkapi dengan divisi-divisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pentingnya pelaporan menyangkut dana terutama yang dikeluarkan dari Rekening Bencana Keuskupan Surabaya. 3 posko paroki sudah melaporkan data barang dan relawan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kegiatan kita sudah cukup baik meskipun emergency response saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada tawaran pertemuan dan silaturahmi di Mojoasem, Laren, Lamongan 1 Feb 2008 jam 19.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tertanda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketua Komisi PSE / Karina Keuskupan Surabaya&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-8823329034093921341?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/8823329034093921341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/8823329034093921341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/01/laporan-penanganan-dan-perkembangan_21.html' title='Laporan Penanganan Dan Perkembangan Bencana Banjir, 9 - 27 Jan 2008'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-8966301598690163186</id><published>2008-01-08T11:45:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:44:46.299-07:00</updated><title type='text'>Laporan Penanganan Dan Perkembangan Bencana Banjir, 26 Des 2007 - 8 Jan 2008</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Rabu, 26/12/07&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponorogo dilanda Banjir. Wilayah kota bagian Barat dan seterusnya, Stasi Carangrejo tergenang. 100 orang mengungsi di SDK, 10 orang di SMPK dan 15 orang di Gereja. Umat Paroki membuat 700 nasi bungkus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Kamis, 27/12/07&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setuju pengiriman dana tanggap darurat 2.500.000 per lokasi paroki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merespon situasi banjir di Jatim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merespon situasi dan meneruskan ke jaringan PSE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja stasi Jipang dipakai mengungsi. Km. 5 menjelang Stasi Jipang arus deras kendaraan tak bisa lewat jumlah umat sekitar 50 kk. Umat yang tertahan di atas rumah. Jalur Blora-Cepu dan Cepu-Bojonegoro terhambat banjir. Rm Yitno memohon perahu karet, namun dibatalkan karena tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Ngawi terkepung banjir dari arah Barat, Utara dan Timur. Dua sungai yang mengapit kota Ngawi meluber, sungai Bengawan Solo dan sungai Madiun. Paling parah Stasi Kwadungan. Kendaraan seksos Paroki tertahan macet. Gereja koordinasi dengan PMI Pemda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merespon situasi dan meneruskan ke jaringan PSE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan situasi banjir Jatim ke jaringan Karina KWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Jumat, 28/12/07&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;6 rumah umat longsor rusak karena longsor. Gereja koordinasi dengan Pemda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan pendataan umat dan umat Paroki insiatif membuat nasi bungkus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rm. Wawan, CM dan Rm. Didik Setyawan, CM dilokasi&lt;br /&gt;Malam, melaporkan dapat bantuan gubernur 20 perahu karet dan 5 perahu mirinir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posko memasak dan mengirim 2.250 nasi bungkus. Wilayah Barat Ponorogo belum bisa masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info perahu karet ada di Ace Hardware Royal Plaza, harga perahu karet bekas SAR Inggris Rp. 12.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fax Keuskupan 25 % kolekte Paroki Regio I diharapkan untuk itensi korban banjir ke Rekening APP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim sembako ke Cepu tetap gagal masuk kota, merespon situasi dan menerukan ke Jaringan PSE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan bentuk laporan emergency response&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Sabtu, 29/12/07&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir masuk kota setinggi 1 meter. Pengiriman sembako ke seberang sungai yang terisolir dilakukan Sr. Bertha, PK menggunakan perahu warga. Umat Paroki membuat nasi bungkus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan pendataan di lapangan dan survei lokasi Ngawi dan Cepu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim bantuan sembako&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghimbau, pembelian sembako di paroki akan diganti dengan dana Rekening bencana Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirimkan sumbangan dana ke Ponorogo, 5.700.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat laporan ke Karina KWI, mengirimkan ke jaringan PSE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memohon data jumlah KK umat yang terkena banjir dan membutuhkan bantuan. Menginformasikan bentuk laporan tool kit emergency response&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi Natal quasi Paroki Puri Indah, akan diarahkan ke 3 lokasi bencana Bojonegoro, Cepu dan Ngawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memohon informasi sewa perahu karet untuk distribusi makanan di Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan 10 relawan dari Surabaya dan Malang menuju Cepu membawa sembako, obat-obatan, alat mandi, selimut, pakaian dalam wanita dan uang 4.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan penjual perahu karet: PT Bay Industrial Indonesia&lt;br /&gt;021 55793831 (Jakarta) dan Toko Karya Teknik (Jakarta) 02128828222. Merek Avon untuk 12 orang Rp. 101, 5 jt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon konfirmasi nomer rekening, karena takut penipuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki Cornelius, Madiun membantu pasokan bantuan ke Ngawi. Cepu banjir semakin parah, Rm. Yitno bergerak seadanya memakai rakit pohon pisang.&lt;br /&gt;Bojonegoro banjir memasuki kota. Paroki Regio I belum banyak yang bergerak, mungkin Minggu 30/12/2007. Diprihatinkan tenaga siaga bencana yang minim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakat memutuskan membeli 5 perahu karet @ Rp. 12.000.000 untuk Paroki, Ngawi, Cepu dan Bojonegoro.&lt;br /&gt;Karena mendesak untuk evakuasi atau mengirim bahan makanan. Tetapi sangat kecil bentuknya dan masih ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi mengirim dana ke rekening bencana Rp.2.800.000 dari alumni St. Louis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan urgen hari ini, menurut Rm. Yitno adalah:air minum, obat-obatan: flu, masukangin, demam, ban dalam mobil untuk rakit pengiriman barang ke stasi.Relawan dari Blora dan Rembang membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok dapur umum dari ibu ibu dan relawan mudika Blora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapur umum hari ini berhenti. Umat Slahung membersihkan lumpur di SMPK. Posko&lt;br /&gt;pindah dari SDK ke Gereja. Besok mengirim bahan mentah sembako ke 7 RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapur umum bergerak membagikan 400 nasi bungkus. Jalur Madiun lewat Paron bisa dilewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Minggu, 30/12/07&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir hari ini semakin parah. Kiriman sembako PSE tidak bisa masuk kota. Jalan ke Bojonegoro putus. Dapur umum Gereja ditinggalkan orang karena mengurus rumah sendiri-sendiri. Jaringan telepon putus, listrik mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemda tidak melakukan koordinasi, mungkin karena Bupati sekarang, kemarin&lt;br /&gt;kalah dalam Pilkada. Perahu karet lalu-lalang tetapi tidak merata evakuasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Depar bersama Lions Club yang hendak menjangkau lokasi membawa sembako, dijarah sebelum sampai. Banyak yang membutuhkan makan tetapi distribusi tak merata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir mulai surut, distribusi makan bisa bergerak. Namun cuaca tetap mendung, khawatir jika hujan lagi. Sembako masih cukup. Yang sangat perlu perlengkapan mandi: sabun, odol, handuk, shampo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi perahu karet seharga 15-20 jt. Toko di Jakarta 0214400542, minggu buka sampai jam 14.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan mengirimkan air minum ke Cepu dan Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan situasi ke jaringan PSE dan Karina KWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info terakhir dari Cepu dan Bojonegoro menjadi perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana:&lt;br /&gt;Senin, 31/12/2007 mengirim beras 10 kwintal, mie 30 dos, belanja Rp. 2.500.000, peralatan mandi, perlengkapan perempuan, pakaian dalam, sabun, odol, handuk, shampo. Berangkat dari Jl. Kinibalu 41 Surabaya, jam 10.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 1/1/2008 obat-obatan, alat kesehatan, dokter dan para medis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ongkos transportasi dan belanja bahan sembako 2.500.000 ditanggung PSE-APP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rm. Ismartono akan mengirimkan perahu karet dari Jakarta, kemungkinan diterima Senin 31/12/2007 siang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info 1 perahu karet ada di Gang Matraman No.5 Blitar, kontak Anis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan Posko PSE tidak ada yang jaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi telah mengirim uang ke Rek Rm. Hersemedi Rp. 2.500.000. Namun pembelian sembako dibatasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurunkan perahu karet di Tuban, akan diterima Rm. Stanis. Di bawah koordinasi Vikjen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membantu draft emergency funding request&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirimkan perahu karet ke Bojonegoro dari Marinir, dibawa Fr. Dadang 081335340536&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa diatasi dengan persediaan dana dan sembako. Rencananya akan mengurusi kesehatan dan perlengkapan sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi mengirim dana ke rekening bencana Rp. 2.820.000 dari Pak Gwan Ang ke Ngawi dan Ponorogo masing-masing 1.410.000. Dan dari pak Wahjudi Rp. 3.000.000 ke Ponorogo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Senin, 31/12/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari survei di Cepu dan Bojonegoro, mereportase:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Banjir yang menggenangi pasar Ketapang – Cepu. Arah ke Bojonegoro terputus. Dari Surabaya ke Cepu harus memutar melalui Tuban -Rembang - Blora - Cepu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari Surabaya ke Bojonegoro hanya bisa sampai ke depan stasiun KA.&lt;br /&gt;Gereja masih 2 KM dari stasiun. Gereja paroki belum bisa dicapai karena terkepung air. Kedalaman air kurang lebih 1,5 meter. Ke Gereja harus memakai perahu karet untuk menyalurkan logistik.&lt;br /&gt;Menurut Rm. Hersemedi, tempat pengungsian ada 2 tempat: di paroki ada sekitar 100 pengungsi dan di sekolah ada sekitar 250 pengungsi.&lt;br /&gt;2 tempat ini masih sulit dicapai karena belum ada sarana (perahu karet) untuk menyalurkan logistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Kebutuhan yang mendesak untuk 2 tempat tsb adalah : Relawan (untuk menyalurkan bahan makanan siap saji, air minum, dll). Jika tergerak jadi relawan, kontak: Didik CM 081331607608 atau Indro 08155503794.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pagi ini akan berangkat kembali 10 relawan dari Surabaya menuju Bojonegoro dengan 1 truk berisi bahan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim 5 suster relawan ke Cepu, tenaga distribusi dan investigasi serta 1 perawat. Sedang disiapkan obat dan logistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memastikan bahwa dana dari KWI hanya satu pintu: Karina KWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneruskan informasi ke jaringan PSE dan Karina KWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menentukan pusat Posko Bencana, di Kantor APP Keuskupan, Jl. Majapahit 38 B, Surabaya. Kontak person: Tutik 081357911032&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan berupa barang bisa diberikan lewat Tutik dan ditempatkan di ruang PSE, APP atau ruang Koordinator Komisi (eks Justice and Peace)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu karet dan obat-obatan kiriman dari Rm Ismartono akan dikirimkan ke Tuban. Koordinasi dengan Rm. Didik, CM koordinator relawan di lapangan. Rm. Didik, CM akan koordinasi dengan operator pasukan katak marinir yang berangkat bersama tim relawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membawa perahu karet 5, yang 2 untuk Gereja. Plus bahan bakar / solar dan operator dari pasukan Katak, di bawah koordinasi Rm. Didik. Dibekali dana bahan bakar 2.500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info Posko dengan PSE Madiun, Pak Ilham 08123432109 dan Pak Hanny 03517807809.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 truk sembako, alat mandi, perlengkapan perempuan dll berangkat dari Don Bosco, Jl. Tidar berangkat menuju Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini 12 relawan dari STKIP Widya Yuwana dan Unika Wina, Madiun turun ke Cepu dan Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Bojonegoro lewat raya di Babat terhalang banjir. Bisa lewat jalan-jalan kampung. Neneknya yang terjebak di Bojonegoro bertahan, karena sudah ada pasokan makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi obat hipertensi, asthma, salep mikonazole (jamur) dan perlengkapan luka untuk Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAJ sudah mengirimkan bantuan ke rekening dana bencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan KAJ sudah mengirimkan bantuan ke rekening dana bencana Keuskupan. Perahu karet sudah berangkat menuju Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinasi wilayah Ngawi-Ponorogo oleh Tim Paroki Cornelius, Madiun, Rm. Yuni Wimarta, CM 08125983234. Rm. Eka telah mentransfer dana Rp. 5.000.000.&lt;br /&gt;Koordinasi wilayah Cepu-Bojonegoro oleh tim relawan Surabaya, Rm. Didik, CM 081331607608&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rm. Hardi memohon bantuan buku 2000 buah (perlengkapan sekolah) dan obat-obatan untuk Ponorogo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumberjo dan Geneng, Ngawi sudah surut. Banjir setinggi manusia sudah surut, tinggal lumpur. Bersama relawan membagikan beras, autan dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan, 12 relawan datang ke Ngawi membersihkan rumah yang terkena banjir dikoordinir oleh Fr. Joko dan Seksos paroki St. Yosef Ngawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan barang terus berdatangan dan para sukarelawan sedang mem-packing paket sembako.&lt;br /&gt;Tim relawan sudah sampai Kapas. Kontak person di Kapas, Pak Hardi 081553031779. Jika menuju Bojonegoro sesampai di Babat, harap ke arah Babat. Sesudah Yon Zipur belok kanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS: Truk sudah menuju Tuban, membawa 5 perahu karet, obat dll. Ada yang pakai alamat tujuan yang ditulis pengirimnya, yang lain dialamatkan ke Sr. Monika atau tanpa alamat. Semoga diterima korban sesuai kebijaksanaan setempat. Nama sopir truknya Muliyono 085640598826&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan Fax KWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data belum bisa diberikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirimkan peta bencana dan data dari Dinas Kesehatan Ngawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah menyelesaikan distribusi dan evaluasi. Data belum bisa diberikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyatakan penduduk kabupaten Bojonegoro semua menjadi korban sebanyak 1.300.000 jiwa. Yang Katolik 1.500 jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Selasa, 1/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memohon dana emergency ke PSE KWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memohon tenaga relawan. Yang bisa harap menghubungi Andri, 08113404116&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bojonegoro bisa diakses mudah. Mobil bisa masuk kota, air sudah surut. Namun ada kabar tanggul Gajah Mungkur dibuka lagi, karena Solo hujan deras. Jika demikian bisa banjir lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan posisi di Pos Kapas, di rumah Pak Hardi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan dari TV: banjir Bojonegoro parah, tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluncur kembali dari Gereja ke Kapas, karena isu banjir akan datang lagi. Malam, akan menjemput kiriman perahu karet di Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengabarkan sungai Bengawan Solo meluap lagi. Banyak warga stress. Warga di Ngawi banyak yang sakit dan Puskesmas mengalami overload pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memohon up load berita banjir ke milis berita_katolik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Sophie akan kontak Rm. Sigit untuk dana emergency&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan, sembako di Bojonegoro telah habis. Mohon diinformasikan ke jaringan PSE. Dan memohon ijin pembuatan perahu dari pipa peralon untuk distribusi bantuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan di Cepu masih ada beras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta hubungi Rm. Didik dan Bu Lily untuk pengadaan nanti diganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan situasi Bojonegoro ke milis PSE KAJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memohon nomer rekening Bencana Keuskupan Surabaya akan dikirim dana emergency Karina KWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSE Madiun memohon briket batubara karena kesulitan memasak, minyak tanah, arang dan kayu telah basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dikirim 5.000.000 lewat rekening Rm. Yuni Wimarta, CM telah habis dan pengeluarag telah mencapai 13.400.000. Hampir semua dana untuk wilayah Ngawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merespon situasi Bojonegoro. Akan mengirim sembako, beras dan perlengkapan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beli barang di Surabaya, Pasar Turi, Kapasan, Pasar Atom, semua tutup mencoba akan ke Alfa. Akan ikut ke Bojonegoro ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dengan Rm. Benny , Vikjen dan Sekertaris Uskup di Keuskupan. Mengambil barang ke Ursulin, Raya Darmo. Meluncur ke Bojonegoro dengan 4 relawan Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan lancar, sampai di Babat harus lewat lokasi lain karena banjir. Terus ke Kapas dijemput Fr Dadang sudah bisa masuk kota. Sepanjang jalan, penduduk membuat tenda, ternak naik ke pinggir jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;&lt;em&gt;Rabu, 2/1/08&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu mati, istirahat seadanya. Jam 2.15 kiriman perahu dari Jakarta dijemput Rm. Didik di Bulu, tiba di Bojonegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-Siang&lt;br /&gt;Makan pagi, dapur umum bekerja, relawan mulai survei, membagikan makan dan minum di posko paroki dan ke lokasi banjir. Perahu karet mulai dirakit dan membantu transportasi warga yang tertahan di atas rumah 3 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu karet SAR dan Marinir memunggut biaya. Di beberapa lokasi, banjir setinggi leher dan dada orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim relawan, dikoordinir Frater merekap hasil survei dan mengirim permintaan bahan makan dan minum ke lokasi, ada yang menggunakan perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim kesehatan dikoordinir Sr. Bertha dan dr Kristin beserta 3 dokter umum dan 2 dokter gigi, mengadakan pengobatan gratis di SDK di mana bertempat 250 pengungsi. Mereka melayani sejak jam 09.00-16.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapur umum membutuhkan makanan dan lauk pauk siap makan: abon, srundeng, sambel pecel, dendeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari, banjir di beberapa lokasi surut sekitar 10-15 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanyakan rekening bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentransfer dana emergency 50.000.000 dan mengirim utusan ke Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membahas kemungkinan ketemu dengan 4 koordinator lokasi bencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan survei, telah memberikan paket sembako kepada 830 kk. Kemungkinan ada total 500 kk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi di Ngawi sudah relatif baik berkat dukungan dari Paroki Cornelius. Dana dan sembako masih tersedia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi banjir sudah surut. Dana dan sembako masih tersedia. Pembagian makanan sudah berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Kamis, 3&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;/1/08&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;Memberikan data korban bencana banjir ke Vikjen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberitahukan nomer rekening Karina Keuskupan Surabaya belum bisa diwujudkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberangkatkan 1 truk bahan makanan, bantuan dll ke Bojonegoro dari Paroki HKY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSE Keuskupan Bandung membantu dana 20.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan via Ceacilia Jenny Rp. 2.650.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedalaman air di Jl. Panglima Sudirman Bojonegoro, surut menjadi setinggi pinggang orang dewasa. Listrik PLN sudah menyala, pada pukul 13.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan berangkat bersama relawan ke Bojonegoro jam 08.30, Jumat 4/1/08 membawa bantuan dari PSE, Ursulin, Paroki Ngagel dan Sidoarjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentransfer uang sejumlah Rp. 2.517.000,- ke rekening bantuan bencana BCA, bukti setor terlampir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan beras di Cepu menipis persediaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan Irwan Hidayat, PT. Sido Muncul akan mengirimkan bantuan 2 box ke Bojonegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanyakan posisi Gereja Bojonegoro dalam perjalanan di sekitar Cepu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan posisi Pak Irwan dan memohon Rm. Hersemedi bersiap menyambut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki di Keuskupan Bandung dikoordinir PSE Keuskupan Bandung mulai melakukan pengumpulan sembako&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyepakati jadwal dan pembicaraan awal untuk proposal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Jumat, 4/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberitahukan BCA, Darmo No. Rek: 0880203037 an. Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan Project Budget untuk bencana banjir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam kendaraan untuk operasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyumbang kolekte Misa Jumat pertama Plaza Kuningan 7.233.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim dana dari Pak Gwan Ang ke Ngawi 1.410.000. Dan sisanya serta dari Pak Wahjudi Rp. 3.000.000 ke Ponorogo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim bantuan untuk Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengontak sumbangan ke Budha Tzun Chi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi kirim bantuan Rp. 500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi mengirim 2 relawan dan membawa obat-obatan, beras dan mie ke Cepu. Besok akan ke Ponorogo mengirim obat, sarung dan biskuit. Memforward info ke jaringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan kemungkinan bantuan untuk 8 SD N. Dengan item buku dan alat tulis untuk sekitar 300 anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi dengan para relawan, koordinasi dengan PSE Madiun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan jumlah relawan tetap ada 20, selain itu ada 40 relawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan jumlah relawan sekitar 10 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan jumlah relawan 40. Perinciannya, 12 orang di dapur umum, 12 relawan dari Madiun dan tim inti 26 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan jumlah relawan Bojonegoro 22 orang, dikoordinir Fr. Anton; yang datang sejak 31/12/07, 14 orang dikoordinir Rm. Didik, CM dan relawan dari Malang 12 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 6 suster SSpS yang stand by di Cepu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan mengirimkan bantuan ke Cepu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan distribusi paket sembako tetap berjalan. 2/1/08 menyalurkan 155, 3/1/2008 menyalurkan 128 dan 4/1/2008 menyalurkan 151.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyaluran paket sembako sudah bergerak ke arah Mantingan dan Pitu.&lt;br /&gt;Telah ada rapat koordinasi dan pengumpulan informasi yang telah dilakukan, evaluasi dengan Rm. Fusi, Pr, perencanaan pasca banjir dan pengecekan barang dan uang untuk penentuan rencana ke depan.&lt;br /&gt;Ada informasi, 2 pintu Bendungan Gajah Mungkur dibuka. Kemungkinan efeknya sampai ke Ngawi, karena volume air sungai naik. Kenaikan air karena hujan tidak berhenti sejak kemarin sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Sabtu, 5/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneruskan pembuatan project budget&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengabarkan persediaan beras habis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menyepakati bantuan sebaiknya:&lt;br /&gt;-di tempat yang terkena banjir&lt;br /&gt;- kurang mampu&lt;br /&gt;- tidak disentuh bantuan lain&lt;br /&gt;- tidak dibantu pemerintah&lt;br /&gt;- tidak dibantu lembaga kemanusiaan lain&lt;br /&gt;- anak lebih dari 2&lt;br /&gt;- usahanya hancur&lt;br /&gt;- tidak memiliki rumah dan tanah&lt;br /&gt;- punya kartu identitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Relawan&lt;br /&gt;- Ngawi 26 relawan&lt;br /&gt;- Cepu 10 relawan&lt;br /&gt;- Bojonegoro 22 relawan&lt;br /&gt;- Ponorogo 20 relawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total 78 relawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jumlah Bantuan&lt;br /&gt;- Ngawi 500 kk&lt;br /&gt;- Cepu 600 kk&lt;br /&gt;- Jipang 80&lt;br /&gt;- Bojongro 780 kk&lt;br /&gt;- Ponorogo 520 (40 kk X&lt;br /&gt;13 RT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total 2480&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Data korban bencana / umat di masing-masing paroki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perlu diperjelas dan dianalisa, yang benar-benar masuk kategori sangat membutuhkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perlu diperjelas nama, lokasi / alamat, jumlah anggota keluarga, kategori (laki-laki / perempuan, anak / dewasa, SD / SMP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengabarkan kehabisan beras di Bojonegoro ke jaringan PSE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengabarkan kehabisan beras di Bojonegoro ke jaringan Karina KWI. Melaporkan beras untuk Bojonegoro dari Sido Muncul 3 ton datang 1 jam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya mengetahui&lt;br /&gt;1. Berapa jumlah umat di 4 paroki&lt;br /&gt;2. Berapa jumlah orang yang meninggal&lt;br /&gt;3. Resiko: yang negatif dan asumsi: yang positif&lt;br /&gt;4. Monitoring: proses mengetahui proyek sudah berjalan dengan semestinya; 5. Evaluasi: mendapatkan hikmah yang dapat diambil dari bencana (kegiatan, dampak dsb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengabarkan beberapa sumbangan beras sudah masuk ke Bojonegoro dan 3 ton dari Sido Muncul sudah masuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingatkan pentingnya komunikasi dengan paroki tentang rencana Karina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan:&lt;br /&gt;1. Beras di Bojonegoro sore melimpah karena datang bantuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Relawan di lapangan akan fokus pada pendataan. Sebenarnya sudah ditunjuk orang yang melakukan pendataan namun tidak berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Posko Bojonegoro merupakan posko bantuan terbesar selain PKS, Bupati terpilih dan Dompet Duafa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3/1/08, Malam, para guru Yayasan Yohanes Gabriel membantu memasak di dapur umum. Kiriman bantuan datang dari Semarang dan Sido Muncul berupa beras, mie instan, air mineral, sayuran dan jamu tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4/1/08, Tidak ada survei, distribusi bantuan ke tempat yang sudah di survei&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang tergenang air sudah mulai surut dan sudah mulai bisa dilewati. Warga yang rumahnya sudah tidak kebanjiran membersihkan rumah. Masyarakat banyak minta keperluan logistik, ke posko paroki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak bantuan dari Surabaya. Tenaga relawan yang baru 9 frater CM dan 3 mahasiswa. Rm. Didik datang mengadakan koordinasi lanjut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim dokter dari Yayasan Obor datang, mengadakan pengobatan gratis di depan gereja. Beberapa dokter diantar tim survei mengadakan pengobatan di lokasi yang sudah surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore, Rm Sabas, Pr dan rombongan mengunjungi posko, sepulang Cepu. Menginformasikan relawan dan bantuan di posko Cepu minim, Rm. Yitno harus membeli beras sebanyak 700 kg. Malam hari, teman-teman relawan menyiapkan bantuan ke posko Cepu, berupa beras, mie instan, makanan kering siap saji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan obat-obatan untuk pengungsi di SDK St. Paulus sangat mendesak. Pengungsi menderita gatal, sakit perut, tensi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5/1/2008, aktivitas posko sangat padat. Banyak pengungsi datang ke Gereja meminta bantuan, bukan hanya umat. Stok beras di posko sudah habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Minggu, 6/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan permohonan pertolongan. Di desa Mojoagung, Kecamatan Laren, Lamongan, ada 462 KK. Sudah seminggu listrik mati, tidak ada dapur umum, butuh beras dan minyak tanah. Kontak person: Bp. Farhan 081585597958&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak Pak Farhan, membenarkan banjir setinggi rumah, mendesak dikirim bantuan terutama sembako dan minyak tanah. Jalan menuju posisi Pak Farhan: dari Surabaya menuju Lamongan, sebelum Babat ada Kecamatan Pucuk. Sesampai pasar Pucuk, belok kiri sejauh sekitar 12 Km akan sampai di desa Mojoagung dan bisa kontak ke Hp Pak Farhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi Bojonegoro telah menerima beras dari Sido Muncul 3 ton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyampaikan ucapan terima kasih by sms ke Bp. Irwan Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirimkan permohonan akurasi data, pemberitahuan bantuan Karina ke 4 Pastor Kepala Paroki, Dewan Paroki dan Seksi Sosial Paroki. Tembusan ke Vikjen, Vikep III dan IV, Koordinator PSE Vikep III dan IV, via email yang sifatnya urgent&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan telah sampai di Jakarta dengan selamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak dengan ibu Sophie tentang kemungkinan Laren, Lamongan masuk dalam proposal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengedarkan no. rekening atas nama Keuskupan Surabaya ke potensial donatur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan Laren, Lamongan banyak anak jatuh sakit dan tidak ada Puskesmas. Dan ada rekanan yang akan membantu satu-dua hari saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyampaikan syarat peminjaman perahu karet ke Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Senin, 7/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distribusi sumbangan intensio dantis ke Ponorogo via rekening Rm. Agustinus Supriyadi 4.410.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Fax Karina 021 31931135; Telepon 021 31930518&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan kebutuhan beras di Ponorogo, ialah sembako, gula dan minyak goreng. Karena Posko Gereja melayani makan untuk 7 RT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki Redemptor Mundi akan membantu ke Ponorogo 10 atau 11 Jan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini mengirimkan bantuan ke Ponorogo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Info ke koordinator bencana 4 Paroki untuk meneruskan tahap emergency dan memperjelas data orang yang akan diberi paket sumbangan dari Karina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menginformasikan kondisi di Laren, Lamongan ke Obor Berkat Indonesia (tim dokter dari Jakarta yang fokus ke medical response) dan Rm. Didik, Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memasukkan data jumlah total umat paroki ke Karina KWI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ponorogo 3.467 jiwa&lt;br /&gt;- Cepu 2.026&lt;br /&gt;- Ngawi 4.061&lt;br /&gt;- Bojonegoro 1925&lt;br /&gt;- Gresik 1376&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menentukan kunjungan koordinasi PSE ke 4 Paroki bencana banjir, sekaligus untuk menginput data jumlah penerima bantuan Karina KWI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekertaris dan Bp. Andreas Suparman akan berkoordinasi dengan 4 Paroki, Ketua akan berkoordinasi dengan Karina KWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyampaikan sumbangan obat-obatan via Sr. Yovita PK, Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan hasil rapat, relawan akan dikoordinir Rm. Wawan dan Indro akan mensurvei ke Laren, Lamongan Rabu pagi, Rabu malam akan rapat di Paroki Kepanjen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Budha Tzun Chi Surabaya telah berada di Bojonegoro, sejak Rabu. Jika ada yang membutuhkan bantuan bisa mengontak perwakilan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budha Tzun Chi, Jakarta telah mengirim bantuan dana via Ibu Conny, Surabaya untuk Bojonegoro. Rabu lalu telah mengirim beras 500 kg dan obat-obatan. Kamis akan mengirimkan seragam sekolah, alat-alat dapur, seragam sekolah, alat-alat dapur, sabun dan baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengabarkan penanganan Karina akan fokus pada 4 Paroki, karena alasan jalur Seksos yang akan dilibatkan. Laren-Lamongan akan diatasi oleh dikoordinasi Rm. Didik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #3366ff;"&gt;Selasa, 8/1/08&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menginformasikan mambantu Laren, Lamongan sebagai ungkapan koordinasi dengan keuskupan lokal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon konfirmasi telah mengirim dana 1.700.000 ke rekening bencana Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan situasi Bojonegoro sudah baik. Pukul 16.00 pengobatan sudah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meyakinkan akan menurunkan bantuan untuk Laren, Lamongan. Koordinasi di Pastoran Kepanjen, 9/1/2008 jam 20.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan situasi Bojonegoro via email. Tentang barang masuk dan keluar di Posko serta warga penerima bantuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan mengirim bantuan alat tulis dan seragam sekolah ke Ponorogo tanggal 17/1/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan melaporkan data Ponorogo dan Ngawi, dari Ngawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaporkan pertemuan PSE dengan Posko Ngawi dan Madiun: mendengarkan proses dinamika tiap posko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahap emergency, posko masih bisa berjalan, entah nanti pasca Januari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran PSE memberi penegasan jalur posko paroki dengan PSE-APP&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-8966301598690163186?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/8966301598690163186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/8966301598690163186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/01/laporan-penanganan-dan-perkembangan.html' title='Laporan Penanganan Dan Perkembangan Bencana Banjir, 26 Des 2007 - 8 Jan 2008'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-5658856753689526525</id><published>2008-01-07T12:01:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:46:26.141-07:00</updated><title type='text'>Koordinasi Bantuan Korban Bencana Banjir Di 4 Paroki</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;No : /PSE/XII/07&lt;br /&gt;Hal : Koordinasi Bantuan Korban Banjir di Ponorogo, Cepu dan Ngawi&lt;br /&gt;Lamp :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada&lt;br /&gt;YTH: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Para Pastor Kepala Paroki&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Para Sosiawan Yang Budiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hormat,&lt;br /&gt;Bersama ini akan kami sampaikan situasi bencana yang melanda 4 paroki di wilayah Keuskupan Surabaya. Yaitu: Paroki St. Maria, Ponorogo, Paroki St. Willibrordus, Cepu, Paroki St. Paulus, Bojonegoro dan Paroki St. Yoseph, Ngawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki St. Maria, Ponorogo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu 26/12/2007, sekitar pukul 12.15, Romo Fusi Nusantoro, Pr (Ketua Komisi PSE Regio III dan Pastor Pembantu Paroki St. Maria, Ponorogo) menginformasikan lewat sms, situasi banjir yang melanda kota Ponorogo dan sekitarnya, pasca hujan selama 24 jam, pada hari Selasa-Rabu, tanggal 25-26 Desember 2007. Sampai pukul 14.00, kondisi SMPK dan Gereja Katolik St. Maria, keduanya terletak di Jl. Gajah Mada halamannya tergenang air. Sementara itu, ada 30 jiwa pengungsi di SMPK, 15 jiwa pengungsi di Gereja dan 100 jiwa di SDK St. Maria. Mereka adalah penduduk kota Ponorogo yang rumahnya terimbas banjir. Pada pukul 17.01, Rm. Fusi Nusantara, Pr menginformasikan kebutuhan yang mendesak adalah bahan makan atau sembako. Paroki St. Maria, Ponorogo telah membagikan 700 nasi bungkus, hari ini (Rabu, 26/12/07). Daerah yang terendam banjir meliputi daerah barat alun-alun Ponorogo, serta Stasi Carangrejo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu malam, PSE Keuskupan Surabaya dan Seksi Sosial Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo telah mengirimkan bantuan sembako dan dana Rp. 2.500.000,- untuk tanggap darurat. Kamis 27/12/2007, situasi Ponorogo dan sekitarnya tidak lagi hujan dan banjir perlahan-lahan mulai surut. Kontak Paroki St. Maria, Ponorogo: 0352 481184.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki St. Willibrordus, Cepu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis 27/12/2007, pada pukul 11.32, Romo Siprianus Yitno, Pr (Ketua Komisi PSE Regio IV dan Pastor Kepala Paroki St. Willibrordus, Cepu) menginformasikan lewat sms, situasi banjir yang melanda wilayahnya karena luapan sungai Bengawan Solo. Halaman Gereja Paroki dipakai mengungsi oleh masyarakat sekitar. Yang paling parah ialah Stasi St. Petrus Jipang, stasi dengan jumlah umat 90 kk, terendam banjir. Akses menuju stasi melalui jalan raya juga terendam air, mobil pengangkut bantuan tidak dapat menjangkau lokasi. Sangat dibutuhkan perahu karet untuk mengangkut / mengevakuasi korban yang terpaksa bertahan di atas rumah. Selain itu sangat dibutuhkan makanan siap saji / nasi bungkus dan air minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis siang, PSE Keuskupan Surabaya mengirimkan bantuan sembako dan dana Rp. 2.500.000,- untuk tanggap darurat. Kamis malam, Paroki St. Vincentius, Surabaya konfirmasi akan mengirimkan sembako yang akan diserahkan tanggal 31 Desember 2007. Kontak Paroki St. Willibrordus, Cepu: 0296 421395.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki St. Yoseph, Ngawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis 27/12/2007, pada pukul 13.55, Bapak Bambang Gunadi RN (Seksos Paroki St. Yoseph, Ngawi) menginformasikan melalui sms, situasi kota Ngawi yang terkepung banjir dari arah Barat, Utara dan Selatan. Yang paling parah di Stasi St. Paulus, Kwadungan, dengan jumlah umat sekitar 60 kk. Akses menuju stasi melalui jalan raya terendam air, mobil yang akan mengevakuasi korban dan pengangkut bantuan tidak dapat menjangkau lokasi. Jumat, 28/12/2007, PSE Keuskupan Surabaya mengirimkan dana sebesar 2.500.000 untuk tanggap darurat. Kontak Paroki St. Yoseph, Ngawi: 0351 749153&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki St. Paulus, Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir masuk kota setinggi 1 meter. Pengiriman sembako ke seberang sungai yang terisolir dilakukan Sr. Bertha, PK menggunakan perahu warga. Umat Paroki membuat nasi bungkus. Banjir hari ini semakin parah. Bantuan sembako tidak bisa masuk kota. Jalan ke Bojonegoro putus. Dapur umum Gereja ditinggalkan orang karena mengurus rumah sendiri-sendiri. Jaringan telepon putus, listrik mati. Pemda tidak melakukan koordinasi, mungkin karena Bupati sekarang, kemarin kalah dalam Pilkada. Perahu karet lalu-lalang tetapi tidak merata evakuasinya. Ketua Depar bersama Lions Club yang hendak menjangkau lokasi membawa sembako, dijarah sebelum sampai. Banyak yang membutuhkan makan tetapi distribusi tak merata. Kontak Paroki St. Paulus, Bojonegoro 0353881160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bahan makanan, beras, roti, mie instant, lauk pauk: tempe, telur asin, krupuk, peyek&lt;br /&gt;2. Obat-obatan: obat hipertensi, asthma, salep mikonazole (jamur) dan obat luka&lt;br /&gt;3. Peralatan mandi: sabun, odol, handuk, shampo&lt;br /&gt;4. Perlengkapan perempuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pemberitahuan ini. Jika hendak mengirimkan bantuan berupa dana dapat ditransfer melalui rekening APP Keuskupan Surabaya: BCA, Cabang Diponegoro, 2581542111 an. Petrus Canisius Edi L / Agustinus Eka Winarna, Pr. Atas perhatiannya, kami mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya , 27 Desember 2007&lt;br /&gt;Hormat kami,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Komisi PSE Keuskupan Surabaya &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-5658856753689526525?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5658856753689526525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/5658856753689526525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2008/01/koordinasi-bantuan-korban-bencana.html' title='Koordinasi Bantuan Korban Bencana Banjir Di 4 Paroki'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-7476421894055699272</id><published>2007-11-24T09:06:00.000-08:00</published><updated>2011-06-13T15:47:13.282-07:00</updated><title type='text'>Koordinasi Bantuan Korban Bencana Gunung Kelud</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Nomor : /PSE-P3SE/X/07&lt;br /&gt;Lampiran : -&lt;br /&gt;Perihal : Koordinasi Bantuan Korban Bencana Gunung Kelud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada&lt;br /&gt;YTH: Para Donatur&lt;br /&gt;Peduli Bencana Gunung Kelud&lt;br /&gt;Di Tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hormat,&lt;br /&gt;Dengan ini kami memberitahukan, koordinasi bantuan korban bencana Gunung Kelud, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penanganan bencana dikoordinir oleh Keuskupan Surabaya. Dalam hal teknis ditangani oleh Komisi PSE Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berdasarkan survei Komisi PSE Keuskupan Surabaya, Rm. PC. Edi Laksito, Pr (Vikjen Keuskupan Surabaya) dan Rm. Soni Apri, Pr ke lokasi rawan bencana di wilayah Puncu, Pare, Wates dan Margomulyo, Kediri pada tanggal 9 Oktober 2007 diputuskan bahwa Keuskupan Surabaya menetapkan 2 Posko, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Posko Paroki St. Matius&lt;br /&gt;Jl. Letjen Sutoyo No. 78&lt;br /&gt;Pare - Telp. 0354 391188&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Posko Paroki St. Yusup&lt;br /&gt;Jl. Diponegoro 42&lt;br /&gt;Blitar – Telp. 0342 801624&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bentuk bantuan yang diharapkan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Bantuan berupa barang:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Air mineral dalam kemasan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Obat tetes mata&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Sembako&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Tenda&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Biskuit &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Senter&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Mie instant &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Lampu badai / petromaks&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Obat gosok &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Tikar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Pembalut wanita &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Obat kulit dan ISPA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bantuan berupa dana:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Rekening BCA, No. 2581542111&lt;br /&gt;atas nama Petrus Canisius Edi L / Agustinus Eka Winarno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kontak person untuk koordinasi bantuan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sekertariat Komisi PSE, Keuskupan Surabaya 031-5616042&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Demikianlah pemberitahuan ini. Kami mengharapkan semua paroki dapat memberikan bantuan apabila benar-benar terjadi letusan Gunung Kelud. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 25 Oktober 2007&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hormat kami,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Komisi PSE Keuskupan Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-7476421894055699272?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/7476421894055699272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/7476421894055699272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2007/11/koordinasi-bantuan-korban-bencana.html' title='Koordinasi Bantuan Korban Bencana Gunung Kelud'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-725377712757816294.post-1477934034719141839</id><published>2007-11-21T04:09:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:45:58.693-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R0QgFPXbtgI/AAAAAAAAAHU/3-kInmbr2Gs/s1600-h/bersatu+saling+membantu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135264749505459714" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R0QgFPXbtgI/AAAAAAAAAHU/3-kInmbr2Gs/s320/bersatu+saling+membantu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/725377712757816294-1477934034719141839?l=pseks-bencana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1477934034719141839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/725377712757816294/posts/default/1477934034719141839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-bencana.blogspot.com/2007/11/blog-post.html' title=''/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R0QgFPXbtgI/AAAAAAAAAHU/3-kInmbr2Gs/s72-c/bersatu+saling+membantu.jpg' height='72' width='72'/></entry></feed>
